Malang Catat Inflasi Tertinggi Kedua di Jatim, Ayam dan Emas Jadi Biang Kerok
Rabu, 01 Okt 2025, 16:45 WIBMALANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat terjadinya inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,39 persen pada September 2025. Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan hingga emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi di wilayah tersebut.
Kepala BPS Kota Malang Umar Sjaifudin mengatakan harga daging ayam ras mengalami inflasi cukup tinggi mencapai 10,66 persen dengan andil 0,15 persen terhadap inflasi. Sementara itu, emas perhiasan tercatat naik 7,48 persen dengan andil 0,13 persen.
âDaging ayam ras mengalami penipisan stok di level pedagang eceran sehingga memicu lonjakan harga signifikan. Untuk emas, kenaikan harga terjadi konsisten hingga akhir September 2025,â kata Umar di Malang, Jawa Timur, Rabu.
Selain dua komoditas utama tersebut, sejumlah barang lainnya juga memberi andil terhadap inflasi. Harga beras naik 0,66 persen dengan andil 0,03 persen, sigaret kretek mesin (SKM) naik 1,16 persen dengan andil 0,02 persen, serta jeruk yang melonjak 7,7 persen dengan andil 0,02 persen. Tarif ojek daring roda dua juga meningkat 7,16 persen dan menyumbang 0,02 persen terhadap inflasi bulanan.
Komoditas hortikultura turut memicu inflasi di Kota Malang. Cabai merah naik 8,81 persen, cabai rawit 6,18 persen, buncis melonjak hingga 33,06 persen, dan kentang naik 4,65 persen. Masing-masing memberi andil 0,01 persen terhadap inflasi pada September 2025.
Umar menjelaskan, inflasi bulanan Malang sebesar 0,39 persen ini tercatat lebih tinggi dibandingkan inflasi Provinsi Jawa Timur yang hanya 0,23 persen serta inflasi nasional sebesar 0,21 persen. Dengan catatan tersebut, Malang menempati posisi kedua inflasi tertinggi di Jawa Timur, di bawah Kabupaten Sumenep yang mencapai 0,41 persen.
Secara akumulatif, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) Kota Malang dari Januari hingga September 2025 tercatat 1,76 persen. Sementara inflasi tahunan (year-on-year/yoy) September 2025 terhadap September 2024 berada di level 2,67 persen.
âDengan berbagai kenaikan harga ini, kita bisa melihat bahwa inflasi Kota Malang memang cukup tertekan, terutama karena faktor pasokan dan konsumsi masyarakat,â ujar Umar.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dinamika harga pangan strategis dan komoditas nonpangan seperti emas serta jasa transportasi masih menjadi tantangan pengendalian inflasi di Kota Malang.
- jatim
- inflasi
- kota malang
- emas
- ayam
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Alfred, Antara
Berita Terkait:
-
Terminal Penajam Bukan Sekadar Tempat Singgah, Tapi Ladang Rezeki Warga
-
Pondok Gontor Tetapkan Idul Fitri Jatuh Besok Jumat 20 Maret
-
Allianz Life dan HSBC Hadirkan Sub-Dana Baru dengan Dividen Bulanan
-
Aparat Gabungan Gagalkan Penyelundupan 104.000 Benih Bening Lobster
-
Kasus Pencabulan di Ponpes Lombok Tengah: Modus Tersangka MTF dan Barang Bukti yang Diamankan
-
BPS DKI Sebut Inflasi Bulanan Pada Lebaran Cenderung Tinggi
-
Dirut Bulog Katakan Potensi Pasar Beras RI di Arab Saudi Cukup Besar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.