Populasi Tiongkok Menurun Selama 4 Tahun Berturut-Turut

Selasa, 20 Jan 2026, 00:09 WIB

BEIJING - Populasi Tiongkok menurun untuk tahun keempat berturut-turut pada tahun 2025, seiring dengan anjloknya angka kelahiran ke rekor terendah, menurut data resmi yang dirilis pada Senin (19/1), dan para ahli memperingatkan akan adanya penurunan lebih lanjut.

Populasi negara itu turun sebanyak 3,39 juta menjadi 1,405 miliar, penurunan yang lebih cepat dibandingkan tahun 2024, sementara jumlah total kelahiran turun menjadi 7,92 juta pada tahun 2025, turun 17 persen dari 9,54 juta pada tahun 2024. Jumlah kematian meningkat menjadi 11,31 juta dari 10,93 juta pada tahun 2024, menurut data dari Biro Statistik Nasional Tiongkok (NBS). Angka kelahiran di Tiongkok turun menjadi 5,63 per 1.000 orang.

Ket. Foto: — Sumber: AFP/GOH Chai Hin

“Angka kelahiran pada tahun 2025 kira-kira sama dengan angka kelahiran pada tahun 1738, ketika populasi Tiongkok hanya sekitar 150 juta jiwa," kata Yi Fuxian, seorang ahli demografi di Universitas Wisconsin-Madison.

Angka kematian akibat COVID-19 di Tiongkok pada tahun 2025 sebesar 8,04 per 1.000 orang merupakan yang tertinggi sejak tahun 1968.

Populasi Tiongkok telah menyusut sejak tahun 2022 dan menua dengan cepat, sehingga mempersulit rencana Beijing untuk meningkatkan konsumsi domestik dan mengendalikan utang.

Data NBS menunjukkan bahwa jumlah orang berusia di atas 60 tahun mencapai sekitar 23 persen dari total populasi.

Pada tahun 2035, jumlah penduduk berusia di atas 60 tahun diperkirakan akan mencapai 400 juta jiwa - kira-kira sama dengan gabungan populasi Amerika Serikat dan Italia - yang berarti ratusan juta orang akan meninggalkan angkatan kerja pada saat anggaran pensiun sudah sangat terbatas.

Tiongkok telah menaikkan usia pensiun, dengan pria sekarang diharapkan bekerja hingga usia 63 tahun, bukan 60 tahun, dan perempuan hingga usia 58 tahun, bukan 55 tahun.

Sementara itu jumlah pernikahan di Tiongkok anjlok seperlima pada tahun 2024, penurunan terbesar yang pernah tercatat, dengan lebih dari 6,1 juta pasangan yang mendaftar untuk menikah, turun dari 7,68 juta pada tahun 2023.

Pernikahan biasanya menjadi indikator utama angka kelahiran di Tiongkok.

Para ahli demografi mengatakan bahwa keputusan pada Mei 2025 untuk mengizinkan pasangan menikah di mana saja di negara itu, bukan hanya di tempat tinggal mereka, kemungkinan akan menyebabkan peningkatan sementara dalam angka kelahiran.

Jumlah pernikahan meningkat 22,5 persen dari tahun sebelumnya menjadi 1,61 juta pada kuartal ketiga tahun 2025, menempatkan Tiongkok pada jalur untuk menghentikan penurunan tahunan pernikahan yang berlangsung hampir satu dekade. Data lengkap untuk tahun 2025 akan dirilis akhir tahun ini.

Pihak berwenang juga berupaya mempromosikan pandangan positif tentang pernikahan dan melahirkan anak seiring upaya mereka untuk menghilangkan pengaruh kebijakan satu anak yang berlaku dari tahun 1980 hingga 2015, yang membantu mengatasi kemiskinan, tetapi juga membentuk kembali keluarga dan masyarakat Tiongkok.

Isu Kunci

Pergerakan penduduk telah memperburuk tantangan demografis dengan banyaknya orang yang pindah dari pertanian pedesaan ke kota, di mana memiliki anak lebih mahal.

Data menunjukkan bahwa tingkat urbanisasi Tiongkok mencapai 68 persen pada tahun 2025, meningkat dari sekitar 43 persen pada tahun 2005.

Para pembuat kebijakan telah menjadikan perencanaan populasi sebagai bagian penting dari strategi ekonomi negara, dan tahun ini Beijing menghadapi potensi biaya total sekitar 180 miliar yuan (US$25,8 miliar) untuk meningkatkan angka kelahiran.

Biaya utama meliputi subsidi anak nasional, yang diperkenalkan untuk pertama kalinya tahun lalu, serta janji bahwa perempuan selama kehamilan tidak akan mengeluarkan biaya sendiri pada tahun 2026, dengan semua biaya medis, termasuk fertilisasi in vitro (IVF), sepenuhnya dapat diganti di bawah dana asuransi kesehatan nasional.

Tiongkok sendiri memiliki salah satu tingkat kesuburan terendah di dunia, yaitu sekitar 1 kelahiran per perempuan, jauh di bawah angka penggantian populasi sebesar 2,1. Negara-negara ekonomi Asia timur lainnya, termasuk Taiwan, Korea Selatan, dan Singapura, juga memiliki tingkat kesuburan yang rendah, yaitu sekitar 1,1 kelahiran per perempuan.

Jumlah perempuan usia reproduktif di Tiongkok, yang didefinisikan oleh PBB sebagai perempuan berusia 15 hingga 49 tahun, diperkirakan akan menurun lebih dari dua pertiga menjadi kurang dari 100 juta pada akhir abad ini. ils/CNA/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Berbagai Sumber, Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.