Aitok Disiapkan Jadi Kampung Wisata Andalan Jayawijaya

Minggu, 18 Jan 2026, 23:20 WIB

WAMENA – Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, mendorong pengembangan Kampung Wisata Aitok di Distrik Wolo sebagai upaya memperkuat ekonomi lokal berbasis potensi alam dan budaya.

Langkah ini diarahkan untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru di luar sektor tradisional, sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam aktivitas pariwisata.

Ket. Foto: Bupati Jayawijaya Atenius Murib berfoto dengan latar belakang wisata alam air terjun Kampung Aitok, Distrik Wolo, Kabupaten Jayawijaya. — Sumber: ANTARA/ HO-Humas Pemkab Jayawijaya.

Dengan pengelolaan yang terarah, Kampung Wisata Aitok diharapkan mampu mendorong pemerataan ekonomi dan memperkuat identitas daerah sebagai destinasi wisata berkelanjutan.

Bupati Kabupaten Jayawijaya, Atenius Murip didampingi Ketua TP PKK Kabupaten JayawijayaIdawati Waromi, Dandim 1702/Jayawijaya Letkol Inf Ilham Datu Ramang, Kepala UPBU Kelas I Wamena Fitrajaya Siwu meninjau potensi wisata alam air terjun serta melakukan penanaman kopi di Kampung Aitok, Distrik Wolo, Kabupaten Jayawijaya.

Atenius Murib dalam keterangan tertulis di Wamena, Minggu (18/1), mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mendorong pengembangan ekonomi masyarakat melalui UMKM, pariwisata dan pertanian berkelanjutan.

“Di lembah-lembah pegunungan ini tempatnya eksotik, pemandangannya indah sekali. Sekarang tergantung penghuni tempat-tempat itu mau diapakan, mau dikembangkan sebagai tempat wisata atau tidak, itu tergantung kita yang ada (bagaimana dapat mendorong),” katanya.

Menurut dia, Kampung Aitok sebelumnya dipersepsikan sebagai wilayah yang sulit dikembangkan karena kondisi alamnya yang kering dan dianggap tidak dapat diubah. Namun, melalui inisiatif dan kreativitas pemilik lahan serta masyarakat setempat, kawasan tersebut kini mulai menunjukkan potensi wisata yang menjanjikan.

“Hari ini (Minggu) kita melihat Kampung Wisata Aitok. Dalam bahasa daerah, Aitok itu daerah yang tidak bisa dikembangkan, tapi pemilik tempat bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang menarik, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi masyarakat dan siapa saja yang datang menikmati alam,” ujarnya.

Dia menjelaskan, perubahan tersebut terlihat dari pemanfaatan lahan yang sebelumnya kering menjadi kolam ikan, kebun kopi, area wisata serta keberadaan air terjun yang eksotis.

“Ternyata di situ bisa jadi kolam ikan, ada tempat wisata, pemandangan yang indah, kebun yang tidak hanya ubi tapi juga bisa tanam kopi. Di samping itu ada air terjun yang eksotis yang bisa kita kunjungi,” katanya.

Dia menambahkan, kunci utama pengembangan adalah kemauan untuk berbuat terlebih dahulu, bukan menunggu bantuan dari pemerintah.

“Jangan menunggu bantuan proposal dari pemerintah. Ketika ada keinginan dan aksi nyata, pemerintah akan datang melihat dan melakukan pendampingan sesuai kemampuan yang ada,” ujarnya.

Dia mencontohkan, beberapa kelompok masyarakat di Distrik Wolo yang sebelumnya berinisiatif mengembangkan wisata alam secara mandiri. Setelah melihat hasil nyata, pemerintah kemudian memberikan bantuan sebagai bentuk respons dan dukungan.

“Karena kita lihat ada aksi, ada hasil, maka kita beri bantuan. Pengembangan itu dimulai dari kemampuan diri sendiri, lalu pemerintah hadir membantu apa yang bisa dibantu, seperti listrik dan air,” katanya.

  • Kampung Wisata Aitok

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.