Warga Temanggung Gelar Nyadran untuk Melestarikan Tradisi

Jumat, 16 Jan 2026, 18:35 WIB

TEMANGGUNG – Kebajikan lokal harus terus dilestarikan seperti tradisi nyadran yang dilakukan warga Temanggung. Masyarakat dengan keyakinan yang berbeda-beda di Dusun Krecek dan Gletuk Desa Getas, Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah melakukan Nyadran Perdamaian di Pemakaman Gletuk, Temanggung.

Bupati Temanggung Agus Setyawan di Temanggung, Jumat, menyampaikan banyak desa di Kabupaten Temanggung, khususnya di Dusun Krecek dan Gletuk Desa Getas, menggelar acara nyadran sebagai ajang untuk silaturahim antara manusia.

Pada tradisi nyadran tersebut, masyarakat membawa berbagai makanan yang dibawa dengan tenong ke pemakaman kemudian dimakan bersama-sama. Di Dusun Krecek dan Gletuk tradisi ini dijalankan secara lintas iman dengan melibatkan pemeluk agama Islam, Buddha, dan Kristen.

"Masyarakat yang hadir di sini dari berbagai macam keyakinan yang mereka anut bersatu di tempat ini. Kegiatan seperti ini merupakan salah satu bentuk wujud masyarakat desa di Kabupaten Temanggung secara umum, khususnya di Desa Getas selalu menjalin hubungan silaturahim meskipun berbeda keyakinan," katanya.

Ia menuturkan, pastinya perdamaian ini tidak hanya perdamaian antarmanusia, tetapi bagaimana caranya manusia bisa selalu berdamai dengan alam.

Ia menyampaikan, di samping hari ini nyadran mendekati bulan puasa bagi umat muslim, tetapi juga nyadran perdamaian berdampingan dengan alam, dengan menanam pohon yang tadi sudah dilakukan oleh masyarakat Dusun Krecek dan Gletuk di Desa Getas.

Menurut dia, kegiatan ini cukup istimewa karena mereka membawa makanan ke lokasi nyadran tidak dimakan sendiri, tetapi makanan itu dicampur menjadi satu dan semua bebas untuk mengambil.

"Ini adalah bentuk wujud persaudaraan di antara mereka, mereka tetap bareng-bareng dan saling menjaga, budaya seperti ini harus terus kita pertahankan dan junjung tinggi. Budaya positif menyatukan manusia dengan alam," katanya.

Hari Desa Nasional

Ket. Foto: melestarikan tradisi — Sumber: ist

Selain itu, Bupati Temanggung Agus Setyawan mengajak seluruh lapisan masyarakat menjadikan peringatan Hari Desa Nasional pada 2026 sebagai sarana memperkuat semangat mewujudkan desa semakin mandiri dan berdaya.

"Di dalamnya terdapat nilai-nilai gotong royong, toleransi, hingga saling asah asih asuh yang menjadi fondasi sosial selama berabad-abad perjalanan bangsa ini," katanya di Temanggung, Kamis.

Ia mengatakan peradaban desa sejatinya telah berdiri kokoh dan menjadi fondasi atas berdirinya bumi nusantara atau jauh sebelum Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Ia mengatakan desa merupakan madrasah demokrasi yang sesungguhnya.

Hal ini, katanya, mengingat sebelum istilah demokrasi modern dikenal luas, demokrasi telah lahir di tingkat desa.

Ia menjelaskan bahwa kala itu, masyarakat telah terlebih dahulu memilih pemimpin mereka dengan cara demokratis, yakni satu orang satu suara.

Alhasil, kata dia, dari metode pemilihan tersebut telah banyak lahir pemimpin-pemimpin di tingkat desa yang mempunyai dedikasi dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

"Pemimpin tingkat desa terpilih adalah mereka yang bisa mengayomi, melayani, dan pasti bisa menjadi suri teladan di tingkat masyarakat," katanya.

Ia menjelaskan kehadiran Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa bukan sekadar aturan, akan tetapi bukti pengakuan negara dalam memberikan kepastian hukum serta memposisikan desa bukan lagi sebagai pinggiran, melainkan garda terdepan pembangunan nasional.

"Pembangunan nasional dimulai dari wilayah desa sebagai garda terdepan sehingga kekuatan bangsa ini dimulai dari bagaimana ketangguhan desa itu sendiri," katanya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.