96% Perusahaan di ASEAN+ Akan Tingkatkan Investasi AI hingga 15% pada 2026
Selasa, 13 Jan 2026, 18:37 WIBJAKARTA â Perusahaan di kawasan Asia-Pasifik semakin mempercepat peralihan dari uji coba kecerdasan buatan (AI) ke penerapan nyata. Berdasarkan edisi keempat Lenovo CIO Playbook 2026: The Race for Enterprise AI yang dikembangkan Lenovo dengan insight riset dari IDC, sebanyak 96 persen organisasi berencana meningkatkan investasi AI dalam 12 bulan ke depan.
Secara rata-rata, organisasi memperkirakan belanja AI akan tumbuh 15 persen, mencakup GenAI dan Agentic AI, layanan AI berbasis cloud publik, infrastruktur AI on-premise, serta solusi keamanan AI.
Kawasan ASEAN+ menunjukkan momentum serupa, dengan 96 persen organisasi juga berencana meningkatkan investasi AI. Hal ini mempertegas peran AI sebagai pendorong utama pertumbuhan dan daya saing perusahaan di kawasan tersebut.
âKetika 96 persen organisasi merencanakan peningkatan rata-rata investasi AI sebesar 15 persen, hal ini menunjukkan bahwa keputusan terkait AI kini telah menjadi inti dari strategi perusahaan,â ujar Sumir Bhatia, President Asia Pacific ISG Lenovo, melalui siaran pers, Selasa (13/1).
âFaktor pembeda terletak pada seberapa efektif organisasi mengintegrasikan AI ke dalam infrastruktur, operasional, dan keamanan, sehingga nilainya terus berlipat ganda seiring waktu,â imbuhnya.
Seiring semakin melekatnya AI dalam strategi perusahaan, upaya mendorong pertumbuhan pendapatan, meningkatkan profitabilitas, serta memperkuat pengalaman bisnis dan pelanggan muncul sebagai tiga prioritas bisnis utama bagi para CIO di Asia-Pasifik.
Dari Validasi ROI Menuju AI Berbasis Hasil
Melanjutkan fokus AI-nomics tahun lalu pada validasi nilai dan studi kasus bisnis, Playbook 2026 menyoroti pergeseran tegas menuju adopsi AI berbasis hasil nyata (outcomes-led AI). Para CIO tetap percaya pada nilai AI, namun kini menerapkan disiplin yang lebih ketat untuk memastikan investasi tersebut menghasilkan dampak yang berkelanjutan.
Sebanyak 88 persen organisasi di Asia-Pasifik mengharapkan ROI positif dari AI pada 2026, dengan proyeksi rata-rata pengembalian investasi sebesar 2,8 kali lipat atau US$2,85 untuk setiap US$1 yang diinvestasikan. Namun, memperluas skala AI melampaui tahap uji coba masih menjadi tantangan utama, sehingga menegaskan pentingnya tata kelola, model operasional, serta manajemen siklus hidup AI.
Adopsi AI Meluas Melampaui Departemen IT
Adopsi AI di Asia-Pasifik terus dipercepat dan tidak lagi terbatas pada departemen IT. Sebanyak 66 persen organisasi telah melakukan uji coba atau mengadopsi AI secara sistematis, sementara 15 persen masih berada pada tahap awal dan 19 persen lainnya tengah mempertimbangkan adopsi.
Di kawasan ASEAN+, polanya serupa. Sebanyak 67 persen organisasi telah melakukan uji coba atau mengadopsi AI secara sistematis, 15 persen berada pada tahap awal, dan 18 persen lainnya masih mengevaluasi adopsi.
AI kini semakin banyak diterapkan di berbagai fungsi bisnis, seperti layanan pelanggan, pemasaran, operasional, keuangan, serta lini bisnis spesifik industri lainnya. Kondisi ini mengubah cara perusahaan beroperasi dan bersaing. Menariknya, setengah dari organisasi yang disurvei melaporkan bahwa departemen non-IT kini turut mendanai inisiatif AI, yang sekaligus menguatkan peran CIO sebagai penggerak strategis lintas organisasi.
Agentic AI Muncul sebagai Peluang Baru
Minat terhadap Agentic AI diperkirakan meningkat dua kali lipat dalam 12 bulan ke depan. Saat ini, 21 persen organisasi di Asia-Pasifik melaporkan penggunaan Agentic AI secara signifikan, sementara hampir 60 persen lainnya masih menjajaki atau merencanakan penerapan terbatas.
Adopsi ini terutama terlihat di sektor telekomunikasi, layanan kesehatan, dan pemerintahan, yang memiliki kompleksitas dan skala operasional tinggi. Meski demikian, tingkat kesiapan organisasi masih belum merata. Hanya 10 persen organisasi yang menganggap diri mereka siap untuk implementasi Agentic AI dalam skala besar, sementara 41 persen lainnya membutuhkan waktu lebih dari 12 bulan untuk meningkatkan penerapan secara signifikan.
Keamanan, tata kelola, kualitas data, serta kompleksitas integrasi masih menjadi hambatan utama.
âAgentic AI merepresentasikan pergeseran fundamental dalam cara kecerdasan ditanamkan ke dalam perusahaan,â ujar Fan Ho, Executive Director & General Manager Asia Pacific, Solutions & Services Group Lenovo.
âDengan hampir 60 persen organisasi telah menjajaki Agentic AI dan mayoritas memilih pendekatan terukur dalam memperluas skalanya, hal ini mencerminkan kebutuhan akan AI yang terintegrasi dalam alur kerja inti, memenuhi standar keamanan dan tata kelola, serta mampu memberikan hasil yang konsisten,â jelasnya.
Hybrid AI Menjadi Arsitektur Standar
Seiring meningkatnya skala beban kerja AI, strategi infrastruktur menjadi keputusan krusial bagi para CIO. Laporan ini mencatat, 86 persen organisasi di Asia-Pasifik kini menyertakan lingkungan on-premise atau edge sebagai bagian dari arsitektur hybrid AI, sehingga menjadikan hybrid AI sebagai model standar implementasi AI di perusahaan.
Di kawasan ASEAN+, sebanyak 81 persen organisasi memilih arsitektur hybrid AI yang mengombinasikan sistem on-premise dan edge untuk menyeimbangkan performa, keamanan, serta kepatuhan regulasi. Pilihan ini didorong oleh kebutuhan perlindungan data yang lebih kuat, keamanan tingkat lanjut, serta efisiensi biaya dan kecepatan, seiring AI semakin banyak digunakan dalam proses bisnis kritikal.
âOrganisasi di kawasan ASEAN+, termasuk di Indonesia, kini telah beralih dari sekadar uji coba AI ke penerapan dalam skala besar. Sebanyak 67 persen organisasi mengadopsi AI secara sistematis, dengan integrasi AI ke perangkat dan infrastruktur yang ada menjadi prioritas investasi utama,â ungkap President Director Lenovo Indonesia, Budi Janto.
âFokusnya jelas, yakni menanamkan AI ke lingkungan kerja yang sudah berjalan untuk menghasilkan nilai bisnis secara cepat. Hal ini tercermin dari potensi imbal hasil hingga 2,7 kali lipat dari setiap dolar yang diinvestasikan, menegaskan AI kini telah menjadi infrastruktur penting bagi bisnis,â tambahnya.
Prioritas Utama CIO pada 2026
Lenovo CIO Playbook 2026 menyoroti tiga prioritas utama yang akan membentuk arah perusahaan ke depan:
- Operasional AI sebagai penggerak nilai bisnis utama
Sepanjang siklus penggunaan model AI, biaya operasional dapat mencapai hingga 15 kali lebih besar dibandingkan biaya pelatihan. Pada 2030, sekitar 75 persen kapasitas komputasi AI diperkirakan digunakan untuk operasional, dengan 80 persen perusahaan mengandalkan infrastruktur edge yang tersebar. - Produktivitas karyawan sebagai prioritas strategis
Penerapan perangkat berbasis AI untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung inferensi lokal menjadi prioritas investasi IT kedua, seiring meningkatnya adopsi AI PC. Diperkirakan 50 persen pembelian PC di segmen enterprise akan beralih ke model yang dilengkapi agen AI on-device. - Skalabilitas AI masih menjadi tantangan utama
Meski 88 persen organisasi memperkirakan AI akan menghasilkan ROI positif, hanya sekitar setengah proyek uji coba AI (proof-of-concept) yang berhasil masuk ke tahap produksi. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan pada ambisi, melainkan pada kemampuan memperluas AI dalam skala besar.
- Lenovo
- IDC
- kecerdasan buatan (AI)
- asia-pasifik
- transformasi digital
- Lenovo CIO Playbook 2026
- Investasi AI
- Teknologi Perusahaan
- ASEAN+
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Perusahaan Dituntut Perkuat SDM Berbasis Teknologi untuk Hadapi Disrupsi
-
Nurlaela, Guru SD di Jakarta Timur, Jadi Korban Tabrakan Kereta Bekasi Timur
-
Pemerintah Percepat Ekosistem AI dan Data Center untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi
-
Amartha Soroti Pentingnya Kesehatan Finansial bagi UMKM dan Ekonomi Akar Rumput
-
Prosesor AMD Ryzen AI 400 Series Siap Tenagai Laptop AI Generasi Baru
-
Minyakita Tembus Rp15.900, Mendag Bongkar Biang Keroknya: Gara-gara Plastik
-
Infrastruktur Siap AI Penting untuk Dorong Ekonomi Digital Indonesia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.