Investasi Energi Bersih Global Meningkat, RI Belum Pernah Capai Target
📅 Senin, 12 Jan 2026, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
ABU DHABI - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyatakan investasi energi bersih global terus menunjukkan peningkatan signifikan dan diperkirakan menembus 2,2 triliun dollar AS atau sekitar 37 kuadriliun pada 2025.
Dalam Sidang Majelis Umum ke-16, Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Minggu (11/1), Guterres menegaskan bahwa nilai tersebut mencapai dua kali lipat dari total belanja energi berbasis bahan bakar fosil.
Lonjakan investasi tersebut jelas Guterres mencerminkan percepatan transisi energi global yang semakin menguat seiring komitmen negara-negara dalam menekan emisi gas rumah kaca.
Guterres mengingatkan bahwa konferensi iklim COP30 di Belém telah mengakui dunia akan menghadapi overshoot sementara di atas batas kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius.
“Tugas kita jelas: membuat overshoot itu sekecil dan sesingkat mungkin,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, upaya tersebut menuntut pemangkasan emisi “lebih cepat, lebih dalam, dan di semua sektor,” termasuk melalui pengurangan penggunaan bahan bakar fosil, percepatan besar-besaran energi terbarukan, serta peningkatan efisiensi energi.
“Kabar baiknya, dunia tidak pernah berada dalam posisi sebaik sekarang untuk mewujudkannya,” kata Guterres.
Cetak Rekor Baru
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia juga menambahkan bahwa teknologi energi terbarukan, khususnya tenaga surya dan angin terus mencetak rekor baru, sehingga transisi menuju energi bersih kini bersifat “tak terhentikan dan tidak dapat dibalikkan”.
Meski demikian, Guterres mengingatkan bahwa percepatan teknologi dan investasi pembangkit belum sepenuhnya diimbangi kesiapan infrastruktur pendukung. Pada tahun lalu, sebutnya, dunia mengalokasikan sekitar 1 triliun dollar AS untuk pembangunan pembangkit energi bersih, tetapi investasi untuk jaringan listrik dan infrastruktur penunjang jumlahnya masih kurang dari separuhnya.
Ia pun menyoroti sejumlah hambatan yang masih dihadapi, mulai dari lambatnya proses perizinan, keterbatasan kapasitas jaringan listrik, hingga tekanan pada rantai pasok global. Selain itu, banyak negara berkembang, khususnya di kawasan Afrika, dinilai masih kesulitan memperoleh akses pembiayaan meskipun memiliki potensi energi terbarukan yang besar.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Guterres mendorong investasi besar-besaran pada jaringan listrik modern dan fleksibel, penguatan interkoneksi regional, serta pengembangan sistem penyimpanan energi seperti baterai guna menjaga keandalan pasokan listrik.
Pengamat energi terbarukan dari Universitas Brawijaya, Malang, Suprapto, mengatakan, Indonesia seharusnya mengikuti tren dunia dengan membuka selebar-lebarnya pintu terhadap investasi energi bersih.
“Indonesia tidak boleh ketinggalan dengan tren peningkatan investasi untuk mewujudkan clean energy dengan membuka seluas-luasnya kran investasi EBT. Kalau tidak, apa yang ditakutkan dari dampak kenaikan suhu global sangat mungkin terjadi. Kalau AS menarik diri dari perjanjian iklim, targe zero carbon dunia tentu semakin berat,” kata Suprapto.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!