Bukan Cuma Urus Lahan, Bank Tanah Latih Petani dan Peternak

Minggu, 11 Jan 2026, 21:10 WIB

CIANJUR – Reforma Agraria itu bukan sekadar bagi-bagi lahan, tapi soal memastikan tanah benar-benar jadi sumber penghidupan yang adil dan produktif.

Kalau implementasinya diperkuat, petani dan masyarakat desa punya kepastian hukum atas lahan yang digarap, sehingga berani berinvestasi dan meningkatkan hasil usaha.

Ket. Foto: Sejumlah warga penerima program Hak Pengelolaan Lahan dari Badan Bank Tanah dari Desa Batulawang, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat melakukan studi banding ke peternakan. — Sumber: ANTARA/Ahmad Fikri.

Dampaknya bukan cuma ke ekonomi lokal, tapi juga ke pengurangan ketimpangan dan konflik agraria. Singkatnya, Reforma Agraria yang jalan serius bisa jadi fondasi kuat buat pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Badan Bank Tanah memberikan pelatihan pertanian dan peternakan guna mendorong pemanfaatan lahan secara bertahap pada warga di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sebagai bagian dari strategi jangka menengah untuk memperkuat implementasi Reforma Agraria.

Plt Kepala Badan Bank Tanah Hakiki Sudrajat saat dihubungi Minggu, mengatakan, pelatihan yang diberikan guna mendorong penerima manfaat Hak Pengelolaan Lahan (HPL) mulai menjalankan sistem peternakan terintegrasi.

Dimana selama dua hari terakhir, warga penerima manfaat mendapat berbagai pelatihan lain selain pertanian dan peternakan, dimana mereka diberikan pelatihan menanam tumbuhan yang dapat dijadikan pakan ternak termasuk dalam proses silase.

"Dalam pelaksanaannya bekerja sama dengan salah satu yayasan di Cianjur yang sudah berpengalaman untuk memberikan pelatihan peternakan dan pertanian terintegrasi agar pengelolaan peternakan rakyat dapat maksimal ditunjang ketersediaan pakan," katanya.

Sehingga setelah mendapat pelatihan dan studi banding ke peternakan moderen di Bogor, puluhan warga Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, dapat mulai menjalankan pemanfaatan lahan untuk peternakan dan pertanian terintegrasi.

Warga yang ikut dalam pelatihan diharapkan dapat observasi langsung terhadap penerapan sistem peternakan terintegrasi, manajemen pakan, serta pengelolaan usaha peternakan berbasis keberlanjutan.

"Program pemberdayaan merupakan bagian penting dari pelaksanaan Reforma Agraria sehingga bermanfaat nyata bagi masyarakat sebagai penerima sehingga mendorong kemandirian ekonomi berkelanjutan,” katanya.

Perwakilan Yayasan Astha Cita Masykur Wakhid Masykur mengatakan, melalui pelatihan dan studi banding diharapkan warga penerima manfaat mendapat berbagai bekal pengetahuan teknis, pengelolaan usaha peternakan yang terstruktur, efisien, dan berorientasi jangka panjang.

Sehingga dapat memperkuat keterampilan masyarakat dalam mengelola usaha peternakan secara lebih efektif, sinergi dengan Badan Bank Tanah diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat di wilayah Reforma Agraria.

“Kami melihat pemberdayaan harus dilakukan secara bertahap dan konsisten, sehingga lahan yang diberikan pemerintah dapat lebih bermanfaat dalam menunjang kebutuhan masyarakat terutama meningkatkan perekonomian," katanya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.