Saat Merah Putih Berkibar di Tengah Duka, Tirakatan Ini Penuh Makna

Minggu, 16 Agu 2026, 08:30 WIB

SURABAYA - Kemerdekaan tidak selalu hadir dalam kemeriahan. Di banyak kampung, ia justru menemukan bentuk paling sederhana ketika warga duduk berdekatan, doa dipanjatkan, kisah perjuangan dikenang, lalu makanan dibagikan tanpa bertanya siapa yang membawa lebih banyak.

Itulah malam tirakatan, tradisi yang umumnya berlangsung pada 16 Agustus menjelang peringatan kemerdekaan. Di berbagai daerah, terutama Jawa, tirakatan diisi doa bersama, mengheningkan cipta, pembacaan sejarah perjuangan, pemotongan tumpeng, makan bersama, hingga kegiatan sosial.

Ket. Foto: Petugas melihat kondisi bangunan Pelabuhan Laurentius Say Maumere yang rusak akibat gempa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8). — Sumber: Antara foto

Tradisi itu tampak sederhana, tetapi menyimpan pertanyaan besar tentang bagaimana bangsa ini memaknai kemerdekaan. Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, apakah kemerdekaan cukup dirayakan, atau harus terus dihidupkan melalui kepedulian terhadap sesama?

Makna malam

Tirakatan memiliki kekuatan karena mempertemukan warga dalam ruang yang setara. Tidak ada panggung besar, tidak ada jarak antara tokoh masyarakat dan warga biasa. Semua duduk bersama sebagai tetangga.

Dalam tradisi itu, kemerdekaan tidak hanya dikenang sebagai peristiwa sejarah. Warga berhenti sejenak dari kesibukan untuk mengingat pengorbanan generasi terdahulu, sekaligus mengucapkan syukur atas kehidupan yang dapat dijalani dalam sebuah negara merdeka.

Namun, tantangan Indonesia hari ini telah berubah. Penjajahan fisik telah berlalu, tetapi persoalan bangsa belum selesai. Kesenjangan, kemiskinan, korupsi, disinformasi, kekerasan sosial, kerentanan bencana, hingga persoalan pelayanan publik masih menjadi pekerjaan bersama.

Karena itu, rasa syukur atas kemerdekaan tidak cukup berhenti pada penghormatan terhadap pahlawan. Syukur perlu diterjemahkan menjadi tanggung jawab sosial. Jabatan dijalankan secara amanah, ilmu digunakan untuk kepentingan masyarakat, usaha menciptakan pekerjaan, sedangkan generasi muda menjaga ruang digital agar tidak menjadi tempat berkembangnya kebencian dan informasi palsu.

Di titik inilah tirakatan menjadi relevan. Tradisi tersebut dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan persoalan hari ini. Sejarah mengajarkan bahwa kemerdekaan lahir dari pengorbanan dan persatuan. Masa kini menuntut nilai yang sama untuk menghadapi persoalan yang lebih kompleks.

Menjadi ironis apabila malam tirakatan hanya selesai dengan makan bersama, sementara setelahnya warga kembali mudah terprovokasi, saling curiga, atau tidak peduli ketika tetangga menghadapi kesulitan.

Kemerdekaan seharusnya memperluas rasa senasib. Persoalan satu warga semestinya dapat dilihat sebagai persoalan lingkungan, dan masalah satu daerah menjadi kepedulian daerah lainnya.

Empati kebangsaan

Makna itu terasa lebih dalam ketika peringatan kemerdekaan tahun ini bersamaan dengan kabar duka dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi magnitudo 7,7 di wilayah Flores hingga Sabtu malam dilaporkan menewaskan sedikitnya 47 orang. Rumah warga dan berbagai fasilitas umum juga mengalami kerusakan.

Di satu tempat, warga bersiap menggelar doa, menyiapkan tumpeng, dan berkumpul dalam suasana syukur. Di tempat lain, keluarga masih mencari tempat aman, menunggu kabar kerabat, atau bertahan di tengah kerusakan akibat bencana.

Kontras itu seharusnya tidak membuat perayaan kemerdekaan kehilangan makna. Justru di sanalah persatuan diuji. Kemerdekaan bukan hanya kemampuan merayakan, melainkan kemampuan negara dan masyarakat hadir ketika warga berada dalam kondisi paling rentan.

Pemerintah harus memastikan bantuan menjangkau korban. Aparat harus bekerja cepat. Masyarakat di daerah lain dapat menunjukkan solidaritas melalui bantuan yang terverifikasi, dukungan logistik, maupun kepedulian yang tidak berhenti pada simpati di ruang digital.

Respons terhadap bencana juga mengingatkan bahwa negara merdeka memiliki kewajiban melindungi seluruh rakyat. Upaya evakuasi, pencarian korban, pelayanan kesehatan, pendataan, dan distribusi bantuan bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan bentuk nyata kehadiran negara.

Karena itu, doa dalam tirakatan seharusnya tidak berhenti pada lingkungan sendiri. Ketika warga mendoakan para pahlawan, mereka juga dapat mengingat saudara sebangsa yang sedang menghadapi bencana di Flores.

Duka di NTT adalah duka Indonesia. Kesulitan sebuah keluarga di Flores tetap berada dalam ruang kebangsaan yang sama dengan warga yang malam itu duduk dalam lingkaran tirakatan di Surabaya, Malang, Kediri, Madiun, atau kota-kota lain.

Empati itu semakin penting di tengah arus informasi yang begitu cepat. Bencana dapat menjadi ruang solidaritas, tetapi juga dapat berubah menjadi ruang penyebaran kabar yang belum terverifikasi, kepanikan, bahkan eksploitasi penderitaan.

Salah satu bentuk tirakatan pada zaman sekarang karena itu adalah disiplin terhadap informasi. Menahan diri untuk tidak menyebarkan angka korban yang belum pasti, tidak mengedarkan foto tanpa konteks, dan tidak menjadikan musibah sebagai bahan pertengkaran politik merupakan bentuk tanggung jawab kebangsaan.

Merdeka juga berarti merdeka dari kebiasaan memperlakukan penderitaan orang lain sebagai tontonan.

Syukur berbuat

Tirakatan semestinya tidak berhenti ketika lampu kampung kembali menyala setelah acara selesai. Malam itu seharusnya menjadi titik awal untuk memperbarui komitmen sosial setelah 16 Agustus berlalu.

Generasi muda perlu ditempatkan bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai penggerak. Mereka dapat diajak memahami persoalan bangsa melalui pengalaman konkret, seperti belajar memeriksa informasi bencana, memahami tata kelola bantuan, mengenali dampak korupsi, atau menggunakan teknologi untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.

Tradisi juga dapat dikembangkan menjadi ruang dialog antargenerasi. Orang tua membawa pengalaman, pemuda membawa gagasan, sedangkan anak-anak membawa rasa ingin tahu. Ketiganya dapat dipertemukan untuk menjawab pertanyaan sederhana, bagaimana membuat kemerdekaan benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari?

Jawabannya tidak selalu membutuhkan proyek besar. Gotong royong, membantu keluarga terdampak bencana, mendampingi anak belajar, menjaga kebersihan lingkungan, menggalang bantuan secara transparan, hingga ikut mengawasi kebijakan publik adalah bentuk-bentuk kecil yang dapat memperkuat kehidupan bersama.

Tumpeng karena itu tidak harus berhenti sebagai simbol syukur. Ia dapat menjadi simbol pembagian. Doa tidak hanya menjadi permohonan, tetapi pengingat tentang tanggung jawab. Renungan bukan hanya tentang masa lalu, tetapi keberanian melihat keadaan sekarang secara jujur.

Malam 16 Agustus memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menurunkan sejenak riuh perayaan dan mendengarkan kembali suara nurani. Saat nama para pahlawan disebut, semestinya terlintas pula wajah saudara sebangsa yang sedang menghadapi bencana.

Di sanalah Merah Putih menemukan makna yang lebih manusiawi. Bukan sekadar kain yang berkibar di tiang, tetapi simbol bahwa warga dari berbagai daerah berbagi nasib, harapan, dan tanggung jawab yang sama.

Tirakatan mengajarkan bahwa Indonesia tidak hanya dibangun oleh tokoh yang tercatat dalam sejarah. Indonesia terus dibangun oleh warga yang mau peduli, berbagi, menjaga persatuan, dan mengubah rasa syukur menjadi tindakan.

Kemerdekaan bukan sekadar warisan yang diterima setiap generasi. Ia adalah amanah yang harus diisi kembali dengan kerja, empati, dan keberanian memperbaiki kehidupan bersama. Ketika malam tirakatan selesai, pekerjaan itulah yang seharusnya dimulai.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

Berita Terbaru

Trump Unggah Foto Bersama Kim Jong Un, Mengklaim Ia dan Kim "Bergaul dengan Baik"

BIGBANG Jadi Duta Kehormatan Badan Antariksa Korea Selatan

Pesta Rakyat HUT RI ke-81, 20.578 Slot Parkir Disiapkan di Sekitar Monas.

"Smartwatch" Bukan Hanya Gaya & Tren, Kini Bergeser pada Kesehatan dan Olahraga

Kualitas Udara Jakarta Terburuk Kedua di Dunia Minggu Pagi Ini

Rhoma Irama Obati Kerinduan Fans Setelah 20 Tahun, Goyang Publik Malaysia di Latihan Pestapora

MagangHub Buka Peluang Peserta Berlanjut Jadi Pekerja.

Presiden Prabowo Tegaskan Penguatan Pelindungan dan Kesejahteraan Pekerja.

Gempa Flores, TNI Kerahkan 1.267 Personel untuk Bantu Warga Terdampak.

Plan Indonesia Terima Kunjungan Puluhan Relawan Muda dari Korea Selatan-Indonesia Perbaiki Sekolah dan Lingkungan di Jakarta

Punggawa Timnas Indonesia Romeny & Hubner Antarkan Fortuna Sittard Bantai Cambuur 3-1

Panglima TNI Hadiri Pengukuhan Paskibraka Tingkat Pusat 2026

Gubernur Kalsel Terbang dengan F-16, Sensasi Dunia Tempur Jadi Daya Tarik Expo 2026.

Siswa SRMP 20 Budi Luhur Intip Lebih Dekat Dunia TNI AU di Lanud Sjamsudin Noor.

Inter Milan Menang Dramatis atas Real Betis, Gol John Stones Jadi Pahlawan di Laga Pramusim

Pos Polisi Lalu Lintas Margorejo Surabaya Diduga Dilempar Bom Molotov

Viral Kasus Perundungan di Blora! Korban Pilih Keputusan Mengejutkan, Berdamai dan Cabut Laporan

Kota Wina Digugat soal Tarif Toilet Umum Khusus Perempuan Tapi untuk Pria Gratis

Krisis Air Makin Parah! Warga Swiss Dilarang Cuci Mobil dan Siram Taman

Jakarta Diprediksi Berawan Seharian Minggu Ini, BMKG Catat Suhu Bisa Capai 34 Derajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.