Sinyal Bahaya Fiskal Menguat, Rupiah Terpukul di Pembukaan Perdagangan
Jumat, 09 Jan 2026, 11:25 WIBJAKARTA â Rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan tekanan pelemahan, seiring menguatnya sentimen negatif dari sisi fiskal.
Pelebaran defisit fiskal dipersepsikan pasar sebagai sinyal meningkatnya risiko keberlanjutan anggaran, yang pada gilirannya memperbesar kebutuhan pembiayaan dan menekan kepercayaan investor.
Dalam kondisi tersebut, rupiah menjadi lebih rentan terhadap arus keluar modal, terutama ketika sentimen global belum sepenuhnya kondusif.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat (9/1), bergerak melemah 31 poin atau 0,18 persen menjadi Rp16.829 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.798 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipicu realisasi anggaran negara 2025 yang menunjukkan defisit fiskal melebar.
"Defisit fiskal melebar menjadi 2,92 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto), di atas perkiraan resmi sebesar 2,78 persen dari PDB," ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi sementara defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2025 sebesar Rp695,1 triliun per 31 Desember 2025.
Realisasi defisit itu melebar dari target awal 2,53 persen pada APBN 2025 dan proyeksi laporan semester sebesar 2,78 persen, dan hampir menyentuh ambang batas defisit yang ditetapkan oleh undang-undang sebesar 3 persen.
Sebagai rinciannya, realisasi sementara pendapatan negara hingga akhir 2025 mencapai 2.756,3 triliun rupiah atau 91,7 persen dari target APBN. Penerimaan perpajakan menjadi titik lemah dengan capaian 89 persen dari target, terutama pajak yang baru terealisasi 87,6 persen.
Di sisi belanja, realisasi negara mencapai 3.451,4 triliun rupiah atau 95,3 persen dari pagu, didorong belanja pemerintah pusat yang terealisasi 96,3 persen.
Lebih lanjut, realisasi sementara keseimbangan primer mencetak defisit 180,7 triliun rupiah atau melampaui target awal 63,3 triliun rupiah. Keseimbangan primer adalah selisih dari total pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang.
Melihat sentimen global, Challenger, Gray & Christmas melaporkan pemutusan hubungan kerja menurun sebesar 8,3 persen year on year (yoy) pada Desember 2025 menjadi 35.553, level terendah sejak Juli 2024.
Sementara itu, US Initial Jobless Claims untuk pekan yang berakhir 3 Januari 2025 naik menjadi 208 ribu dari 200 ribu pada pekan sebelumnya, tetapi tetap di bawah ekspektasi pasar sebesar 212 ribu.
"Di sisi eksternal, neraca perdagangan AS pada Oktober 2025 mencatat defisit terkecil sejak 2009, menyempit menjadi 29,4 miliar dolar AS di tengah impor yang lebih lemah," ungkap Josua.
- rupiah hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Jonet Perkuat Komunikasi dan Peringatan Dini Bencana di Yogyakarta
-
Iran Usulkan Rencana untuk Membuka Kembali Selat Hormuz dalam 7 Hari
-
Wakil Panglima TNI Pimpin Ziarah Nasional HUT Ke-81 TNI, Teladani Semangat Juang Para Pahlawan.
-
Bukan Cuma Dibuang, Limbah Makanan Bergizi Gratis Disulap Jadi Produk Berharga di Manado
-
Gerak Cepat Hadapi Karhutla! Pemprov Kaltim Integrasikan Ribuan Personel
-
Denon Prawiraatmadja Mulai Roadshow Asia, Whitesky Bawa Agenda Pengembangan eVTOL Rp21 Triliun
-
Manfaatkan Ikan Sungai Jadi Senjata Atasi Stunting, Desa Kahala Tembus Nominasi Nasional
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.