Antusias Menyambut Bayi Bekantan Kembar
Minggu, 21 Jun 2026, 16:18 WIBBANJARMASIN -- Sekilas, anak bekantan itu tampak tak berbeda dengan primata lain yang baru lahir. Tubuh mungilnya diselimuti bulu hitam pekat, sementara wajahnya berwarna biru tua. Jauh dari sosok bekantan dewasa yang dikenal dengan bulu kuning kecokelatan dan hidung besar yang menjadi ciri khasnya.
Namun, waktu akan mengubah penampilannya. Seiring bertambah usia, bulu hitam itu perlahan berganti menjadi kuning kecokelatan, sementara hidungnya akan tumbuh memanjang hingga menyerupai bekantan dewasa.
Pemandangan langka itu baru-baru ini terlihat di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Yang membuatnya semakin istimewa, bukan hanya satu bayi bekantan yang lahir, tapi sepasang anak kembar, di Stasiun Riset Bekantan "Camp Tim Roberts" yang dikelola Dr. Amalia Rezeki, ahli konservasi biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), bersama Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).
Amalia mengatakan dua ekor bayi bekantan kembar yang baru saja lahir pada pertengahan Juni 2026 ini berasal dari betina kelompok Alpha.
Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, kelahiran bayi kembar pada primata merupakan fenomena yang sangat langka. Peluang terjadinya kelahiran kembar pada primata, khususnya monyet besar dari dunia lama seperti bekantan (Nasalis larvatus) di alam liar sangat kecil dibandingkan kelahiran tunggal.
Kemunculan bayi kembar bekantan itu terlihat pertama kali saat Amel dan tim melakukan pemantau rutin di area Camp Tim Roberts.
Amel mengaku terharu menyaksikan pemandangan yang menakjubkan ketika dua ekor bayi kembar yang sedang menyusu dipelukan induknya.
"Kami sangat bersyukur dan sempat meneteskan air mata terharu karena lebih dari sepuluh tahun saya mendedikasikan diri bagi upaya pelestarian bekantan di kawasan Pulau Curiak, baru kali ini menemukan kelahiran bayi bekantan kembar," ungkap dosen Pendidikan Biologi ULM peraih Kalpataru 2022 sebagai penyelamat lingkungan ini.
Menurut dia, sepanjang pertengahan tahun ini telah lahir tiga bayi bekantan di kawasan Camp Tim Roberts yang merupakan bagian dari Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak, sebuah habitat yang berada di luar kawasan konservasi.
Amel menjelaskan masa reproduksi bekantan jantan dimulai dari usia 4 hingga 5 tahun, sementara untuk betinanya pada usia 4 tahun. Bekantan lazimnya hanya melahirkan 1 ekor bayi dalam 1 musim, dengan masa kehamilan selama 5 sampai 6 bulan.
Bayi bekantan dirawat secara berkelompok dengan pola asuh, semacam baby sister oleh koloninya, terutama dilakukan oleh betina muda.
Amel mengungkapkan kelahiran bayi kembar bekantan ini menarik perhatian dunia, terutama dari kalangan akademisi yang juga peneliti serta pegiat konservasi keragaman hayati.
Primata yang termasuk dalam daftar merah Lembaga Konservasi Internasional IUCN dengan status terancam punah (Endangered Species)Â ini, kini banyak menjadi perhatian dunia, terlebih dengan kemunculan bayi kembar bekantan.
Seperti yang disampaikan Associate Professor Charles Lee, peneliti bekantan asal Singapura, ia sempat meneteskan air mata haru saat mendengar kabar kelahiran bayi bekantan kembar tersebut.
Charles mengaku menangis ketika Amel menceritakan "mukjizat" luar biasa itu, yakni kelahiran bekantan yang bukan hanya satu bayi, melainkan sepasang kembar.
Menurut dia, menyaksikan pertumbuhan bekantan yang begitu sehat di Pulau Curiak merupakan pengalaman yang luar biasa. Ini adalah bukti dari perawatan luar biasa tim SBI dan penduduk desa.
Charles berharap mereka memiliki masa depan yang berkelanjutan, penuh harapan, ketahanan, dan berkah.
Sementara itu, Prof Tim Roberts dari University of Newcastle, Australia, mengaku turut berbahagia mendengar keberhasilan Amalia Rezeki dan timnya dalam upaya konservasi bekantan di Indonesia.
Dalam pesan yang disampaikannya kepada Amel, Tim Roberts mengatakan bahwa Amel beserta tim yang berdedikasi telah bekerja keras selama satu dekade terakhir untuk menyelamatkan monyet hidung panjang tersebut dari ancaman kepunahan.
Menurutnya, kawasan konservasi di Pulau Curiak yang berada di sistem Sungai Barito telah menjadi benteng penting dalam menahan laju kepunahan dengan menyediakan habitat hutan yang aman dan kaya sumber daya bagi bekantan.
Kelahiran bayi bekantan kembar ini, lanjutnya, merupakan bukti nyata dari kerja keras Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) di bawah kepemimpinan Amel.
Nama Tim Roberts sendiri diabadikan pada Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan perannya dalam pendirian stasiun riset tersebut, yang juga berfungsi sebagai suaka alami bagi bekantan.
Senada dengan itu, Ikki Matsuda, Ph.D. dari Wildlife Research Center, Kyoto University, yang juga merupakan peneliti bekantan asal Jepang, menyambut gembira keberhasilan Amel dan timnya dalam menjaga serta merawat bekantan beserta habitatnya di Indonesia.
Menurut Ikki Matsuda, kelahiran kembar pada primata umumnya merupakan peristiwa yang langka, sementara monyet hidung panjang atau bekantan biasanya hanya melahirkan satu anak. Karena itu, fenomena bersejarah ini dinilainya sangat luar biasa dan layak untuk dibagikan kepada publik.
Sementara itu, dari dalam negeri, Prof Hadi Alikodra, pakar konservasi satwa liar dari Institut Pertanian Bogor (IPB), menyampaikan bahwa kelahiran bayi bekantan kembar merupakan karunia Tuhan.
Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi indikator bahwa kondisi habitat alami bekantan cukup baik dan daya dukung pakan di lingkungan tersebut juga terpenuhi dengan baik.
Ia mengingatkan bahwa langkah selanjutnya yang perlu dilakukan tim Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) adalah melakukan pemantauan secara rutin terhadap bayi bekantan kembar tersebut.
Di sisi lain, Amel berharap kejadian langka ini dapat menjadi harapan baru bagi peningkatan populasi bekantan pada masa mendatang. Meski demikian, ia tetap menyimpan kekhawatiran terkait kecukupan nutrisi bagi bayi bekantan kembar yang lahir dari satu induk, mengingat bekantan pada umumnya melahirkan satu anak.
Karena itu, Amel dan tim berupaya melakukan observasi yang lebih intensif agar setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan bayi bekantan kembar tersebut dapat terpantau dengan baik.
Ekonomi berkelanjutan
Berdasarkan data SBI, saat ini terdapat 61 individu bekantan di Pulau Curiak. Jauh meningkat dibandingkan sejak pertama kali tim SBI mengelola Pulau Curiak di tahun 2016 yang hanya terdapat 14 individu bekantan.
Pulau Curiak awalnya hanya seluas 2,7 hektare dikelola secara swadaya oleh SBI. Namun kini bertambah luasannya mencapai sekitar 10 hektare berkat penanaman mangrove rambai yang terus dilakukan.
Hingga kini, lebih dari 50.000 bibit pohon rambai telah ditanam, bahkan sebagian di antaranya tumbuh dan membentuk pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Curiak.
Lokasi tersebut berada tidak jauh dari Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut, kawasan konservasi habitat bekantan dengan ekosistem hutan mangrove yang dikelola Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan.
Keberhasilan upaya konservasi bekantan di Pulau Curiak ternyata tidak hanya berkontribusi pada peningkatan populasi bekantan di luar kawasan konservasi dan mengurangi ancaman kepunahan, tetapi juga memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat sekitar.
Setiap hari, puluhan nelayan mencari ikan dan udang yang melimpah di perairan sekitar kawasan mangrove rambai.
Ada sembilan desa di Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala, yang masyarakatnya kini merasakan manfaat positif dari upaya pelestarian ekosistem lahan basah di Pulau Curiak.
Bahkan, Pemerintah Kabupaten Barito Kuala dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan Pulau Curiak sebagai destinasi ekowisata minat khusus, seiring tingginya minat kunjungan wisatawan ke kawasan yang menjadi bagian dari situs Meratus UNESCO Global Geopark tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan, Iwan Fitriady, menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat setempat untuk bersama-sama menjaga alam dan ekosistemnya agar dapat memberikan dampak berkelanjutan terhadap peningkatan ekonomi.
Menurut dia, pengembangan sektor pariwisata, khususnya di kawasan situs Geopark Meratus, memerlukan peran penting Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam menghidupkan dan menjaga nilai-nilai lokal.
Dengan demikian, diharapkan alam tetap lestari, keanekaragaman hayati terus berkembang, dan masyarakat semakin sejahtera berkat komitmen bersama dalam melestarikan bekantan, si "Monyet Belanda" yang menjadi maskot fauna Provinsi Kalimantan Selatan, baik di kawasan konservasi maupun di luar kawasan konservasi seperti Pulau Curiak.
- Bayi Bekantan
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Antara, Sujar
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.