Rupiah Masih Tertekan, 6 Januari 2026
📅 Selasa, 06 Jan 2026, 08:10 WIB | Oleh: Muchamad Ismail
Doc: istimewa
JAKARTA – Rupiah diproyeksikan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan, hari ini (6/1), seiring kuatnya pengaruh sentimen eksternal, terutama dinamika ekonomi Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya gejolak di pasar global. Kekhawatiran investor mendorong aksi risk-off sehingga memicu pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Analis Komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong melihat investor masih fokus pada perkembangan geopolitik serta rilis sejumlah data penting ekonomi dari AS, seperti ISM Manufacturing, serta ISM Services dan NFP beberapa hari ke depan. Lukman memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Selasa (6/1), bergerak di kisaran 16.700 – 16.800 rupiah per dollar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Senin (5/1), bergerak melemah 15 poin atau 0,09 persen dari akhir pekan lalu menjadi 16.740 rupiah per dollar AS. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan kurs rupiah seiring ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed pada tahun ini.
“Mengacu pada risalah rapat The Fed per Desember, ada perpecahan pendapat anggota The Fed terkait prospek penurunan bunga antara yang berkeinginan untuk penguatan pasar tenaga kerja dan yang ingin pencapaian target inflasi 2 persen yang masing-masing saling berlawanan,” ucapnya di Jakarta.
Mengutip Xinhua, sebagian pendapat anggota The Fed menyampaikan bahwa pelonggaran kebijakan suku bunga tepat diputuskan sebagai respons terhadap risiko penurunan lapangan kerja. Sebagai lainnya menunjukkan risiko inflasi yang lebih tinggi, sehingga disarankan tak melakukan penurunan suku bunga lebih lanjut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Data terbaru CME FedWatch Tool menunjukkan Federal Reserve diperkirakan memiliki probabilitas 85,1 persen untuk mempertahankan suku bunga tak berubah pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Januari 2026. Pelemahan rupiah juga dipengaruhi risiko geopolitik terkait invasi AS terhadap Venezuela.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!