- Home
-
- Luar Negeri
-
- Amerika Tangkap Maduro, Ne...
Amerika Tangkap Maduro, Netizen Tiongkok Serukan Serangan Serupa ke Taiwan
Selasa, 06 Jan 2026, 15:40 WIBJAKARTA - Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan elite Amerika Serikat bukan sekadar operasi militer berisiko tinggi. Peristiwa ini berubah menjadi gempa geopolitik yang mengguncang keseimbangan kekuatan global, terutama bagi Tiongkok, yang selama bertahun-tahun menjadikan Venezuela sebagai sekutu setia.
Hanya beberapa jam sebelum ditangkap di kamar tidur, Maduro masih tersenyum lebar di Istana Miraflores, Caracas, saat berpose bersama utusan utama Tiongkok untuk Amerika Latin.
Maduro bahkan menyebut Presiden Xi Jinping sebagai âkakak tuaâ yang selalu mendukungnya. Namun kehangatan diplomatik itu runtuh seketika ketika pasukan Delta Force AS mengeksekusi operasi malam yang membuat Beijing harus menelan kenyataan pahit, salah satu mitra strategisnya di Amerika Latin tumbang.
Selama puluhan tahun, hubungan TiongkokâVenezuela dibangun di atas fondasi ideologi politik sejalan dan kecurigaan bersama terhadap dominasi Amerika Serikat. Pada 2023, kemitraan ini diperdalam melalui status âall-weather strategic partnershipâ, diiringi kucuran dana miliaran dolar, proyek infrastruktur besar-besaran, dan ketergantungan ekspor minyak Venezuela ke pasar Tiongkok.
Bagi Beijing, Caracas bukan sekadar mitra dagang, melainkan simbol pengaruh globalnya yang meluas.
Tak heran jika langkah Washington memicu kemarahan Beijing. Pemerintah Tiongkok mengecam keras AS sebagai âpolisi duniaâ yang bertindak sewenang-wenang. Namun di balik kecaman tersebut, reaksi di media sosial Tiongkok justru jauh lebih eksplosif.
Sementara itu, di Weibo, media sosial Tiongkok, topik penangkapan Maduro meraih ratusan juta impresi, dengan banyak warganet menyebut operasi AS ini sebagai âcetak biruâ yang bisa diterapkan Tiongkok terhadap Taiwan.
Narasi ini berbahaya. Taiwan, yang diklaim Tiongkok meski tak pernah dikuasainya, kembali diseret ke dalam euforia nasionalisme digital. Spekulasi liar bermunculan, jika AS bisa menculik pemimpin di Amerika Latin, mengapa Tiongkok tidak bisa melakukan hal serupa di Selat Taiwan?
Meski demikian, sikap resmi Beijing jauh lebih berhati-hati. Presiden Xi Jinping memilih bahasa diplomatik dengan mengecam âperundungan sepihakâ yang merusak tatanan internasional, tanpa menyulut eskalasi langsung.
Media pemerintah Tiongkok justru memanfaatkan momen ini untuk menuding kemunafikan AS soal âtatanan berbasis aturanâ, sembari menegaskan pentingnya kekuatan militer sebagai penangkal krisis.
Dari sisi ekonomi, dampak terhadap pasokan minyak Tiongkok diperkirakan terbatas. Produksi minyak Venezuela merosot drastis, dan sebagian besar ekspornya dibeli oleh kilang kecil Tiongkok karena diskon besar. Namun secara strategis, kejatuhan Maduro tetap menjadi kemunduran besar bagi ambisi jangka panjang Beijing di Amerika Latin.
Di Taiwan sendiri, ancaman tersebut disikapi dengan dingin. Para pejabat Taipei menegaskan Taiwan bukan Venezuela, dan Tiongkok bukan Amerika. Banyak analis sepakat keputusan Beijing terkait Taiwan akan lebih ditentukan kondisi ekonomi domestik, kesiapan militer, dan sikap Washington, bukan sekadar euforia media sosial.
- amerika
- Tiongkok
- taiwan
- Nicolas Maduro
- donald trump
- Trump
- Venezuela
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
Berita Terkait:
-
Pasukan Khusus AS yang Terlibat Operasi Penculikan Maduro Ditangkap karena Menang Taruhan Terkait Misi Rahasia Itu
-
Trump Ingin Tiongkok Belanja Lebih Banyak Energi dari AS
-
Amerika Serikat dan Vietnam Bersatu, Dominasi Tiongkok di Industri Chip Terancam Runtuh
-
Trump Tak Puas dengan Tawaran Iran Buka Selat Hormuz
-
AS Harus Luncurkan 7.800 Satelit Demi Wujudkan Ambisi Golden Dome
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.