Korsel Desak Trump Pimpin Penyelesaian Damai dengan Korut

Kamis, 18 Jun 2026, 02:05 WIB

SEOUL - Presiden Korea Selatan (Korsel) mendesak Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, untuk membantunya berdamai dengan Korea Utara (Korut), seperti halnya ia telah menyelesaikan konflik di Timur Tengah, kata kantor Presiden Lee Jae-myung pada Rabu (17/6).

AS dan Iran dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman pada hari Jumat (19/6) mendatang untuk mengakhiri perang mereka, dan ada spekulasi bahwa pemerintahan Trump mungkin kemudian akan mengalihkan perhatiannya ke Korut.

Ket. Foto: Presiden Korsel, Lee Jae-myung (kanan) saat berjabat tangan dengan Presiden AS, Donald Trump, di Museum Nasional Gyeongju pada akhir Oktober lalu. Pada Rabu (17/6), Presiden Lee membujuk Presiden Trump agar mau membantu Korsel berdamai dengan Korut. — Sumber: AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS

Trump memicu seruan tersebut tak lama setelah mengumumkan kesepakatan Iran, dengan mengunggah di media sosial sebuah foto tanpa keterangan yang menampilkan dirinya bersama pemimpin Korut, Kim Jong-un pada pertemuan puncak mereka di Singapura pada tahun 2018.

Trump menanyakan kepada Lee tentang perkembangan hubungan antar-Korea selama pertemuan puncak G7 di Prancis, kata kantor kepresidenan Seoul dalam sebuah pernyataan pada Rabu.

Selama percakapan tersebut, Presiden Lee meminta agar Trump memimpin upaya mencapai resolusi damai untuk masalah Korut, sebagaimana ia telah menyelesaikan konflik di Timur Tengah, ungkap pernyataan dari kantor itu.

"Presiden Trump menyatakan komitmennya untuk berupaya mencapai resolusi atas masalah Korut," ungkap kantor kepresidenan Korsel.

Sejauh ini Presiden Lee mengambil pendekatan yang lebih lunak terhadap Korut, berbeda dengan pendahulunya yaitu Yoon Suk-yeol yang lebih garis keras.

Namun Pyongyang menolak pendekatan tersebut, dan secara resmi menyebut Seoul sebagai musuh paling bermusuhan dan berulang kali menyatakan Korut sebagai negara nuklir yang tidak dapat diubah.

Para ahli Korut mengatakan peluang terjadinya pertemuan antara Kim dan Trump sangat rendah. "Dari sudut pandang Korut, praktis tidak ada alasan untuk bertemu dengan AS," kata Yang Moo-jin, mantan rektor Universitas Studi Korut di Seoul, kepada AFP.

Kim sendiri telah berupaya meningkatkan posisinya di mata negara-negara tetangganya, misalnya dengan mengirimkan pasukan dan amunisi untuk membantu perang Russia melawan Ukraina. Ia juga baru-baru ini menjamu Presiden Tiongkok, Xi Jinping, di Pyongyang, tak lama setelah Xi mengadakan pertemuan puncak berturut-turut di Beijing dengan Trump dan Presiden Russia, Vladimir Putin.

Baik pernyataan resmi Pyongyang maupun Beijing tidak menyebutkan isu membujuk Korut untuk menyerahkan senjata nuklirnya, sebuah hasil yang menurut para ahli mengindikasikan penerimaan diam-diam Tiongkok terhadap status Korut sebagai negara nuklir.

Longgarkan Perbatasan

Sementara itu Kementerian Pertahanan Korsel pada Rabu menyatakan bahwa warga sipil di Korsel akan dapat mendekati Korut hingga beberapa kilometer di bawah peraturan baru yang memperluas akses publik ke zona perbatasan yang sangat termiliterisasi.

Hingga saat ini secara teknis kedua Korea masih dalam keadaan perang karena konflik tahun 1950-53 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian perdamaian, dan dipisahkan oleh zona demiliterisasi yang dilalui perbatasan.

Garis Kontrol Sipil (CCL) telah lama membatasi akses warga sipil ke area dalam radius 10 kilometer di selatan perbatasan yang dijaga ketat untuk melindungi fasilitas militer.

“CCL akan dipersempit menjadi rata-rata enam kilometer mulai tahun 2027 sehingga bisa meningkatkan akses bagi penduduk desa dan petani, serta pengunjung ke wilayah tersebut,” kata Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back kepada wartawan di Seoul.

Warga biasa Korsel memerlukan izin dari militer untuk tinggal atau bertani di daerah tersebut, dan para analis mengatakan bahwa penduduk telah lama menghadapi kerugian ekonomi yang signifikan.

Warga menyambut baik peraturan baru tersebut, dengan mengatakan bahwa hal itu akan memungkinkan kegiatan pertanian yang lebih bebas di daerah tersebut dan mendorong pembangunan serta pariwisata. AFP/I-1 

  • donald trump

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Libatkan Mama-Mama Arfak, Warmare Bersiap Jadi Kampung Dodol Matoa Pertama Papua Barat

Profil Kombes Jerrold Hendra Yosef Kumontoy, Komandan Upacara Penurunan Bendera HUT Ke-81 RI

Raup Omzet Belasan Juta! UMKM Banjir Cuan di Pesta Rakyat Monas

HUT Ke-81 RI, Kapolda Maluku Irjen Dadang Hartanto Ajak Warga Jaga Persatuan

Magnet Perhatian, Arumi Bachsin Dandani Emil Dardak Busana Dayak Kenyah Demi Meriahkan Hari Kemerdekaan

Koops TNI Habema Hadirkan Kampung Hitadipa Damai, Teguhkan Semangat Kemerdekaan di Papua.

Meriahkan HUT Ke-81 RI, Festival Perahu Bidar Palembang Tarik Ribuan Pengunjung

100 Siswa Sekolah Rakyat Tampil di Upacara HUT Ke-81 RI Istana Merdeka

Sisir Area 3.650 NM², Tim SAR All Out Berburu Jejak 4 Korban KPM Putri Yasmin!

Aksi Spektakuler 170 Taruna Akpol Pukau Istana Merdeka di Kirab Bendera Pusaka!

Bupati Aceh Barat Larang Tenaga Medis Live TikTok Saat Jam Pelayanan

Kado Kemerdekaan! 390 Napi Lapas Tulungagung Dapat Remisi, Ada yang Langsung Bebas!

BI Buka Babak Baru, Kartu Kredit Indonesia Kini Bidik Masyarakat Umum

Cuaca Ekstrem Guncang Filipina, 23 Warga Tewas

Sambut HUT Ke-81 RI, Pemkab Murung Raya Salurkan 104 Perangkat Starlink ke Pelosok

BI Bebaskan MDR QRIS UMKM Mulai Oktober

Presiden Prabowo Minta Komandan Upacara Penurunan Bendera HUT Ke-81 RI Menghadap

Bencana Mengintai, Pemerintah Siapkan Rp5 Triliun Dana Darurat

Galaxy Z Fold8 Raup Untung Besar, Samsung Akan Bikin 5 Ponsel lipat Lagi Tahun Depan

Dirut Pertamina Turun Langsung ke Lokasi Gempa Flores, Salurkan Bantuan dan Pimpin Upacara HUT ke-81 RI.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.