Disdikbud: Kegiatan Belajar di Aceh Tamiang Aktif Kembali Pascabencana

Senin, 05 Jan 2026, 15:55 WIB

BANDA ACEH -- Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Tamiang Sepriyanto menyatakan aktivitas belajar mengajar di wilayah tersebut sudah berjalan pascabencana, meskipun harus disesuaikan dengan kondisi lapangan.

"Meski hanya ada satu guru dan satu murid yang bisa hadir, sekolah di Aceh Tamiang harus buka. Artinya, itu kalimat penyemangat dari saya agar guru dan murid hadir aktifkan sekolah dengan standar masa darurat," kata Sepriyanto di Aceh Tamiang, Senin.

Ket. Foto: Suasana kegiatan belajar mengajar (KBM) perdana memasuki masa sekolah di SDN Bukit Rata Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang pascabencana, Senin (5/1). — Sumber: ANTARA/HO/Disdikbud Aceh Tamiang

Ia menjelaskan penyelenggaraan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada satuan pendidikan terdampak bencana termaktub dalam Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen RI) Nomor 1/2026.

Adapun poin pada SE tersebut yakni seluruh satuan pendidikan diminta untuk aktif melaksanakan KBM sesuai dengan kondisi dan kesiapan masing-masing satuan pendidikan.

Pelaksanaan KBM, kata dia, dapat dilakukan secara fleksibel, baik di sekolah, di tenda darurat, maupun di tempat lain yang memungkinkan, dengan tetap memperhatikan aspek keamanan, keselamatan, dan kenyamanan, peserta didik serta pendidik.

Bahkan hari ini Mendikdasmen Abdul Mu'ti menjadi pemimpin upacara bendera di SMAN 4 Kejuruan Muda, menandai memasuki masa sekolah awal semester II tahun pelajaran 2025/2026.

Sepriyanto menuturkan banyak KBM hari ini terpaksa dilakukan pada tenda-tenda dan mungkin rumah, karena 80 persen gedung sekolah di Aceh Tamiang terdampak.

"Meski ada sebagian sekolah tidak terdampak langsung, tapi guru dan muridnya menjadi korban banjir bandang," ujarnya.

Untuk itu pihaknya juga tidak mewajibkan murid untuk menggunakan seragam sekolah sebagai langkah menutupi kesenjangan. "Justru kalau ada satu dua murid pakai seragam, sementara yang lain tidak, akan menjadi kesenjangan di lingkungan sekolah," katanya.

 Sepriyanto juga meminta para guru dapat berperan aktif dan berkreasi, sehingga dapat menyesuaikan dengan kondisi di sekolah masing-masing maupun di tenda atau tempat lainnya.

Di sisi lain ia menerima banyak laporan dari kepala sekolah terkait kondisi sekolah rusak sedang hingga berat, sehingga mereka meminta tenda. Apalagi jumlah tenda BNPB terbatas.

"Jadi tidak semua sekolah dikasih tenda, ada opsi rumah yang bisa dijadikan KBM. Itulah guru tadi diminta berkreasi," ujarnya.

Ia menambahkan sebulan pascabencana sekolah di Aceh Tamiang, terutama di kawasan perkotaan Kuala Simpang dan Karang Baru, belum sepenuhnya bersih dari lumpur.

Karena itu diperlukan bantuan dari relawan serta pengerahan alat berat yang lebih banyak untuk membersihkan lumpur, baik dalam ruangan maupun pekarangan sekolah.

"Sekolah di kota juga tingkat kerusakannya berat. Meski sudah dikeluarkan lumpur, tapi tidak tahu harus dibuang selanjutnya lumpur itu. Kami butuh bantuan relawan dan alat berat ditambah lagi," kata Sepriyanto.

  • Banjir Aceh

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.