Irigasi Dipercepat, Mentan Yakin Swasembada Beras Bukan Sekadar Wacana

Minggu, 04 Jan 2026, 17:40 WIB

JAKARTA – Irigasi pertanian memegang peran kunci dalam menjaga produktivitas pangan, terutama di tengah perubahan iklim yang makin sulit diprediksi.

Ketersediaan air yang terkelola dengan baik membuat petani tidak sepenuhnya bergantung pada musim hujan, sehingga pola tanam lebih teratur dan risiko gagal panen bisa ditekan.

Ket. Foto: Areal bendungan irigasi Sei Wampu, Stabat, Langkat, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. — Sumber: Antara.

Irigasi bukan cuma soal mengalirkan air ke sawah, tapi soal efisiensi dan keberlanjutan. Jaringan irigasi yang berfungsi baik membantu meningkatkan hasil panen, menekan biaya produksi, dan menjaga stabilitas pasokan pangan. Ujungnya, irigasi yang kuat ikut menopang ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan petani.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan percepatan rehabilitasi irigasi pertanian menjadi fondasi utama peningkatan produksi padi, menjamin ketersediaan air, serta mewujudkan swasembada beras nasional yang berkelanjutan.

"Faktor penentu keberhasilan ada pada peningkatan benih dan pupuk, juga dalam ketersediaan air," kata Mentan Amran dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (3/1).

Mentan menegaskan percepatan rehabilitasi jaringan irigasi pertanian terus diperkuat karena menjadi fondasi penting dalam menunjang tercapainya swasembada pangan khususnya komoditas beras.

Didukung penguatan infrastruktur air, lanjut Amran, kinerja pangan nasional menunjukkan tren positif dengan produksi beras tahun 2025 diproyeksikan mencapai 34,79 juta ton dan stok cadangan beras pemerintah (CBP) menyentuh 3,3 juta ton pada awal 2026.

Menurut Amran, peningkatan kinerja pangan tersebut tidak terlepas dari langkah strategis Kementerian Pertanian dalam memperkuat fondasi produksi secara menyeluruh.

"Salah satu fokus utama yang terus didorong adalah penguatan infrastruktur pertanian, khususnya jaringan irigasi, sebagai penopang keberlanjutan produksi sekaligus peningkatan kesejahteraan petani," ucap Amran.

Ia menjelaskan pengelolaan air yang tepat menjadi faktor krusial dalam mendukung keberhasilan sektor pertanian.

Ketersediaan air irigasi yang terencana dan berkelanjutan memungkinkan petani mengoptimalkan masa tanam, menekan risiko kekeringan pada musim kemarau, serta meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan Hermanto menyampaikan bahwa sepanjang 2025, pemerintah terus melakukan pembangunan, peningkatan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi pertanian secara masif dan terintegrasi.

Hal itu dilakukan mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk Mendukung Swasembada Pangan Nasional yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto pada 30 Januari 2025.

"Dengan adanya Inpres Nomor 2 Tahun 2025, pemerintah mempercepat perbaikan dan rehabilitasi infrastruktur irigasi pada daerah irigasi yang sekitar 60 persen kondisinya kurang optimal dalam menyediakan air bagi persawahan," jelas Hermanto.

Ia menjelaskan dari target Inpres tahap pertama seluas 280.880 hektare, pemerintah merealisasikan sebesar 99,93 persen.

Untuk tahap kedua ditargetkan sebesar 225.775 hektare dengan capaian meliputi 83,46 persen pada jaringan irigasi utama, 98,66 persen pada jaringan irigasi tersier, dan 92,25 persen pada pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi air tanah (JIAT).

Sedangkan, untuk Inpres pada kegiatan tahap ketiga, dari target luasan 146.503 hektare terealisasi pelaksanaan jaringan irigasi utama sebesar 67,67 persen, realisasi pelaksanaan jaringan irigasi tersier mencapai 87,57 persen, dan untuk pembangunan dan rehab JIAT mencapai 93,91 persen.

Hermanto mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja keras dan sinergi dengan berbagai pihak.

Kementerian Pertanian terus melakukan koordinasi dan sinkronisasi intensif dengan Kementerian Pekerjaan Umum, khususnya Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) serta BBWS/BWS di daerah.

"Capaian ini merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi lintas sektor, khususnya bersama Kementerian Pekerjaan Umum, serta dukungan kuat dari pemerintah daerah," tambahnya.

Ke depan, implementasi Inpres 2 Tahun 2025 akan terus dilanjutkan dan diperkuat dengan berbagai kegiatan strategis lain seperti optimasi lahan dan cetak sawah rakyat di seluruh wilayah Indonesia sebagai wujud komitmen Kementerian Pertanian dalam menegaskan jalan Indonesia menuju swasembada pangan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.