Gubernur Khofifah: Jatim Siap Jadi Lokomotif Percepatan Hilirisasi Perkebunan Nasional

Selasa, 23 Des 2025, 17:21 WIB

SURABAYA - Gubernur Khofifah Indar Parawansa, pada Selasa (23/12) menegaskan kesiapan penuh Jawa Timur menjadi lokomotif percepatan hilirisasi perkebunan nasional, khususnya komoditas tebu, sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada gula dan penguatan sektor peternakan.

Komitmen tersebut disampaikan Khofifah  saat membuka Rapat Koordinasi Percepatan Program Hilirisasi Perkebunan bersama Menteri Pertanian di Gedung Negara Grahadi, Selasa (23/12).

Ket. Foto: Dari kiri, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, dan Wagub Emil Elestianti Dardak, Pangdam V/Brawijaya dalam Rakor Percepatan Program Hilirisasi Perkebunan di Gedung Negara Grahadi, Selasa (23/12). — Sumber: Koran Jakarta/ Selocahyo

Khofifah menyebut, Jawa Timur tidak hanya menjadi lokasi penurunan berbagai program strategis nasional, tetapi juga siap mengintegrasikan program hilirisasi dengan kultur pertanian dan peternakan masyarakat setempat.

“Tentu kami berharap tidak hanya menyampaikan hililisasi perkebunan, tapi bahwa banyak program strategis yang diturunkan di Jatim, termasuk rencana ground breaking grandparent stock,” kata Gubernur Khofifah dalam sambutannya.

Ia mengungkapkan, Pemprov Jatim bersama Forkopimda telah melakukan koordinasi intensif dengan para bupati dan wali kota untuk menyiapkan dukungan lahan dan penguatan sektor peternakan, termasuk program sapi indukan bunting untuk produksi susu nasional.

Menurut Khofifah, keberhasilan program hilirisasi akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan petani, pekebun, serta peternak. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan di Jawa Timur diminta membangun persepsi dan langkah yang sama.

“Saya rasa ini skuadron yang sangat kuat untuk bisa memaksimalkan ikhtiar hilirisasi dari perkebunan yang ada di Jawa Timur,” ujarnya.

Ia juga menegaskan kehati-hatian Pemprov Jatim dalam pengelolaan lahan. Dengan luas tambah tanam yang mencapai sekitar 1,8 juta hektare, konversi lahan ke komoditas lain dilakukan secara selektif agar tidak mengganggu swasembada yang sudah terwujud. 

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.