Menlu ASEAN Bertemu di Kuala Lumpur, Bahas Konflik Thailand-Kamboja yang Makin Meningkat

Senin, 22 Des 2025, 08:55 WIB

KUALA LUMPUR - Menteri luar negeri negara-negara Asia Tenggara dijadwalkan bertemu hari ini, Senin (22/12), di Malaysia untuk membicarakan krisis dan menghentikan bentrokan perbatasan antara Thailand dan Kamboja.

Pertempuran yang kembali terjadi antara kedua negara tetangga bulan ini telah menewaskan sedikitnya 22 orang di Thailand dan 19 orang di Kamboja, dan menyebabkan lebih dari 900.000 orang mengungsi di kedua belah pihak, kata para pejabat.

Ket. Foto: PM Malaysia Anwar Ibrahim (tengah) bersma PM Kamboja Hun Manet (kiri) dan Plt PM Menteri Thailand Phumtham Wechayachai (kanan) dalam pembicaraan mengenai kemungkinan gencatan senjata di Putrajaya, Malaysia pada 28 Juli 2025. — Sumber: AFP

Malaysia, yang memegang jabatan ketua Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN), menyatakan harapan bahwa pembicaraan di Kuala Lumpur akan membantu mencapai gencatan senjata yang langgeng antara kedua negara, yang keduanya merupakan anggota blok regional tersebut.

"Tugas kita adalah untuk menyampaikan fakta, tetapi yang lebih penting, untuk menekan mereka bahwa sangat penting bagi mereka untuk mengamankan perdamaian," kata Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pekan lalu. Iang mengatakan "berhati-hati namun optimistis".

Kekerasan yang kembali berkobar menghancurkan gencatan senjata yang rapuh yang dicapai setelah lima hari bentrokan pada bulan Juli, yang dimediasi AS, Tiongkok, dan Malaysia.

Pada bulan Oktober, Presiden AS Donald Trump mendukung deklarasi bersama lanjutan, menggembar-gemborkan kesepakatan perdagangan baru setelah di Kuala Lumpur mereka sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata.

Masing-masing pihak saling menyalahkan atas pemicu bentrokan, saling tuding melakukan serangan terhadap warga sipil.

Pada hari Minggu, Kamboja dan Thailand mengatakan pertemuan hari Senin dapat membantu meredakan ketegangan. Kedua pemerintah telah mengkonfirmasi bahwa mereka akan mengirim diplomat utama mereka ke pertemuan tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Maratee Nalita Andamo, menyebutnya sebagai "kesempatan penting bagi kedua belah pihak".

Kementerian Luar Negeri Kamboja mengatakan pembicaraan tersebut bertujuan untuk memulihkan "perdamaian, stabilitas, dan hubungan bertetangga yang baik".

Dialog

"Kamboja akan menegaskan kembali posisinya yang teguh untuk menyelesaikan perbedaan dan perselisihan melalui semua cara damai, dialog, dan diplomasi," tambah Phnom Penh.

Maratee mengulangi syarat-syarat yang sebelumnya diajukan Bangkok untuk negosiasi, termasuk tuntutan agar Kamboja menjadi pihak pertama yang mengumumkan gencatan senjata, dan bekerja sama dalam upaya pembersihan ranjau di perbatasan.

Syarat-syarat tersebut, kata juru bicara itu kepada wartawan, "akan memandu interaksi kita dalam diskusi besok di Kuala Lumpur".

Pemerintah Thailand tidak memberikan jaminan bahwa pertemuan tersebut akan menghasilkan gencatan senjata, dengan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa "gencatan senjata hanya dapat dicapai jika didasarkan terutama pada penilaian militer Thailand terhadap situasi di lapangan".

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pekan lalu bahwa Washington berharap gencatan senjata baru akan tercapai pada hari Selasa.

Trump, yang membantu menengahi gencatan senjata sebelumnya, mengklaim bahwa Thailand dan Kamboja telah sepakat untuk menghentikan pertempuran.

Namun Bangkok membantah adanya gencatan senjata semacam itu, bentrokan terus berlanjut selama dua minggu dan menyebar ke hampir semua provinsi perbatasan di kedua sisi perbatasan.

Konflik tersebut berakar dari sengketa teritorial atas penetapan batas wilayah sepanjang 800 kilometer (500 mil) pada era kolonial dan sejumlah reruntuhan kuil kuno yang terletak di perbatasan.

  • Konflik Thailand-Kamboja

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.