Kamboja Ungkap Bentrokan dengan Thailand Sebabkan Gelombang Pengungsi

Senin, 22 Des 2025, 02:30 WIB

PHNOM PENH - Lebih dari setengah juta orang di Kamboja telah mengungsi akibat bentrokan perbatasan mematikan selama dua pekan dengan negara tetangga Thailand, kata Phnom Penh pada Minggu (21/12), menjelang pembicaraan regional yang bertujuan untuk meredakan ketegangan.

Pertempuran yang kembali memanas antara negara-negara tetangga di Asia tenggara bulan ini, termasuk penggunaan tank, drone, dan artileri, telah menewaskan sedikitnya 22 orang di Thailand dan 19 orang di Kamboja, menurut para pejabat.

Ket. Foto: Sejumlah warga Kamboja yang menggunakan sepeda motor untuk menarik gerobak yang ditumpangi pengungsi untuk menyelamatkan diri menyusul terjadinya serangan udara di perbatasan di Provinsi Siem Reap pada 15 Desember lalu. Pada Minggu (21/12), Kamboja menyatakan bentrokan dengan Thailand di perbatasan telah menyebabkan gelombang pengungsi. — Sumber: AFP/Agence Kampuchea Press

Konflik tersebut berakar dari sengketa teritorial atas penetapan batas wilayah sepanjang 800 kilometer pada era kolonial dan klaim atas sejumlah reruntuhan kuil kuno yang terletak di perbatasan.

Kamboja dan Thailand pada Minggu sama-sama mengatakan bahwa pertemuan para menteri luar negeri Asia tenggara yang diselenggarakan oleh Malaysia pada Senin (22/12) diharapkan dapat meredakan ketegangan, dengan Bangkok menyebutnya sebagai kesempatan penting bagi kedua belah pihak.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Maratee Nalita Andamo, mengulangi syarat-syarat sebelumnya untuk negosiasi, termasuk tuntutan Bangkok agar Phnom Penh menjadi yang pertama mengumumkan gencatan senjata dan bekerja sama dalam upaya pembersihan ranjau di perbatasan.

“Kondisi-kondisi tersebut akan memandu interaksi kita dalam diskusi besok di Kuala Lumpur," ucap Maratee kepada wartawan.

Kementerian Luar Negeri Kamboja mengatakan pertemuan itu bertujuan untuk memulihkan perdamaian, stabilitas, dan hubungan bertetangga yang baik. Phnom Penh akan menegaskan kembali pendiriannya yang teguh untuk menyelesaikan perbedaan dan perselisihan melalui semua cara damai, dialog, dan diplomasi, ungkap kementerian itu.

Sementara itu Kementerian Dalam Negeri Kamboja mengatakan lebih dari 518.000 orang mengalami kesulitan parah akibat pengungsian paksa dari rumah dan sekolah mereka untuk menghindari serangan artileri dan udara Thailand.

Pertempuran tersebut telah menyebabkan sekitar 400.000 orang mengungsi di Thailand, menurut pernyataan Bangkok.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri, mengatakan kepada wartawan pada Minggu bahwa lebih dari 200.000 orang masih berada di tempat penampungan.

"Ada beberapa penduduk desa yang bisa kembali ke rumah," kata dia seraya memperingatkan bahwa mungkin masih ada beberapa ranjau atau bom berbahaya yang tersisa.

Masing-masing pihak saling menyalahkan sebagai pemicu pertempuran baru dan saling tuding melakukan serangan terhadap warga sipil, setelah bentrokan selama lima hari pada Juli lalu yang menewaskan puluhan orang.

Harapan AS

Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan Malaysia sebelumnya sudah berupaya menengahi gencatan senjata untuk mengakhiri pertempuran tersebut, tetapi gencatan senjata itu hanya berlangsung singkat.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pada Jumat (19/12) lalu mengatakan bahwa Washington DC berharap Kamboja dan Thailand akan mencapai gencatan senjata baru pada Selasa (23/12).

Pemerintah Thailand tidak memberikan jaminan bahwa pertemuan Senin akan menghasilkan gencatan senjata, dengan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa gencatan senjata hanya dapat dicapai jika didasarkan terutama pada penilaian militer Thailand terhadap situasi di lapangan.

Kamboja, yang kalah dalam hal persenjataan dan pengeluaran dibandingkan militer Thailand, pada Minggu mengatakan bahwa pasukan Thailand saat ini terus menyerang sejak subuh, dengan pertempuran terjadi di perbatasan dekat kuil Preah Vihear yang berusia 900 tahun.

Sepetak lahan sengketa di sebelah situs warisan yang terdaftar di UNESCO itu menjadi lokasi bentrokan militer pada 2008, dan kekerasan sporadis selama beberapa tahun setelahnya menyebabkan kematian sekitar dua lusin orang. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Cincinnati Open, Area Sial bagi Swiatek Dikalahkan Pegula

Prawirotaman Adakan Festival Guna Menunjang Kunjungan Wisata

Warga Semarang yang Akan Menikah, Lihat Pameran 50 Vendor Wedding

Jatim Hari Ini Cerah-Berawan, Gelombang hingga 3,7 Meter Mengintai Perairan Selatan

Gubernur Emanuel Melkiades Bawa Bantuan ke Tiga Titik Terdampak Gempa M7,7 di Riung

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

Putus Akibat Gempa, Akses Jembatan Wae Dampek di Manggarai Timur Pulih

Kapal Kargo Muatan Bijih Besi Tujuan Singapura Tenggelam di Lepas Pantai India, Dua ABK Selamat

Kucuran Beras Capai 1,65 Juta Ton, Pemerintah Optimistis Rem Harga Beras di Puncak El Nino

BPBD Cilacap Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Kekeringan Meteorologis

Menlu Tiongkok Wang Yi Temui Ketua DEN RI Luhut Panjaitan Bahas Investasi di Indonesia

Ratusan Rumah Adat Sade Ludes Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus Pulihkan Korban

Korea Utara Tuding Rencana Perluasan Anggaran Pertahanan Jepang Sebagai 'Persiapan Perang'

Brentford Kalahkan Tottenham Hotspur dengan Skor Telak 3-0

Pemprov NTT Percepat Perbaikan Infrastruktur Terdampak Gempa M7,7

Pemerintah Kota Batam Siapkan Subpenyalur BBM Nelayan di Pulau Rempang

Permudah Akses BBM Subsidi, Pemkot Batam Siap Bangun SPBU untuk Nelayan di Pulau Rempang

Harga Daging Ayam Ras di Dua Kabupaten di Riau di Atas Rp40.000/Kg

Film "The Odyssey" Laris di Korea Selatan, Lampaui 6 Juta Penonton

Balas Trump, Iran Peringatkan Negara yang Gabung dengan Sanksi AS Dianggap 'Musuh'

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.