Dibuka Menguat, IHSG Hari ini Berpotensi Volatil Dipicu Sikap 'Risk Off' Investor Imbas Tensi AS-Iran

Selasa, 14 Jul 2026, 09:53 WIB

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (14/7) berpotensi bergerak volatil dipicu oleh sikap risk off (menghindari aset berisiko) dari investor akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

IHSG dibuka menguat 19,92 poin atau 0,33 persen ke posisi 6.057,76. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,74 poin atau 0,12 persen ke posisi 603,11.

Ket. Foto: — Sumber: Antara

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.000- 6.220,” ujar Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Dari mancanegara, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa AS akan menjadi penjaga bagi Selat Hormuz. AS akan mulai melakukan pemblokiran kapal dari dan ke pelaburan, serta daerah pesisir Iran mulai 14 Juli 2026 pukul 16.00 waktu New York, AS.

Trump juga mengatakan akan menyerang Iran dengan sangat keras pada Selasa dan Rabu pekan ini, sehingga menambah ketidakpastian yang terjadi antara AS dengan Iran dan menimbulkan ekspektasi bahwa negosiasi perdamaian semakin menjauh dari kenyataan.

Meskipun semua kapal Iran akan diblokir untuk masuk dan keluar, Trump menyampaikan semua kapal negara lain dapat menyeberang, namun AS akan mengenakan tarif sebesar 20 persen untuk semua kargo yang dikirim.

"Sentimen itu membuat harga minyak kembali naik, yang memicu probabilitas kenaikan tingkat suku bunga oleh bank sentral AS The Fed pada tahun ini," ujar Nico.

Dari dalam negeri, S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang (sovereign credit rating) Indonesia di level BBB dengan outlook stabil,

Selain itu, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,1 persen pada 2026, sebelum mencatatkan pertumbuhan rata-rata 4,9 persen per tahun sepanjang 2026–2029. Prospek itu ditopang oleh belanja fiskal, program hilirisasi, serta penguatan pengelolaan sektor sumber daya alam.

S&P juga memperkirakan pemerintah Indonesia akan tetap mempertahankan batas defisit APBN sebesar tiga persen dari produk domestik bruto (PDB) sebagai jangkar utama kebijakan fiskal

Bagi pasar keuangan, Nico mengatakan penilaian positif dari S&P dapat menjadi katalis bagi sentimen terhadap pasar obligasi dan saham Indonesia, khususnya sektor yang berorientasi domestik seperti perbankan, konsumer, dan infrastruktur.

"Namun, dampak positif itu kemungkinan masih akan dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI), dan perkembangan kondisi ekonomi global, sehingga ruang penguatan pasar tetap bergantung pada stabilitas makro dan arus modal asing," ujar Nico.

Pada perdagangan Senin (13/07) kemarin, bursa Eropa bergerak variatif, diantaranya Euro Stoxx 50 melemah 0,01 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,01 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,19 persen, serta indeks CAC 40 Prancis menguat 0,31 persen.

Sementara itu, bursa Wall Street di AS melemah pada Senin (13/07), diantaranya indeks S&P 500 melemah 0,79 persen ke 7.515,34, indeks Nasdaq Composite melemah 1,88 persen ke 29.264,10, dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,26 persen ke 52.498,64.

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 0,09 persen ke 67.300,00, indeks Shanghai melemah 0,16 persen ke 3.907,95, indeks Hang Seng melemah 1,06 persen ke 23.958,00, dan indeks Strait Times melemah 0,93 persen ke 5.419,29.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.