Dishub Batasi Jam Operasional Kapal akibat Cuaca Ekstrem di Kepulauan Seribu 

Sabtu, 20 Des 2025, 18:12 WIB

JAKARTA - Dinas Perhubungan DKI Jakarta membatasi jam operasional kapal penyeberangan dari Pelabuhan Muara Angke menuju sejumlah pulau di Kepulauan Seribu. Hal ini karena gelombang tinggi disertai angin kencang masih melanda perairan Kepulauan Seribu, Jakarta.

Kapal hanya diizinkan berlayar pada pagi hari. Sedangkan mulai pukul 12.00 WIB hingga sore hari aktivitas pelayaran dihentikan.

Ket. Foto: — Sumber: RRI/Ryan Suryadi

Salah satu penumpang kapal Dishub, Agus Maulana, mengatakan merasa khawatir meski perjalanan kembali dibuka karena beberapa hari belakangan kapal dihentikan akibat cuaca buruk.

“Kami berangkat setelah ada informasi dari BMKG dan Dinas Perhubungan bahwa kapal sudah bisa beroperasi. Tetap ada rasa khawatir, tapi kami berharap perjalanan bisa berjalan aman,” ujar Agus saat ditemui di atas kapal menuju Pulau Tidung.

Ia bersama penumpang lain yang merupakan orang tua murid SMK di Kepulauan Seribu. Ia berharap, ke depan ada kapal berukuran lebih besar serta penyampaian informasi cuaca yang lebih cepat dan merata kepada masyarakat.

Sementara itu, Kepala Satuan Pelayanan Unit Pengelola Angkutan Perairan Dishub DKI Jakarta, Suparto Napitu, mengatakan kapal Dishub sempat tidak dioperasikan. Dimulai sejak 14 hingga 18 Desember 2025 karena cuaca ekstrem.

“Berdasarkan data BMKG Tanjung Priok, ketinggian gelombang saat itu mencapai di atas 1,25 meter dengan kecepatan angin lebih dari 20 knot. Sehingga kapal Dishub sementara kami hentikan operasinya,” kata Suparto, Sabtu (20/12).

Sementara sejak Jumat hingga Minggu kondisi cuaca relatif membaik, sehingga pelayaran diperbolehkan hanya hingga pukul 12.00 WIB. Di atas jam tersebut, pelayaran kembali dilarang karena gelombang dapat mencapai lebih dari dua meter dan angin bertiup cukup kencang.

Untuk menghadapi lonjakan penumpang jelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Dishub DKI Jakarta menyiapkan sekitar 15 kapal untuk melayani empat rute utama. Yakni Muara Angke–Pulau Pramuka, Muara Angke–Pulau Untung Jawa, Muara Angke–Pulau Kelapa, serta Muara Angke–Kepulauan Seribu.

Sementara kapal tradisional yang terbuat dari kayu masih tetap beroperasi, meski tetap berisiko. Biasanya kapal tersebut masih dapat berlayar saat gelombang mencapai 1–2 meter, dengan catatan berhenti di beberapa pulau untuk menyesuaikan kondisi.

Dishub memprediksi lonjakan penumpang akan mulai terjadi pada Sabtu hingga 2 Januari 2026. Masyarakat pun diimbau selalu memantau informasi dan peringatan cuaca dari BMKG sebelum melakukan perjalanan ke Kepulauan Seribu. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.