- Home
-
- Luar Negeri
-
- Kamboja Gunakan Senapan Pe...
Kamboja Gunakan Senapan Penembus Tank QBU-10 untuk Melawan Thailand
Rabu, 17 Des 2025, 05:31 WIBPHNOM PENH - Militer Kamboja telah mulai menggunakan senapan anti-material QBU-10 buatan Tiongkok untuk melawan pasukan Thailand.
Analis militer War Noir menerbitkan foto seorang tentara Kamboja yang dipersenjatai dengan senapan ini.
Dari Militarnyi, senapan anti-material adalah sistem penembak jitu kaliber besar yang dirancang terutama untuk menghancurkan target material, bukan hanya personel musuh.
Norinco, sebuah perusahaan pertahanan milik negara Tiongkok, mengembangkan senjata tersebut.
QBU-10 telah beroperasi sejak tahun 2010 dan saat ini hanya digunakan oleh segelintir negara, termasuk Tiongkok, Turkmenistan, dan Kamboja.
Senapan sniper kaliber besar QBU-10 memiliki kaliber 12,7Ã108 mm. Pada foto yang dipublikasikan, senapan tersebut dilengkapi dengan alat bidik siang dan termal QMH151A.
Pabrikan mengklaim jangkauan efektif hingga 1000 meter.
QBU-10 bukanlah satu-satunya senjata buatan Tiongkok yang digunakan oleh militer Kamboja. Baru-baru ini, militer Thailand berhasil merebut sejumlah besar rudal anti-tank buatan Tiongkok, yaitu GAM-102LR .
Bentrokan di perbatasan antara Kamboja dan Thailand terus berlanjut, meskipun Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya mengumumkan bahwa ia telah berbicara dengan para pemimpin kedua negara, yang konon menghasilkan kesepakatan gencatan senjata.
Bangkok dan Phnom Penh saling tuduh melakukan serangan terhadap warga sipil dan menyatakan niat mereka untuk mempertahankan kedaulatan masing-masing. Konflik antara Thailand dan Kamboja mengenai kepemilikan wilayah tempat berdirinya kuil-kuil kuno Kekaisaran Khmer, Preah Vihear dan Ta Moan Thom, telah berlangsung selama lebih dari satu abad.
Babak konfrontasi baru dimulai pada bulan Mei setelah kematian seorang tentara Kamboja. Pada bulan Juli, konflik meningkat, dan selama beberapa hari kedua pihak saling baku tembak, mengakibatkan puluhan orang tewas.
Selanjutnya, dengan mediasi Amerika Serikat dan Malaysia, Thailand dan Kamboja menyepakati gencatan senjata, yang diformalkan pada bulan Oktober. Namun, kedua pihak terus saling menuduh melanggar perjanjian tersebut, dan pada bulan November, Thailand menangguhkannya. Pada awal Desember, pertempuran kembali terjadi di wilayah perbatasan yang disengketakan.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.