Era Nontunai Kian Dominan, BI Prediksi Transaksi Digital Melonjak 29,7% pada 2026

Rabu, 17 Des 2025, 20:20 WIB

JAKARTA – Transaksi pembayaran digital menjadi fondasi penting dalam mendorong efisiensi dan inklusi ekonomi di era modern.

Digitalisasi pembayaran mempercepat arus transaksi, menekan biaya, serta meningkatkan transparansi, sehingga mendukung aktivitas ekonomi yang lebih produktif, baik bagi pelaku usaha maupun konsumen.

Ket. Foto: Ilustrasi - Seorang warga melakukan pembayaran dengan aplikasi QRIS. — Sumber: ANTARA/ Nadilla

Selain itu, pembayaran digital memperluas akses layanan keuangan, khususnya bagi masyarakat dan UMKM yang sebelumnya belum terjangkau sistem perbankan formal.

Namun, optimalisasi transaksi digital menuntut penguatan infrastruktur, keamanan data, dan literasi keuangan digital. Tanpa perlindungan sistem yang memadai, risiko kejahatan siber dan rendahnya kepercayaan publik dapat menghambat adopsi.

Karena itu, pengembangan pembayaran digital perlu diiringi regulasi yang adaptif dan edukasi berkelanjutan agar manfaat efisiensi dan inklusi dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan.

Bank Indonesia (BI) memprediksi transaksi pembayaran digital bakal tumbuh positif sebesar 29,7 persen (year-on-year/ yoy) pada 2026.

“Didukung dengan perluasan penggunaan QRIS, inovasi teknologi, penguatan aspek keamanan, dan tentunya juga kepercayaan publik,” kata Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan Desember 2025, di Jakarta, Rabu (17/12).

Dia menjelaskan ekonomi digital Indonesia tumbuh kuat sepanjang 2025, tercermin pada pertumbuhan transaksi pembayaran digital.

Per November 2025, volume transaksi pembayaran digital tumbuh sebesar 41,12 persen (yoy) dengan total transaksi mencapai 4,66 miliar.

Transaksi pembayaran digital ini meliputi mobile banking, QRIS, dan internet banking. Di antara ketiga jenis transaksi tersebut, mobile banking mencetak jumlah transaksi terbanyak sebesar 2,79 miliar. Disusul oleh QRIS yang mencatatkan 1,68 miliar transaksi.

Sedangkan bila ditinjau dari segi pertumbuhan, volume transaksi aplikasi mobile dan internet banking masing-masing tumbuh sebesar 15,91 persen (yoy) dan 16,11 persen (yoy), sementara transaksi QRIS tumbuh 143,64 persen (yoy).

Filianingsih menyatakan kinerja tersebut mencerminkan makin luasnya adopsi pembayaran digital di kalangan masyarakat dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Kinerja ini menunjukkan bahwa digitalisasi sistem pembayaran ini sudah menjadi fondasi utama aktivitas ekonomi, terutama untuk konsumsi, transportasi, dan juga layanan publik,” ujarnya lagi.

Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 439 juta transaksi atau tumbuh 29,77 persen (yoy) dengan nilai transaksi mencapai Rp1.092 triliun pada November 2025.

Sementara itu, volume transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 0,87 juta transaksi, dengan nilai sebesar Rp20.463 triliun pada November 2025.

Dari sisi pengelolaan uang rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 13,09 persen (yoy) menjadi Rp1.250,60 triliun pada November 2025.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.