Sinner Juara Wimbledon, Obat Rangkaian Kegagalan

Selasa, 14 Jul 2026, 06:38 WIB

LONDON – Petenis Italia Jannik Sinner kembali menegaskan dominasinya di tenis dunia setelah sukses mempertahankan gelar Wimbledon. Sinner menundukkan Alexander Zverev dalam pertarungan sengit empat set, 6-7 (7/9), 7-6 (7/2), 6-3, 6-4, dalam laga final di Centre Court, Senin (13/7) dini hari WIB.

Gelar tersebut menjadi trofi Grand Slam kelima sepanjang karier Sinner. Meski koleksi gelarnya terus bertambah, petenis nomor satu dunia itu menegaskan bahwa setiap kemenangan di turnamen mayor tetap merupakan pencapaian yang sangat langka.

Ket. Foto: Jannik Sinner dari Italia berpose dengan trofinya setelah mengalahkan Alexander Zverev dari Jerman dalam pertandingan final tunggal putra tenis pada hari keempat belas Kejuaraan Wimbledon 2026 di The All England Lawn Tennis and Croquet Club di Wimbledon, London pada 12 Juli 2026. — Sumber: Adrian Dennis / AFP

“Tidak ada kegagalan jika Anda tidak memenangkan Grand Slam. Saya baru memiliki lima gelar sepanjang hidup saya. Dibandingkan begitu banyak hari dalam karier, itu hanya lima hari yang sangat istimewa,” ujar Sinner.

Menurut petenis berusia 24 tahun itu, tampil di final Grand Slam saja sudah menjadi pengalaman luar biasa. Karena itu, dia tidak pernah menganggap setiap kesempatan sebagai sesuatu yang biasa.

Keberhasilan di Wimbledon juga menjadi penebusan setelah serangkaian hasil mengecewakan. Tahun lalu kalah dari Carlos Alcaraz di final US Open. Kemudian disingkirkan Novak Djokovic di semifinal Australia Open. Kekalahan paling menyakitkan datang di Prancis Open bulan lalu ketika dia gagal mempertahankan keunggulan dua set dan 5-1 sebelum akhirnya tersingkir.

Sinner mengaku perkembangan permainannya selama Wimbledon menjadi kunci keberhasilan mempertahankan gelar. Setelah harus berjuang hingga lima set pada laga pembuka, performanya terus meningkat hingga mencapai puncak di partai final.

“Saya berkembang sepanjang turnamen. Jika dibandingkan dua atau tiga pertandingan pertama dengan penampilan saya di final, peningkatannya sangat terasa. Itulah yang saya butuhkan,” katanya.

Pelatih Sinner, Darren Cahill, meyakini anak asuhnya masih memiliki masa depan yang sangat panjang. Menurutnya, gelar Wimbledon kali ini memang tidak lebih penting dibanding trofi Grand Slam lainnya, tetapi tetap terasa sangat spesial.

Kemenangan itu juga membuat Sinner kini mengoleksi lima gelar Grand Slam, hanya terpaut dua trofi dari Alcaraz yang masih menjalani pemulihan cedera pergelangan tangan. Seusai pertandingan, Sinner mendapat ucapan selamat dari Pangeran William, Putri Catherine, serta Pangeran George dan Putri Charlotte. Dengan senyum lebar, dia mengaku hanya sempat berbincang singkat dan menanyakan apakah kedua anak kerajaan Inggris itu masih bermain tenis.

Di sisi lain, kekalahan tidak mematahkan tekad Alexander Zverev. Meski gagal menjadi petenis Jerman pertama yang menjuarai Wimbledon sejak Michael Stich pada tahun 1991, finalis berusia 29 tahun itu menilai musim ini menunjukkan perkembangan signifikan dalam kariernya.

Setelah meraih gelar Grand Slam pertamanya di Prancis Open, Zverev kini menembus final Wimbledon untuk kali pertama dan dipastikan naik ke peringkat kedua dunia, berada di belakang Sinner dan melewati Alcaraz. ben/AFP/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.