• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Studi Terbaru: Terlalu Ban...

Studi Terbaru: Terlalu Banyak Main Media Sosial Kurangi Kemampuan Konsentrasi Anak

Minggu, 14 Des 2025, 09:02 WIB

Studi terbaru menyebutkan bahwa media sosial dapat menguras kemampuan anak-anak untuk berkonsentrasi.

Anak-anak yang menghabiskan banyak waktu di Instagram, Snapchat, TikTok, Facebook, Twitter, atau Messenger secara bertahap menjadi kurang mampu untuk fokus dan memperhatikan, demikian laporan para peneliti AS di jurnal Pediatrics Open Science seperti dilaporkan UPI.

Ket. Foto: Dampak media sosial pada anak-anak. — Sumber: Troomi

Hal ini mungkin sebagian menjelaskan mengapa diagnosis ADHD meningkat di kalangan anak-anak dalam beberapa tahun terakhir, kata para peneliti. ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder merupakan gangguan perkembangan saraf ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian, berperilaku hiperaktif, dan bertindak tanpa pikir panjang.

"Studi kami menunjukkan bahwa media sosial secara khusus mempengaruhi kemampuan anak-anak untuk berkonsentrasi," kata peneliti senior Torkel Klingberg, seorang profesor ilmu saraf kognitif di Karolinska Institutet di Swedia.

"Media sosial menghadirkan gangguan terus-menerus berupa pesan dan notifikasi, dan sekadar memikirkan apakah pesan telah sampai dapat menjadi gangguan mental," kata Klingberg dalam siaran pers. "Hal ini mempengaruhi kemampuan untuk tetap fokus dan dapat menjelaskan keterkaitan tersebut."

Untuk studi baru ini, para peneliti melacak lebih dari 8.300 anak-anak AS berusia 9 hingga 10 tahun selama empat tahun.

Anak-anak secara teratur melaporkan berapa banyak waktu yang mereka habiskan di media sosial, menonton TV atau video, atau bermain video game. Orang tua memberikan penilaian tentang tingkat perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas anak-anak mereka.

Selama penelitian, rata-rata waktu yang dihabiskan di media sosial meningkat dari sekitar 30 menit sehari untuk anak berusia 9 tahun menjadi 2,5 jam untuk anak berusia 13 tahun, demikian hasil penelitian menunjukkan.

Para peneliti menemukan bahwa penggunaan media sosial dalam jumlah rata-rata pun dapat mengurangi kemampuan anak-anak untuk berkonsentrasi, dan efeknya semakin meningkat seiring waktu.

Selain itu, anak-anak yang sudah kesulitan berkonsentrasi tidak mulai menggunakan media sosial lebih banyak. Hal itu menunjukkan bahwa penggunaan media sosial menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, bukan sebaliknya, kata para peneliti.

Tidak ditemukan kaitan antara kurangnya perhatian dan anak-anak yang menonton televisi atau bermain video game.

Lebih lanjut, para peneliti menemukan bahwa hubungan antara kurangnya perhatian dan media sosial tidak dipengaruhi oleh latar belakang sosial ekonomi anak atau kecenderungan genetik apa pun yang mereka miliki terhadap ADHD.

Para peneliti juga tidak menemukan peningkatan perilaku hiperaktif atau impulsif, yang merupakan ciri khas lain dari ADHD.

"Peningkatan konsumsi media sosial mungkin menjelaskan sebagian dari peningkatan diagnosis ADHD yang kita lihat, meskipun ADHD juga dikaitkan dengan hiperaktivitas, yang tidak meningkat dalam penelitian kami," kata Klingberg.

Para peneliti berencana untuk terus mengikuti perkembangan anak-anak tersebut untuk melihat apakah hubungan tersebut tetap ada hingga mereka memasuki usia remaja.

"Kami berharap temuan kami akan membantu orang tua dan pembuat kebijakan dalam mengambil keputusan yang tepat mengenai konsumsi digital yang sehat yang mendukung perkembangan kognitif anak-anak," kata peneliti utama Samsin Nivins, seorang peneliti pascadoktoral di Karolinska Institutet, dalam siaran pers.

Studi ini dilakukan bekerja sama dengan para peneliti di Oregon Health & Science University di Portland.

  • Pembatasan Media Sosial

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.