- Home
-
- Luar Negeri
-
- AS Siapkan Langkah Lebih K...
AS Siapkan Langkah Lebih Keras: Kapal Tanker di Dekat Venezuela Bakal Disita Lagi
Jumat, 12 Des 2025, 17:00 WIBJAKARTA - Amerika Serikat tengah mempersiapkan operasi penyitaan tambahan terhadap kapal tanker yang beroperasi di lepas pantai Venezuela setelah langkah awal penangkapan kapal pertama dilakukan pada pekan ini. Pemerintah AS menilai bahwa tindakan tersebut diperlukan untuk memperkuat penegakan sanksi terhadap sektor energi Venezuela yang dinilai masih melanggar pembatasan internasional.
Sejumlah pejabat AS mengungkapkan bahwa operasi lanjutan sudah dalam tahap persiapan teknis dan diplomatik, termasuk koordinasi dengan negara mitra yang memiliki yurisdiksi perairan di sekitar kawasan itu. Mereka menyebut bahwa penyitaan pertama memberikan sinyal kuat bahwa Washington tidak akan mentoleransi aktivitas minyak yang dianggap ilegal.
"Kami akan terus menindak kapal yang terlibat dalam pengiriman minyak secara tidak sah," kata salah satu pejabat Departemen Keuangan AS.
Ia menambahkan bahwa penyitaan tambahan akan dilakukan bila ada bukti kuat terkait pelanggaran yang berkelanjutan.
Sementara itu, pihak Venezuela mengecam keras tindakan AS dan menyebutnya sebagai bentuk agresi yang melanggar kedaulatan negara. Pemerintah Caracas menilai bahwa tindakan tersebut tidak memiliki dasar legal yang jelas dan hanya memperburuk hubungan diplomatik yang sudah tegang.
"Ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional," ujar salah satu pejabat senior Venezuela dalam pernyataannya. Ia menuduh Washington menggunakan sanksi sebagai alat politik untuk menekan pemerintah Venezuela.
Kapal tanker yang pertama disita dilaporkan mengangkut minyak yang disebut AS sebagai bagian dari perdagangan yang melanggar sanksi. Kapal tersebut kini berada dalam pengawasan otoritas AS, dan proses hukum terhadap pemilik serta operatornya sedang berjalan.
Analis energi menyebut bahwa langkah terbaru AS bisa mengganggu pola distribusi minyak Venezuela yang selama ini memanfaatkan jalur tidak resmi untuk menghindari pengawasan. Mereka menilai bahwa operasi penyitaan tambahan dapat membuat banyak perusahaan kapal meninjau ulang rute dan kontrak mereka.
Di sisi lain, sejumlah negara yang selama ini bekerja sama dengan Venezuela dalam ekspor energi menyatakan kekhawatiran bahwa tindakan AS dapat memicu instabilitas pasar minyak internasional. Mereka menilai bahwa pengetatan sanksi yang terlalu agresif bisa memicu kenaikan harga bahan bakar global.
Pejabat AS menegaskan bahwa tindakan ini bukan upaya untuk menciptakan kekacauan pasar energi, tetapi semata-mata untuk memastikan bahwa aturan sanksi ditegakkan secara konsisten. Mereka menilai bahwa kegiatan-kegiatan pelanggaran tetap menjadi ancaman karena memungkinkan aliran dana ke pihak-pihak yang disanksi.
Kelompok hak asasi manusia juga ikut mengkritik dampak tidak langsung dari sanksi yang menggencet ekonomi Venezuela. Mereka memperingatkan bahwa penyitaan tambahan bisa mempengaruhi pendapatan nasional yang sudah berada pada titik kritis, sehingga memperburuk kondisi hidup masyarakat.
Meski begitu, pemerintah AS menyatakan bahwa kebijakan sanksi tetap menjadi instrumen penting dalam memberi tekanan politik kepada rezim yang dianggap melanggar prinsip demokrasi. Mereka menekankan bahwa ada ruang bagi Venezuela untuk mendapatkan keringanan bila memenuhi syarat politik tertentu.
Situasi di perairan Venezuela kini berada dalam pengawasan ketat, dengan beberapa kapal komersial disebut mulai mengubah jalur pelayaran untuk menghindari intersepsi. Analis menyebut bahwa pola ini dapat mengindikasikan meningkatnya kekhawatiran industri maritim terhadap risiko hukum yang datang dari Washington.
Washington masih menahan detail soal berapa banyak kapal yang akan menjadi target selanjutnya, namun sumber internal menyebut bahwa daftar tersebut mencakup beberapa kapal yang berasal dari operator di berbagai negara. Pemerintah AS memastikan bahwa operasi akan terus berjalan selama pelanggaran tetap terjadi.
Dengan ketegangan yang semakin terlihat di kawasan tersebut, sejumlah diplomat regional menyerukan agar AS dan Venezuela kembali membuka jalur dialog untuk meredakan situasi. Mereka menilai bahwa tindakan militer dan penyitaan tanpa komunikasi dapat memicu gesekan yang lebih luas dan mengancam stabilitas perairan Karibia.
- Amerika Serikat
- Kapal Tanker
- karibia
- Venezuela
- Penyitaan Aset
- Konflik AS-Venezuela
- Serangan Militer AS di Laut Karibia
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Kemhan Bantah Amerika Serikat Bebas Lintas Udara di MDCP: Kedaulatan RI Jadi Prioritas
-
AS Cabut Larangan, Rajungan Gillnet RI Bebas Masuk Pasar AS Lagi
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
AS Membentuk Komando Pasukan Khusus Penjaga Pantai untuk Mendukung Kebutuhan Penyitaan Kapal Musuh
-
Dampingi Presiden Salat Id di Aceh Tamiang, Menteri PU Pastikan Rumah Hunian Telah Ditempati
-
Amerika Serikat dan Vietnam Bersatu, Dominasi Tiongkok di Industri Chip Terancam Runtuh
-
Arus Balik Lebaran 2026 Capai Puncak Hari Ini, Jasa Marga Siapkan Strategi Khusus di GT Cileunyi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.