Enam Fenomena Langit Bakal Terjadi di Bulan Desember Ini
Rabu, 03 Des 2025, 17:00 WIBJAKARTA - Langit Desember 2025 menghadirkan rangkaian fenomena astronomi yang menutup kalender pengamatan tahun ini. Peristiwa tersebut dapat dinikmati pengamat langit dari berbagai wilayah Indonesia.
Berdasarkan jadwal astronomi global, Desember dipenuhi enam agenda penting yang menawarkan momen visual terbaik. Fenomena ini sangat ideal diamati dari lokasi minim polusi cahaya.
Peristiwa yang hadir mencakup supermoon penutup tahun hingga puncak hujan meteor Geminid. Seluruhnya memberikan kesempatan unik bagi pengamat untuk mengabadikan langit malam.
1. Supermoon Cold Moon (4 Desember)
Supermoon terakhir tahun 2025 muncul pada 4 Desember ketika Bulan berada dekat perigee. Kondisi ini membuat Bulan tampak lebih besar dan lebih terang dibanding purnama biasa.
Fenomena ini dikenal sebagai Cold Moon bagi suku asli Amerika karena menandai awal suhu dingin. Supermoon ini juga menjadi momen terakhir dari tiga supermoon yang terjadi sepanjang 2025.
2. Raja Hujan Meteor Geminid (13â14 Desember)
Hujan meteor Geminid berlangsung dari 7 hingga 17 Desember dengan puncak pada 13 hingga 14 Desember. Fenomena ini mampu menghasilkan sekitar 120 meteor berwarna setiap jam.
Geminid berasal dari puing asteroid 3200 Phaethon yang ditemukan pada 1982 dan bukan komet. Pengamatan terbaik dilakukan setelah tengah malam dari lokasi gelap tanpa polusi cahaya.
3. Merkurius pada Elongasi Barat Terbesar (7 Desember)
Merkurius mencapai elongasi barat terbesar pada 7 Desember dengan jarak 20,7 derajat dari Matahari. Fenomena ini menjadi waktu terbaik untuk melihat Merkurius di langit timur menjelang fajar.
Planet tersebut akan berada pada titik tertinggi di atas cakrawala sebelum Matahari terbit. Kondisi ini memudahkan pengamatan tanpa bantuan teleskop besar.
4. Titik Balik Matahari Desember (21 Desember)
Titik balik matahari terjadi pada 21 Desember ketika Kutub Selatan Bumi miring ke arah Matahari. Peristiwa ini menandai awal musim dingin di utara dan musim panas di selatan.
Matahari mencapai posisi paling selatan di langit dan menghasilkan perubahan panjang siang. Fenomena ini menjadi penanda astronomis pergantian musim global.
5. Bulan Baru Desember (20 Desember)
Bulan Baru terjadi pada 20 Desember ketika Bulan sejajar dengan Matahari. Pada fase ini, Bulan tidak terlihat di langit malam.
Kondisi minim cahaya ini sangat ideal untuk mengamati objek redup seperti gugus bintang. Langit mencapai kegelapan maksimal sehingga detail objek tampak lebih jelas.
6. Hujan Meteor Ursid (21â22 Desember)
Hujan meteor Ursid mencapai puncak antara 21 hingga 22 Desember. Fenomena ini berasal dari puing Komet Tuttle dengan intensitas sekitar 5 hingga 10 meteor per jam.
Karena bulan sabit terbenam lebih awal, langit menjadi lebih gelap sepanjang malam. Kondisi ini memungkinkan pengamatan lebih baik meski intensitas Ursid tergolong rendah. ils/I-1
- Fenomena Astronomi
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Inovasi “Motor Senyum”, Polisi Bagikan Camilan Gratis di Tengah Macet Puncak
-
Awal Tahun Menggembirakan: Penerimaan Negara Tembus Rp172 Triliun
-
19-20 Desember Diprediksi Dishub DKI Puncak Arus Mudik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026
-
BP Tapera Cetak Rekor Penyaluran Rumah Subsidi 2025: Hampir 280 Ribu Unit Tersalur
-
Bupati Lumajang Sebut Ketahanan Pangan Dimulai Kemandirian Olahan Lokal
-
Victoria Mboko, Petenis Muda Kanada Siap Menapaki Panggung Elit Dunia
-
Diskusi Program Tiga Juta Rumah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.