Awal Tahun Menggembirakan: Penerimaan Negara Tembus Rp172 Triliun
Rabu, 04 Feb 2026, 20:35 WIBJAKARTA â Penerimaan negara pada Januari 2026 yang tercatat lebih baik dibandingkan periode sama tahun sebelumnya mencerminkan mulai membaiknya aktivitas ekonomi serta efektivitas pengelolaan fiskal di awal tahun.
Kinerja positif ini didorong oleh peningkatan penerimaan pajak dan kepabeanan, seiring stabilnya konsumsi domestik dan perbaikan harga komoditas.
Meski demikian, capaian awal tahun ini tetap perlu dicermati secara berkelanjutan, mengingat tantangan eksternal dan volatilitas pasar global masih berpotensi memengaruhi kinerja fiskal sepanjang 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan penerimaan negara tercatat mencapai Rp172,7 triliun per 31 Januari 2026, tumbuh 9,8 persen (year-on-year/yoy) dibandingkan realisasi Januari tahun lalu senilai Rp157,3 triliun.
âAlhamdulillah, hingga 31 Januari 2026, realisasi penerimaan negara mencapai Rp172,7 triliun atau tumbuh sebesar 9,8 persen secara tahunan,â kata Purbaya dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR di Jakarta, Rabu (4/2).
Realisasi penerimaan per Januari itu setara dengan 5,5 persen target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun.
Purbaya menjelaskan kinerja penerimaan utamanya ditopang oleh penerimaan pajak yang tumbuh tinggi mencapai 30,8 persen, dengan nilai sebesar Rp116,2 triliun.
Penerimaan pajak telah mencapai 4,9 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp2.357,7 triliun.
âPertumbuhan tersebut berasal dari kenaikan penerimaan bruto sebesar 7 persen, serta penurunan signifikan restitusi hingga 23 persen, sehingga seluruh jenis pajak mencatat pertumbuhan neto positif,â ujar Purbaya.
Sementara itu, penerimaan bea dan cukai mengalami kontraksi sebesar 14 persen. Nilai realisasi penerimaan bea dan cukai tercatat sebesar Rp22,6 triliun atau setara 6,7 persen dari target Rp336 triliun.
Menurut Menkeu, penurunan itu dipengaruhi oleh lonjakan impor dengan tarif 2 persen sebesar 29 persen.
Selain itu, pelambatan juga disebabkan oleh turunnya harga minyak kelapa sawit (CPO) dari 1.059 dolar AS per metrik ton menjadi 916 dolar AS per metrik ton atau terkoreksi 13,5 persen.
Lebih lanjut, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga melemah dengan pertumbuhan negatif 19,7 persen.
Kontraksi ini disebabkan oleh tidak berulangnya setoran dividen perbankan sebesar Rp10 triliun pada tahun sebelumnya.
âGambaran penerimaan pajak bulan Januari ini menunjukkan bahwa kelihatannya betul-betul kembalikan arah ekonomi sedang terjadi, sehingga pendapatan pajaknya tumbuh dibandingkan dengan tahun lalu,â tutur Purbaya.
- penerimaan negara
- Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
- APBN 2026
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Kemenhan Pastikan TMP di Daerah Tetap Dikelola Pemda Setempat
-
Validasi Data Penerima PBI BPJS Kesehatan di Wilayah Jayapura
-
Menkeu Bidik Keseimbangan Baru, Defisit APBN 2027 Dipatok pada Level Modera
-
Menteri Keuangan hadiri simposium SMI 2026
-
San Antonio Spurs Kalahkan Portland Trail Blazers 114-95 di Game ke-5 Playoff
-
Dewan Pendidikan Surabaya Larang Siswa SMP Gunakan Motor
-
MU Segera Alihkan Fokus Hadapi Liverpool
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.