Anggaran Pelestarian 50 Situs Budaya dan Gapura Gedung Sate bak Bumi Langit
Senin, 24 Nov 2025, 00:45 WIBBANDUNG â Anggaran untuk pelestarian 50 situs hanya 156 juta, sedangkan renovasi gapura Gedung Sate sampai 3,9 miliar. Ini bak bumi langit. Anggota DPRD Jawa Barat (Jabar) Maulana Yusuf Erwinsyah mengungkapkan ironi kebijakan anggaran pemerintah provinsi yang menggelontorkan 3,9 miliar untuk gapura Gedung Sate. Namun, hanya mengalokasikan 156 juta untuk pelestarian 50 situs budaya Sunda asli pada 2026.
Maulana Yusuf menilai anggaran 3,9 miliar untuk proyek perbaikan lapangan parkir dan utamanya pembangunan gapura gerbang bergaya Candi Bentar tersebut, tidak hanya cacat prioritas, tetapi juga salah kaprah dalam merepresentasikan identitas budaya.
"Saya pikir mengurus situs cagar budaya peninggalan orang Sunda zaman dahulu lebih wajib, ketimbang membuat bangunan-bangunan baru, sekalipun niatnya memperlihatkan simbol-simbol Sunda," kata Maulana Yusuf di Bandung, Sabtu. Ia juga mempertanyakan urgensi pembangunan fisik yang diklaim sebagai "wajah baru" tersebut di tengah pemangkasan belanja pegawai dan kondisi infrastruktur publik yang memburuk.
Maulana Yusuf mencontohkan jalan provinsi Cisarua-Padalarang menuju Lembang yang kini rusak dan minim penerangan hingga membahayakan keselamatan warga, namun luput dari prioritas eksekutif. Sorotan tajam Yusuf juga diarahkan pada pemilihan desain Candi Bentar yang dinilai ahistoris dengan jati diri Kasundaan. Menurut dia, pemaksaan simbol budaya luar dalam ikon pemerintahan Jabar justru menunjukkan dangkalnya riset budaya dalam perencanaan pembangunan daerah.
Terkait lolosnya anggaran ini dalam APBD Perubahan 2025, Maulana Yusuf menyebut hal itu terjadi bukan karena kesepakatan bulat, melainkan akibat dominasi kehendak eksekutif yang memanfaatkan keterbatasan waktu pembahasan anggaran.
"Sebenarnya bukan disepakati, lebih kepada membiarkan keinginan Pak Gubernur yang keukeuh (bersikukuh) dengan keinginan sendiri," tuturnya. Lebih jauh legislator tersebut menolak keras rencana lanjutan pada 2026 yang menganggarkan lebih dari Rp10 miliar untuk pembangunan gerbang batas provinsi dan kabupaten/kota bergaya Sunda. Ia menilai proyek mercusuar semacam itu kontradiktif dengan minimnya perhatian pemerintah terhadap situs-situs sejarah yang nyata-nyata terancam punah.
Hari Angklung
Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta ingin memperkuat citra Kota Tua, Jakarta sebagai pusat wisata budaya bertaraf internasional melalui perayaan puncak Hari Angklung Sedunia ke-15 (World Angklung Day) di kawasan tersebut.
"Melalui perayaan Hari Angklung Sedunia, Pemprov DKI ingin memperkuat citra kawasan ini sebagai pusat wisata budaya bertaraf internasional," kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary di Jakarta, Minggu.
Selain itu, sambung dia, Pemprov DKI juga ingin menjadikan Kota Tua sebagai media aktif untuk memperkenalkan dan mengedukasi publik dunia tentang angklung sebagai warisan dunia (world heritage).
Adapun konsep puncak perayaan Hari Angklung Sedunia ke-15 disusun untuk menceritakan tiga fase penting perjalanan Jakarta, yakni fase Kerajaan PajajaranâSunda Kelapa, fase FatahillahâJayakarta dan fase Batavia pada era kolonial Belanda. Kota Tua pun dipilih sebagai lokasi kegiatan karena merepresentasikan perjalanan panjang sejarah Jakarta.
"Pemilihan Kota Tua sebagai lokasi perayaan juga karena merupakan salah satu kawasan dengan kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara yang sangat tinggi," kata Miftahulloh.
Mengusung tema âSymphony of Jakarta Heritageâ, puncak perayaan Hari Angklung Sedunia ke-15 diramaikan dengan berbagai pertunjukan seni termasuk konser angklung dari Saung Udjo Angklung, penampilan dari orkestra angklung serta perpaduannya dengan kesenian Betawi seperti gambang kromong, tari topeng dan ondel-ondel.
Selain itu, ada stan permainan tradisional seperti egrang dan angklung. Miftahulloh menyampaikan festival ini merupakan bentuk komitmen Jakarta dalam menghidupkan kembali energi warisan budaya di ruang publik. Sebelumnya, pada peringatan Hari Angklung Sedunia 16 November 2025, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta bersama mitra strategis mengadakan aktivasi serentak di beberapa titik ikonik Jakarta, salah satunya Bundaran Hotel Indonesia.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Revitalisasi Gedung Sate–Gasibu Jadi Sorotan! Guru Besar ITB Wanti-wanti Risiko Perencanaan
-
Kebakaran Besar di Tambora
-
Bukan Cuma Pameran Otomotif, GIIAS 2025 Hadirkan Kegiatan Edukatif dan Ruang Dialog
-
Mulai Tahun Depan, Upacara HUT RI Pemprov Jabar Digelar di Gedung Sate, Tak Lagi di Gasibu
-
Dialog Keumatan dan Kebangsaan
-
Peluncuran logo Imlek Festival 2026
-
Perkuat Ketahanan Pangan, BUMDes di Bekasi Kembangkan Ternak Sapi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.