- Home
-
- Luar Negeri
-
- Konferensi Perubahan Iklim...
Konferensi Perubahan Iklim di Brasil Menemui Jalan Buntu, Tapi Tetap Ditutup
Minggu, 23 Nov 2025, 09:06 WIBBELEM â Konferensi perubahan iklim ke-30 (COP 30) di Belem, Brasil tetap ditutup, meski belum ada solusi nyata atas masalh iklim. Pemerintah Indonesia menyampaikan bahwa Konferensi Perubahan Iklim ke-30 PBB (COP30) tetap ditutup Jumat (21/11) waktu setempat, meski negosiasi-negosiasi masih terus dilakukan untuk mencapai kesepakatan dalam penanganan perubahan iklim.
"Untuk tetap menjaga bahwa jadwal penutupan itu bisa dilakukan pada hari ini 21 November, Presidensi Brasil sudah melakukan upaya yang mereka sebut sebagai strategi diplomasi," kata Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Ary Sudijanto di sela-sela COP30 di Belém, Brasil, Jumat (21/11) waktu setempat.
Dia mengatakan Presidensi Brasil pun melakukan strategi dengan mengadakan pertemuan-pertemuan bilateral untuk mendekati negara-negara yang belum menemukan kata sepakat di meja negosiasi.
"Presidensi Brasil melakukan pertemuan bilateral dengan pihak-pihak yang memang masih mempunyai kecakapan terhadap beberapa teks yang diusulkan menjadi keputusan," katanya.
Presidensi Brasil pun mengadakan pertemuan bilateral dengan Indonesia untuk membahas isu gender. Pasalnya, Indonesia memiliki perbedaan persepsi dengan negosiator COP30 mengenai makna gender.
"Kita sudah bertemu dengan tim presidensi, kita menyampaikan konsep kita. Syukurlah pihak Presidensi Brasil mencoba untuk mengakomodasi beberapa masukan dari Indonesia. Walaupun tidak semua (masukan) bisa diterima, sehingga kita tetap pada hari ini menyampaikan catatan untuk menjadi pertimbangan bagi Presidensi Brasil," katanya. Sementara itu, untuk beberapa agenda lainnya, ada yang telah mencapai kata sepakat dan membuahkan keputusan.
"Ada beberapa yang sudah conclude, ada yang sudah diketok palu, jadi sudah ada teks decision yang sudah bersih (sepakat), sehingga kemudian diputuskan dalam forum pengambilan keputusan," katanya. Namun ada juga yang masih dalam perundingan.
"Juga ada beberapa yang terus dibangun. Jadi ada yang sifatnya conclude, tetapi draft text-nya belum bersih (belum sepakat), masih ada beberapa bracket yang kemudian diangkat pembahasannya dari sebelumnya di Subsidiary Body ke proses pengambilan keputusan, baik itu di CMP (Protokol Kyoto), CNA (Paris Agreement), maupun COP," tambahnya. Pada pekan pertama penyelenggaraan COP30 tercatat pembahasan negosiasi masih di tingkat teknis.
Sementara itu, pada pekan kedua COP30, negosiasi dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan sehingga berlangsung lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama meski COP30 telah resmi berakhir.
"Kalau di minggu pertama itu masih diproses Subsidiary Body jadi hanya proses negosiasi tingkat teknis. Pada saat sekarang di minggu kedua, sudah pada tahapan pengambilan keputusan, hari ini rapat sampai jam 12 (malam).
Adaptasi Iklim
Pemerintah Indonesia menyampaikan bahwa salah satu prioritas Indonesia dalam COP30 adalah memastikan adaptasi iklim mendapatkan perhatian setara dengan mitigasi.
"Indonesia mendorong kejelasan komitmen pendanaan adaptasi global yang wajib tercantum dalam teks keputusan, termasuk mandat tripling pendanaan yang sebelumnya disepakati," kata Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup Ary Sudijanto di Belém, Brasil, Sabtu (22/11) waktu setempat.
Menurut dia, hilangnya paragraf terkait angka pendanaan adaptasi dalam teks terbaru menjadi perhatian serius Indonesia karena dapat melemahkan arah implementasi global.
"Indonesia berada di garis depan memperjuangkan agar keputusan COP30 benar-benar memberikan arah implementatif. Tanpa kejelasan pendanaan, negara-negara rentan akan semakin tertinggal menghadapi krisis iklim yang kian nyata," kata Ary Sudijanto.
Indonesia juga menyampaikan catatan penting terkait definisi progresif gender yang muncul dalam draf keputusan. Indonesia menekankan bahwa konsep tersebut hanya dapat diterapkan dengan mempertimbangkan kondisi negara masing-masing.
Diplomasi dilakukan melalui pertemuan bilateral Indonesia dengan Presidensi Brasil, yang sebagian besar masukan Indonesia telah diakomodasi dalam rancangan terbaru.
Konferensi Perubahan Iklim Ke-30 Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP30) berlangsung sejak 10 November hingga 21 November 2025 di Belèm, Brasil.
Penutupan COP30 baru dilakukan pada Sabtu (22/11) waktu setempat, menyusul terjadinya insiden kebakaran di zona biru pada Kamis (20/11) yang membuat sejumlah agenda negosiasi tertunda.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Car Free Night Bogor Bakal Hadir di Kawasan Tegar Beriman saat Malam Tahun Baru
-
Kadin Optimistis: Ekonomi Segera Pulih, Usaha Kembali Normal
-
Terjebak Dalam Rumah saat Awan Panas, Satu Lagi Korban Luka Bakar dalam Erupsi Semeru
-
Jadi Aktor Kemenangan Atas Lithuania, Memphis Depay Ukir Rekor sebagai Pencetak Gol Terbanyak Belanda Sepanjang Masa
-
Hasil Resmi: Partai Promiliter Myanmar Menangkan Fase Pertama Pemilu yang Diselenggarakan Junta
-
Polisi Rio de Janeiro dapat Bonus Sampai 150% Gaji Jika Berhasil Bunuh Penjahat
-
Mantan Presiden Brasil yang Dipenjara Jalani Operasi Tenggorokan karena Cegukan Terus-menerus
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.