BMKG Keluarkan Peringatan Dini, Gubernur Mahyeldi Minta Masyarakat Sumbar Waspada Bencana
Minggu, 23 Nov 2025, 17:29 WIBGubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi mengingatkan masyarakat di provinsi setempat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana alam menyusul peringatan dini potensi bencana hidrometeorologi âââââdisampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
"Saya imbau seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul peringatan dini potensi bencana hidrometeorologi yang dikeluarkan BMKG untuk periode 21â27 November 2025," kata dia di Kota Padang, Minggu.
Peringatan tersebut dikeluarkan BMKG setelah terjadinya dinamika atmosfer yang meningkatkan peluang hujan lebat, banjir, dan tanah longsor di banyak wilayah di Sumbar.
Dalam menyikapi kondisi itu, ia mengatakan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama perhatian.
Ia juga menginstruksikan seluruh unsur pemerintah daerah hingga tingkat nagari (desa) bersiaga.
Ia mengimbau masyarakat untuk saling menjaga dan membantu satu sama lain dalam penanganan bencana alam.
"Kami mengingatkan seluruh masyarakat di Sumbar untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dan tanah longsor. Keselamatan adalah yang utama. Mari kita saling menjaga, saling mengingatkan dalam menghadapi cuaca ekstrem ini," ujar Mahyeldi.
BMKG menetapkan 14 kabupaten dan kota di Sumbar berstatus siaga, yakni Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Lima Puluh Kota, serta wilayah sekitar yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau Desindra Deddy Kurniawan mengatakan penguatan signifikan angin Monsun Asia turut memicu dominasi angin baratan di wilayah Indonesia, termasuk di daerah dengan sebutan Ranah Minang itu.
Ia menjelaskan aliran massa udara lembap dari Samudera Hindia yang bertemu dengan topografi Bukit Barisan berpotensi menimbulkan proses pengangkatan udara (orographic lifting) yang intens sehingga meningkatkan peluang pembentukan awan hujan.
Fenomena atmosfer lain, seperti IOD negatif, aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial, serta anomali suhu muka laut turut memperkuat potensi pertumbuhan awan konvektif, terutama di wilayah pesisir barat dan daerah perbukitan.
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Tim Koran Jakarta
Berita Terkait:
-
Indonesia Jadi Incaran Investasi Data Center, ESI Ingatkan Soal Listrik dan Energi Bersih
-
Kapolresta Karawang: Kesadaran Tertib Lalu Lintas Harus Ditanamkan Sejak Dini.
-
170 Pendaki Semeru Berhasil Dievakuasi dari Ranu Kumbolo Akibat Kebakaran
-
Como vs RB Leipzig: Tim Debutan Liga Champions Tantang Semifinalis 2020
-
Penumpukan sampah di Kabupaten Gowa
-
PT PP Properti Tbk (PPRO) Meraih Penghargaan Top SOE Subsidiaries Awards 2026 dari The Iconomics Media
-
Minum Kopi di Pagi Hari Bisa Melancarkan BAB, Benarkah? Ini Penjelasannya!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.