- Home
-
- Megapolitan
-
- IQAir: Kualitas Udara Jaka...
IQAir: Kualitas Udara Jakarta Masuk 10 Besar Terburuk di Dunia Pagi Ini
Jumat, 07 Agu 2026, 08:00 WIBJAKARTA - Kualitas udara di Jakarta pada Jumat (7/8) pagi menduduki posisi 10 besar sebagai kota dengan udara terburuk di dunia dan masuk ke dalam kategori udara tak sehat.
Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.05 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di posisi keenam terburuk di dunia dengan angka 139 atau masuk ke dalam kategori tidak sehat.
Polusi udara Jakarta, yakni PM2.5 dan nilai konsentrasi 70 mikrogram per meter kubik, yang berarti tingkat kualitas udaranya tidak sehat bagi kelompok sensitif, karena dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif, atau menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.
Dengan demikian, masyarakat direkomendasikan untuk selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor dan menyalakan penyaring udara.
Sementara itu, kategori sedang, yaitu kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan, tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.
Lalu, kualitas udara dengan kategori baik, yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika, dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.
Kemudian, kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299, artinya kualitas udara dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Terakhir, kategori berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius terhadap populasi..
Kota dengan kualitas udara terburuk urutan pertama, yaitu Manama (Bahrain) dengan indeks kualitas udara 154, Kinshasa (Republik Demokratik Kongo) pada urutan kedua dengan angka indeks 154, Portland (Amerika Serikat) pada peringkat ketiga dengan angka indeks 154, Dhaka (Bangladesh) pada posisi keempat dengan angka indeks 142, dan Doha (Qatar) pada urutan kelima dengan angka indeks 139.
Terkait kualitas udara di Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjalankan sejumlah strategi untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Pertama, yakni melakukan perluasan jangkauan layanan bus Transjabodetabek, di antaranya Blok M-Alam Sutera, Blok M-PIK 2, dan Blok M-Bandara Soekarno Hatta untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pun mengajak seluruh masyarakat untuk memanfaatkan layanan transportasi publik yang telah disediakan Pemprov DKI. Bahkan, Pemprov DKI telah menerbitkan aturan terkait pemberlakuan layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat.
Strategi selanjutnya, yaitu dengan mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas pengolahan sampah RefusedDerivedFuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Viral Minuman Kolesom Jumbo, LPPOM: Alkohol 19,7 Persen Tergolong Khamr, Haram!
-
OJK Yakin Kredit UMKM Terus Meningkat hingga Pengujung 2026
-
Pemprov Kaltara Usulkan Percepatan Pembangunan Jalan Perbatasan Krayan ke Kementerian PU
-
GoPay Luncurkan Fitur Transfer Luar Negeri, Kirim Uang ke 7 Negara Langsung dari Aplikasi
-
IQAir: Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat Pagi Ini, Kelima Terburuk di Dunia
-
Kamis Pagi, Kualitas Udara Jakarta Ketiga Terburuk di Dunia pada Kamis pagi
-
Resmi Dibuka Gubernur Pramono, JF3 2026 Jadi Mesin Ekonomi Kreatif Jakarta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.