• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • NetApp Hadirkan Operasi Ot...

NetApp Hadirkan Operasi Otonom Berbasis AI untuk Infrastruktur Hibrida

Jumat, 02 Okt 2026, 14:15 WIB

JAKARTA — NetApp memperkenalkan sejumlah kapabilitas baru untuk mendukung pengelolaan infrastruktur hybrid multi-cloud, termasuk operasi otonom berbasis kecerdasan buatan (AI) yang tetap berada dalam pengawasan manusia.

Kapabilitas tersebut dirancang untuk membantu perusahaan mengelola beban kerja yang tersebar di berbagai lingkungan, mulai dari pusat data (on-premise), public cloud, wilayah berdaulat (sovereign region), hingga arsitektur AI Factory.

Ket. Foto: Senior Vice President and General Manager, Platform NetApp Sandeep Singh dalam ajang NetApp Insight 2026 di Las Vegas, Amerika Serikat, yang berlangsung dari 28 September hingga 1 Oktober 2026. Di ajang ini, NetApp memperkenalkan kapabilitas hybrid multi-cloud dengan operasi otonom berbasis AI yang tetap berada dalam pengawasan manusia untuk meningkatka — Sumber: NetApp

NetApp mengatakan perkembangan aplikasi dan beban kerja AI membuat infrastruktur perusahaan semakin terdistribusi. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan terhadap model operasi yang konsisten, sekaligus tetap memperhatikan tata kelola, ketahanan, efisiensi, keamanan, serta kendali atas lokasi dan penggunaan data.

Senior Vice President and General Manager, Platform NetApp Sandeep Singh mengatakan perusahaan tidak seharusnya memilih antara kendali infrastruktur on-premise dan fleksibilitas cloud.

“Dengan kapabilitas hybrid multi-cloud baru ini, NetApp membantu perusahaan menghilangkan batas antar-lingkungan, beroperasi dengan otonomi yang lebih besar, serta menempatkan efisiensi, kedaulatan, dan kontrol sebagai inti strategi data mereka,” ujar Sandeep melalui keterangannya pada hari Jumat (2/10).

Operasi Otonom dengan Pengawasan Manusia

Salah satu pembaruan utama adalah NetApp Console Autonomous Operations. Kapabilitas ini dirancang untuk mengurangi proses administrasi manual dan pengelolaan berbagai perangkat yang terfragmentasi dalam lingkungan hybrid berskala besar.

Teknologi tersebut memanfaatkan otomatisasi berbasis hasil dan AI untuk membantu tim memprediksi masalah, mempercepat penyelesaian insiden, serta mengoptimalkan kapasitas dan biaya. Pengoperasiannya menggunakan desain API-first dan orkestrasi berbasis agentic AI.

Meski menghadirkan otomatisasi, sistem tetap menempatkan manusia sebagai pengawas. Pendekatan tersebut memungkinkan operasi berbasis AI berjalan dalam batas kebijakan dan kontrol yang ditetapkan perusahaan, termasuk pada lingkungan air-gapped.

NetApp juga memperkenalkan NetApp Console AI ChatOps Interface yang memungkinkan administrator berinteraksi dengan sistem melalui antarmuka percakapan. Sistem ini ditujukan untuk mengurangi pekerjaan manual dalam mengelola infrastruktur penyimpanan yang tersebar.

Melalui antarmuka tersebut, pengguna dapat menjalankan operasi penyimpanan otonom, intent-based provisioning, serta menerapkan policy guardrails pada sistem penyimpanan ONTAP. Fitur lain mencakup pelaporan berbasis AI, analitik prediktif, dan remediasi otomatis.

Sistem tersebut dapat beroperasi melalui LLM gateway terbuka sehingga pelanggan dapat menggunakan model bahasa besar (LLM) mereka sendiri. Tindakan yang dilakukan tetap dibatasi oleh kelas penyimpanan, kebijakan, serta aturan tata kelola yang telah ditetapkan.

Kelola Infrastruktur Sebagai Satu Kesatuan

NetApp juga memperkenalkan NetApp Console Fleet Management untuk membantu perusahaan mengelola berbagai aset infrastruktur sebagai satu kesatuan.

Kapabilitas tersebut menggabungkan fleet management, observability, dan AI melalui model pengiriman Console yang dapat dipasang langsung di lingkungan pelanggan. Dengan pendekatan ini, NetApp Console menawarkan dua model pengiriman untuk menyesuaikan kebutuhan perusahaan berdasarkan lokasi dan karakteristik data.

Sementara itu, NetApp Keystone Sovereign ditujukan bagi pelanggan yang membutuhkan pengelolaan data dengan mempertimbangkan aspek kedaulatan dan residensi data.

Pelanggan yang memenuhi syarat di Wilayah Ekonomi Eropa dapat memanfaatkan kontrol kedaulatan data yang mencakup aspek lokasi data serta pertimbangan teknis dan regional untuk mendukung kebutuhan kepatuhan.

Kolaborasi dengan Nutanix

NetApp juga memperluas kerja sama dengan Nutanix untuk membantu perusahaan mengelola lingkungan virtualisasi dan mempertahankan fleksibilitas arsitektur.

Integrasi NetApp ONTAP dengan Nutanix Cloud Infrastructure dirancang untuk mendukung beban kerja tervirtualisasi melalui kombinasi skala, keamanan, dan fleksibilitas operasional.

Kapabilitas terintegrasi tersebut dijadwalkan tersedia secara umum pada musim gugur 2026.

Melalui berbagai pembaruan tersebut, NetApp mengembangkan pendekatan hybrid multi-cloud yang menggabungkan pengelolaan lintas lingkungan, otomatisasi berbasis AI, kontrol data, serta model konsumsi as-a-service.

Group Vice President, Cloud and Datacenters, Enterprise Infrastructure IDC Dave McCarthy mengatakan perusahaan saat ini menghadapi kebutuhan untuk mendukung beban kerja era AI di lingkungan yang semakin tersebar, sembari mempertahankan tata kelola dan pengendalian biaya.

“Strategi hybrid multi-cloud NetApp menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan operasi otonom, layanan data yang konsisten, jaminan efisiensi, dan model konsumsi yang memperhatikan kedaulatan data dalam satu platform,” ujar Dave.

NetApp menyatakan informasi mengenai penawaran yang belum dirilis dan rencana pengembangan ke depan dapat berubah sewaktu-waktu. Perusahaan juga menegaskan informasi tersebut bukan merupakan komitmen atau jaminan terkait ketersediaan, fungsi, harga, maupun waktu peluncuran produk.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.