Begini Cara Negara Mendongkrak Daya Beli Kelas Menengah

Jumat, 14 Nov 2025, 02:01 WIB

JAKARTA – Selama ini pertumbuhan ekonomi didongkrak belanja dalam negeri. Untuk itu, perlu terus meningkatkan daya beli masyarakat terutama kelas menengah. Lalu bagaiman caranya? Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional Luthfi Ridho mengungkap, tahun depan akan ada dua kebijakan utama yang diarahkan untuk meningkatkan daya beli kelompok kelas menengah.Sebab, menurutnya pertumbuhan ekonomi saat ini masih bisa dimaksimalkan potensinya, khususnya dari segi daya beli masyarakat.

"Tren konsumsi rumah tangga turun, dan ini yang ingin kami balikkan. Kelas menengah harus percaya diri atas peluang pendapatan ke depan," ujar Lutfhi dalam diskusi di Jakarta, Kamis. Dua kebijakan yang dimaksud yakni formula Upah Minimum Provinsi (UMP) yang seimbang dan perbaikan aturan investasi lewat debottlenecking, termasuk terkait tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).

Ket. Foto: daya beli warga — Sumber: ist

"Semoga keduanya bisa menjawab turunnya daya beli. Tapi output-nya tetap perlu kerja sama semua pihak agar Indonesia semakin kompetitif," kata dia. Sebagaimana diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,04 persen pada kuartal III 2025. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama dengan menyumbang 53,14 persen dari total produk domestik bruto (PDB). Meski demikian, pertumbuhan konsumsi rumah tangga mengalami perlambatan.

Pada periode yang sama tahun 2024, konsumsi rumah tangga tumbuh masing-masing sebesar 4,97 persen (yoy) dan 4,96 persen (ctc), sementara pada triwulan III 2025 tumbuh 4,89 persen (yoy) dan 4,94 persen (ctc). Menurut Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, capaian di kuartal III sudah sesuai ekspektasi, sekaligus membuka ruang optimistis untuk tahun depan terutama jika konsumsi kelas menengah bisa dipulihkan.

"Pertumbuhan tahun depan berpeluang lebih baik dari tahun ini. Kuncinya ada pada sinergi kebijakan internal, yakni fiskal, moneter, dan sektor riil, sembari memberi ‘vitamin C’, yaitu confidence. Demand dan supply harus dijaga bersama," tutur Josua. "Kuartal III sesuai proyeksi kami, termasuk perlambatan konsumsi rumah tangga yang sifatnya musiman. Motor pertumbuhan tetap konsumsi, lalu investasi, dan net ekspor. Tapi memang data BPS menunjukkan daya beli kelas menengah turun," tambahnya.

Sementara, Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence Sunarsip menilai, pencapaian kuartal III sudah berada pada level yang optimal mengingat situasi sosial dan politik yang terjadi pada periode ini. "Angka 5,04 persen ini bagus, optimal menurut saya, karena situasinya waktu Juli-September memang tidak mendukung. Dunia usaha tidak bergerak, konsumsi rumah tangga pun stagnan. Tanpa konsumsi pemerintah, pertumbuhannya bisa lebih rendah lagi," terang Sunarsip.

Maka dari itu, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke depan, ia menyarankan untuk fokus memperbaiki sisi suplai dalam menciptakan lapangan kerja."Sentuhlah sektor riil, hilangkan bottleneck pembiayaan. Kalau ini disentuh, tanpa insentif fiskal pun kita bisa tumbuh lebih dari 5 persen tahun depan," tutupnya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.