- Home
-
- Luar Negeri
-
- Air Minum di Teheran Bisa ...
Air Minum di Teheran Bisa Habis dalam Dua Minggu
Senin, 03 Nov 2025, 05:55 WIBTEHERAN - Sumber utama air minum bagi penduduk ibu kota Iran, Teheran, terancam kering dalam waktu dua minggu, menurut media pemerintah, akibat kekeringan bersejarah yang melanda negara itu.
Dari Al Jazeera, bendungan Amir Kabir, salah satu dari lima bendungan yang menyediakan air minum bagi Teheran, âhanya menampung 14 juta meter kubik air, yang merupakan delapan persen dari kapasitasnyaâ, kata direktur perusahaan air ibu kota, Behzad Parsa, seperti dikutip oleh kantor berita IRNA pada hari Minggu.
Pada tingkat tersebut, Iran hanya dapat terus memasok air ke Teheran âselama dua mingguâ, ia memperingatkan.
Pengumuman ini muncul di tengah kekeringan terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Curah hujan di Provinsi Teheran "hampir tak pernah terjadi sebelumnya selama seabad", ungkap seorang pejabat setempat bulan lalu.
Kota besar dengan penduduk lebih dari 10 juta orang ini terletak di lereng selatan Pegunungan Alborz yang sering kali tertutup salju, yang menjulang setinggi 5.600 meter (18.370 kaki) dan sungai-sungainya mengairi banyak waduk.
Setahun yang lalu, bendungan Amir Kabir menahan 86 juta meter kubik air, kata Parsa, tetapi terjadi âpenurunan curah hujan sebesar 100 persenâ di wilayah Teheran.
Parsa tidak memberikan rincian tentang status waduk lain dalam sistem tersebut.
Menurut media Iran, penduduk Teheran mengonsumsi sekitar tiga juta meter kubik air setiap hari.
Sebagai tindakan penghematan air, pasokan air dilaporkan telah diputus ke beberapa lingkungan dalam beberapa hari terakhir, sementara pemadaman air sering terjadi pada musim panas ini.
Pada bulan Juli dan Agustus, dua hari libur umum ditetapkan untuk menghemat air dan energi, dengan pemadaman listrik terjadi hampir setiap hari di tengah gelombang panas yang mengakibatkan suhu naik hingga lebih dari 40 derajat Celsius (104 Fahrenheit) di Teheran dan melebihi 50 derajat Celsius (122F) di beberapa daerah.
âKrisis air lebih serius daripada yang sedang dibicarakan saat ini,â Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan saat itu.
Kelangkaan air merupakan masalah utama di seluruh Iran, khususnya di provinsi-provinsi kering di bagian selatan negara itu, yang disebabkan oleh salah urus dan eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya bawah tanah, serta dampak perubahan iklim yang semakin besar.
Tetangga Iran, Irak, mengalami tahun terkering yang pernah tercatat sejak 1993, karena Sungai Tigris dan Efrat, yang mengalir ke Teluk Persia dari Asia Barat, mengalami penurunan permukaan air hingga 27 persen akibat rendahnya curah hujan dan pembatasan aliran air di hulu, yang mengakibatkan krisis kemanusiaan parah di bagian selatan negara itu.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Awas! Hati-hati Penipuan Berkedok Rekrutmen KAI Palsu Lewat Medsos
-
Kemendag Terbitkan Dua Regulasi Baru untuk Pangkas Hambatan Perizinan Ekspor
-
KAI Commuter Tambah 30 Kereta Baru untuk Layani 86,8 Juta Pengguna
-
600 Ha Sawah di Nagan Raya Aceh Alami Kekeringan Parah
-
Jaga Stabilitas Harga: Bapanas Sebut Stok Beras Aman hingga April 2027
-
Rekomendasi Acara Akhir Pekan yang Bisa Dinikmati di Jakarta, Ada Jazz Goes to Campus di TIM!
-
Ancaman Kekeringan Mengintai, DKPP Kota Madiun Desak Petani Lakukan Siasat Ini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.