Filipina Jadi Ketua Asean dengan Fokus pada LTS

Kamis, 30 Okt 2025, 02:46 WIB

KUALA LUMPUR - Malaysia pada Selasa (28/10) me­nye­rahkan kepemimpinan blok regional Asia tenggara kepada Filipina, dengan sengketa wilayah di Laut Tiongkok Selatan (LTS) akan mendominasi agenda ketika Manila meng­ambil alih pada tahun 2026.

PM Anwar Ibrahim, yang akan tetap menjadi ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Asean) hingga ­akhir tahun, secara simbolis menye­rahkan palu kepada Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, pada penutupan pertemuan puncak di Kuala Lumpur.

Ket. Foto: Keketuaan Asean l Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr (kan) menerima palu keketuaan Asean dari PM Malaysia, Anwar Ibrahim, pada penutupan KTT Asean di Kuala Lumpur pada Selasa (28/10). Saat menjadi ketua Asean pada 2026, Filipina akan fokus untuk membahas agenda sengketa wilayah di LTS. — Sumber: AFP/MOHD RASFAN

“Pada hari pertama tahun 2026, Asean akan memulai babak baru,” kata PM Anwar.

Filipina adalah salah satu dari empat negara anggota Asean, bersama dengan Brunei, Malaysia, dan Vietnam, yang memiliki klaim sengketa di LTS yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik.

Hal ini membuat mereka berselisih dengan Tiongkok, yang memiliki pernyataan kedaulatannya sendiri atas jalur perairan strategis tersebut meskipun ada putusan internasional pada tahun 2016 yang menyimpulkan hal ini tidak memiliki dasar hukum.

Ketegangan antara Beijing dan Manila sangat menegangkan, dengan konfrontasi maritim yang terjadi secara berkala.

“LTS hanya menjadi area fokus ketika insiden di ­lapangan memanas dan memang telah memanas,” kata seorang diplomat Asia teng­gara kepada AFP di KTT Asean, yang berbicara dengan syarat anonim.

Asean dan Tiongkok telah merundingkan kode etik untuk mengatur perilaku di wi­la­yah maritim yang disengketakan, dengan tujuan mencapai ­kesepakatan pada 2026, lebih dari dua dekade sejak ­gagasan itu pertama kali diajukan.

Presiden Marcos Jr menyampaikan dalam pertemuan puncak di Kuala Lumpur bahwa ada hasil positif yang dapat diperoleh jika semua negara berkomitmen pada kerja sama dan keterlibatan yang ber­makna, khususnya di LTS.

Namun analis geopolitik yang berbasis di Manila, Don McLain Gill, mengatakan ­kepada AFP bahwa ­meskipun Filipina diperkirakan akan menekankan keamanan ­maritim, perjanjian apa pun yang disetujui Tiongkok kemungkinan besar tidak akan berlaku.

Para diplomat dan analis mengatakan Manila akan berusaha mencegah eskalasi lebih lanjut dan untuk meningkatkan kerja sama dengan Beijing. Bidang kerja sama potensial meliputi meteorologi laut yang krusial bagi keselamatan maritim serta mekanisme ­untuk menjamin akses ke wilayah penang­kapan ikan.

Reklamasi Vietnam

Sementara itu dilaporkan bahwa Vietnam kian mempercepat upaya reklamasi lahan di terumbu karang strategis South Reef yang terletak di Kepulauan Spratly utara di LTS, hanya beberapa kilometer dari pulau yang diduduki Filipina.

South Reef yang sebelumnya jarang dibicarakan, awalnya merupakan dataran tinggi saat air surut yang terendam saat air pasang, dengan dua bangunan kotak yang berfungsi sebagai pos militer.

Reklamasi telah berlangsung cepat selama dua tahun terakhir dan terumbu karang tersebut sekarang mencakup wilayah daratan lebih dari 60 ha, menjadikannya salah satu fitur terbesar yang diduduki Vietnam di Kepulauan Spratly.

Citra satelit menunjukkan bahwa Vietnam telah mempercepat upaya reklamasi lahan di Kepulauan Spratly, memperluas semua 21 fitur yang didudukinya dengan lahan buatan dan berpotensi melampaui total area reklamasi Tiong­kok. Citra satelit terkini dari South Reef bahkan menunjukkan pembangunan yang sedang berlangsung termasuk bangunan baru, kemungkinan barak militer dan depot amunisi, bersama dengan ba­ngunan lainnya. AFP/ST/I-1

  • ASEAN

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.