Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Russia Ngaku Kontrak Jet Tempur Su-35 Belum Batal, Indonesia Masih Dilirik Meski Fokus ke Rafale dan KAAN

📅 Rabu, 29 Okt 2025, 18:45 WIB | Oleh:
Russia Ngaku Kontrak Jet Tempur Su-35 Belum Batal, Indonesia Masih Dilirik Meski Fokus ke Rafale dan KAAN Doc: defenseindustrydaily.com

JAKARTA – Rusia memastikan bahwa kontrak pembelian 11 unit jet tempur Sukhoi Su-35 oleh Indonesia belum dibatalkan secara resmi. Nilai kontrak yang mencapai 1,14 miliar dolar AS itu masih menunggu keputusan akhir dari Pemerintah Indonesia setelah ditandatangani pada Februari 2018.

Sejak 2021, TNI Angkatan Udara telah mengalihkan fokus pembelian pesawat tempur ke Rafale asal Prancis dan F-15EX buatan Amerika Serikat. Keputusan itu disebut diambil karena kekhawatiran terhadap risiko sanksi Amerika Serikat bagi negara yang membeli alutsista dari Rusia.

Belakangan, Indonesia juga dikabarkan tengah menjajaki opsi pembelian jet tempur dari Turki dan China. Namun, Rusia menegaskan, kerja sama pengadaan Sukhoi Su-35 dengan Indonesia belum resmi dibatalkan dan hanya tertunda sementara.

“Situasinya masih sama. Kesepakatan ini tidak dibatalkan, hanya tertunda,” ujar Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (29/10/2025).

Tolchenov menjelaskan bahwa pihaknya masih menunggu langkah lanjutan dari Pemerintah Indonesia untuk menentukan kelanjutan negosiasi. Pernyataan ini muncul di tengah gencarnya upaya Presiden Prabowo Subianto memperkuat kekuatan udara nasional melalui berbagai kontrak pembelian jet tempur dari sejumlah negara.

Dalam tahun pertamanya menjabat, Presiden Prabowo menandatangani kontrak pembelian 48 jet tempur KAAN buatan Turki dengan nilai sekitar 10 miliar dolar AS. Jet generasi kelima itu masih dalam tahap pengembangan dan dijadwalkan menjalani uji terbang pertama pada April 2026.

Kesepakatan antara Ankara dan Jakarta juga mencakup peluang produksi bersama beberapa komponen pesawat di Indonesia. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat kemampuan industri pertahanan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Selain kerja sama dengan Turki, Indonesia juga menunggu pengiriman 42 unit jet tempur Rafale dari Dassault Aviation, Prancis. Tiga unit pertama dijadwalkan tiba pada Februari 2026, disusul dua unit berikutnya pada April, sebelum pengiriman dilakukan secara bertahap hingga tuntas.

Di sisi lain, Indonesia masih terlibat dalam proyek pengembangan jet tempur KF-21 Boramae bersama Korea Selatan. Proyek itu sempat diwarnai kendala teknis dan isu keterlambatan pembayaran kontribusi, namun masih terus berjalan sesuai jadwal.

Pejabat senior Kementerian Luar Negeri, Abdul Kadir Jailani, menegaskan bahwa proyek KF-21 tetap berlanjut meski menghadapi sejumlah hambatan. Ia menilai kerja sama tersebut penting untuk memperluas kemampuan riset dan penguasaan teknologi pertahanan nasional.

Sementara itu, opsi pembelian jet tempur Chengdu J-10 buatan China kembali mencuat beberapa pekan terakhir. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, pesawat itu menjadi pilihan menarik karena harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan Rafale.

Harga satu unit J-10 diperkirakan antara 30 hingga 40 juta dolar AS, sedangkan Rafale mencapai 100 hingga 120 juta dolar AS per unit. Namun, Sjafrie menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden Prabowo.

Rencana besar modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) ini juga ditopang oleh anggaran pertahanan yang meningkat tajam. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah telah menyiapkan anggaran besar untuk sektor pertahanan pada 2025 dan 2026.

Tahun ini, Kementerian Pertahanan memiliki pagu anggaran Rp247,5 triliun dengan realisasi mencapai 67,5 persen hingga September. Pada 2026, anggaran tersebut akan disesuaikan menjadi Rp187,1 triliun, sebagian besar untuk peningkatan peralatan militer dan sistem pertahanan udara.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
Rona
Lucasfilm Memilih Sutradara...
Luar Negeri
Peringatan dari Para Tokoh ...

Swasembada Susu Masih Terbentur Impor

28 menit yang lalu | Lukman

Ekonomi
Swasembada Susu Masih Terbe...
Ekonomi
KIH Perkuat Daya Saing Prod...

Pemkot Surabaya Siapkan Perwali untuk Lindungi Hak Mbak-mbak PRT

28 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
Pemkot Surabaya Siapkan Per...
Advertisement
FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

28 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.