Panen Sayur di Ladang Panas Bumi
Sabtu, 25 Okt 2025, 05:55 WIBFLORES-Marselus Gone semringah ketika ditanyai kemana sayur sayuran yang ditanamnya akan dijual. Ia menjawab belum bisa menjual ke luar Bajawa (kab. Ngada), karena produksinya baru permulaan.
"Kami belum jual ke tempat lain (luar daerah) paling di Bajawa saja dulu,"ucap pria berusia 40 tahun tersebut ketika ditemui Koran Jakarta di Kawasan Manifestasi Panas Bumi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Gone bersama sejumlah rekannnya diberikan kesempatan oleh PLN untuk menggarap lahan milik PLN. Beragam jenis sayuran di ditanam, ada sawi, bawang hingga cabai. Atas saran pihak PLN cara tanam pun lebih modern, tidak lagi asal nanam, sehingga lebih menjanjikan dari sisi produksinya.
Dia berkisah, sayur mayur yang ditanam itu tidak menggunakan pupuk organik, karena lahannya subur. Begitupun dengan pasokan air, sama sekali tidak ada ada kendala. "Jadi, tidak ada cerita gara gara Geothermal (Panas Bumi) ini tanaman tidak tumbuh, debit air kurang. Ini buktinya, sayuran ini tumbuh, padahal ini hanya 30-40 meter dari lokasi manifes,"ungkap Gone, Jumat (24/10).
Yang diungkapkan Gone terbukti benar, tak hanya sayur mayur, tidak sampai 100 meter dari lokasi manifes juga pohon kemiri tumbuh subur dengan buahnya. Begitu juga pepohonan lainnya, tidak ada kerusakan tanaman warga seperti yang ramai diberitakan.
Warga desa Wogo, Kecamatan Golewa itu menambahkan bahwa tak hanya menyediakan lahan garapan, PLN juga menyediakan benih untuk budidaya sayuran. Bahkan Gone bersama petani yang lain didampingi hingga pasca panen. "Tentu sangat membantu kami, dari menjual sayur kami bisa menghidupi keluarga kami,"ucapnya
Manager Perizinan dan Komunikasi PLN UIP Nusra, Bobby Robson Sitorus, mengatakan PLN memang berniat untuk membantu ekonomi keluarga. Pola ini tutur Bobby mengikuti yang mereka terapkan di Poco Leok Kabupaten Manggarai.
"Kita beritahu, jangan asal tanam yah, tanahnya digembur, di tengahnya dibikin gundukan lalu bibitnya ditanam di situ, sehingga bibit itu tidak hanyut dibawah air, karena air ngalir di bawah gundukan tanah,"tutur Bobby
PLN pun telah membebaskan lima hektar lahan yang ada titik lumpur panas tersebut, lalu diserahkan kepada masyarakat sekitar untuk digarap menambah penghasilan keluarga. Meskipun ada delapan titik yang mengeluarkan gas belerang, namun kandungannya tidak membahayakan. Terbukti warga sehari hari berada di sekitar lokasi untuk nanam sayur.
Lumpur panas di desa Wogo tak terlepas dari aktivitas panas bumi di sekitar proyek PLTP Panas Bumi Mataloko. Ini merupakan bagian dari rencana PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Flores dengan mengandalkan energi baru dan terbarukan (EBT).
PLTP Mataloko merupakan unit eksisting dengan kapasitas 2,5 mega watt (MW). Sebelumnya sempat beroperasi pada 2010 hingga memasok hingga 58 persen kelistrikan Kabupaten Ngada, namun sejak 2015 sempet terhenti akibat penurunan tekanan uap panas.
Saat ini perusahaan plat merah itu tengah membangun lagi PLTP Mataloko Unit 2 dan 3 dengan masing masing berkapasitas 10 MW. Bobby menargetkan bakal beroperasi pada tahun 2031. Kini sedang dibangun akses jalan, wellpad, sistem suplai air hingga fasilitas laydown dengan melibatkan pekerja lokal.
Pulau Panas Bumi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan Flores sebagai Pulau Panas Bumi sejak 2017. Tujuan penetapan ini ialah untuk mengoptimalkan penggunaan energi panas bumi di Pulau Flores baik sebagai sumber listrik maupun sumber energi non listrik.
Salah satu target yang ingin dicapai adalah menggunakan energi panas bumi sebagai sumber energi listrik dasar (baseload) utama di pulau tersebut.
Mengutip laman resmi Kementerian ESDM, Pulau Flores memiliki potensi panas bumi sebesar total 902 MW atau 65 persen dari potensi panas bumi di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan tersebar di 16 titik potensi yaitu di Waisano, Ulumbu, Wai Pesi, Gou-Inelika, Mengeruda, Mataloko, Komandaru, Ndetusoko, Sokoria, Jopu, lesugolo, Oka Ile Ange, Atedai, Bukapiting, Roma-Ujelewung dan Oyang Barang. Hingga saat ini baru Ulumbu dan Mataloko yang sudah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik dengan total kapasitas terpasang sebesar 12,5 MW.
Manager Perizinan dan Komunikasi PLN UIP Nusra, Bobby Robson Sitorus bercerita, pengembangan PLTP Mataloko Unit 2 dan 3 memang bukan untuk memenuhi kebutuhan saat ini tetapi di masa depan. Nanti, apabila sudah beroperasi akan masuk dalam sistem kelistrikan Flores. Selama ini sistem kelistrikan Flores masih mengandalkan energi fosil. Dengan adanya panas bumi makan pelan pelan itu akan digeser.
"Misalnya di Labuan Bajo, pertumbuhan jumlah hotel di sana sangat cepat, dan satu hotel kebutuhan listriknya sangat banyak bisa sampai 2 MW. Nah, kalau kita tidak antisipasi dari sekarang PLN akan kesulitan pasok listrik untuk hotel hotel itu nanti,"tutur Bobby.
- PT PLN (Persero)
- Bajawa
- Transisi Energi
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Lampaui Target 14,7%! PLN NP Cetak 245 GWh Energi Hijau di Awal 2026
-
Informasi Penting, Cek Jadwal Buka-Tutup Pelabuhan Lembar Selama Nyepi 2026
-
Cuaca Ekstrem Hantam Bekasi, 27 Rumah Rusak Diterjang Puting Beliung
-
Menteri Keuangan kunjungi Pasar Beringharjo dan Teras Malioboro
-
Green Financing Dibuka! Proyek Hijau RI Kini Gampang Dapat Modal, ESG-IN Gandeng IDCTA
-
Duolingo Gandeng Niki Ubah Lirik Lagu 'Backburner' Jadi Cara Seru Belajar Bahasa Inggris
-
Hadapi Kemarau, Bulog Siapkan Stok Beras untuk Kebutuhan Enam Bulan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.