Modernisasi TNI-AL: Kemenhan Pertimbangkan Pembelian Tujuh Fregat Bekas Tiongkok

Jumat, 24 Okt 2025, 14:23 WIB

JAKARTA— Juru bicara Kementerian Pertahanan baru-baru ini mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mengevaluasi kemungkinan memperoleh tujuh fregat Tipe 053H dari Tiongkok sebagai bagian dari tinjauan komprehensif rencana modernisasi komposisi armada Angkatan Laut Indonesia (TNI-AL).

Dari Defense Security Asia, pengungkapan itu dengan cepat menarik perhatian media dan media sosial, memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat pertahanan regional mengenai strategi maritim Jakarta, pengaruh Tiongkok di Asia Tenggara, dan pergeseran keseimbangan kekuatan angkatan laut di kawasan Indo-Pasifik.

Ket. Foto: Pemerintah sedang mengevaluasi kemungkinan memperoleh tujuh fregat Tipe 053H dari Tiongkok, menandai peningkatan signifikan dalam hubungan pertahanan bilateral menyusul pembelian 42 jet tempur J-10B senilai 9 miliar dolar AS. — Sumber: Istimewa

Pihak berwenang kemudian mengklarifikasi bahwa penilaian tersebut masih dalam tahap peninjauan internal tanpa ada kesepakatan atau jadwal pengiriman yang ditetapkan, yang menunjukkan bahwa proposal tersebut saat ini sedang melalui proses studi kelayakan dan bukan pembelian langsung.

Kapal yang dipertimbangkan — fregat Tipe 053H yang sebelumnya beroperasi di bawah Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) — sedang dipelajari untuk menilai kesesuaiannya untuk tugas pelatihan dan patroli dalam upaya menyelesaikan peta jalan modernisasi TNI-AL.

Sebuah tangkapan layar yang menjadi viral pada tanggal 22 Oktober 2025 yang menunjukkan apa yang tampak sebagai konfirmasi pembelian fregat di situs web Kementerian Pertahanan memicu spekulasi luas, yang mendorong klarifikasi resmi bahwa halaman tersebut bukanlah pengumuman resmi pembelian, melainkan bagian dari tinjauan teknis yang sedang berlangsung.Produk pertahanan

Kemungkinan akuisisi fregat buatan Tiongkok tersebut juga mencerminkan meningkatnya kerja sama pertahanan antara Jakarta dan Beijing yang telah menguat dalam beberapa tahun terakhir melalui transaksi senjata besar dan kemitraan strategis berskala besar.

Beberapa hari yang lalu, Indonesia dikabarkan setuju untuk membeli 42 unit jet tempur multiperan Tiongkok J-10B “Vigorous Dragon” dari Tiongkok. Pembelian ini merupakan pembelian jet tempur buatan Tiongkok terbesar yang pernah dilakukan oleh negara Asia Tenggara mana pun.

Kesepakatan J-10B, yang diperkirakan bernilai lebih dari 9 miliar dolar AS, mencerminkan pendalaman hubungan pertahanan bilateral antara Jakarta dan Beijing, termasuk penyediaan dukungan pemeliharaan lokal, pelatihan pilot, dan bantuan teknologi kepada Angkatan Udara Indonesia (TNI-AU).

Selain jet tempur, Indonesia juga telah mengakuisisi berbagai sistem persenjataan, radar, dan peralatan pertahanan udara buatan Tiongkok, yang menunjukkan bentuk baru penyelarasan strategis yang melampaui sekadar pembelian peralatan, melainkan kerja sama industri pertahanan jangka panjang.

Semua transaksi ini secara kolektif menunjukkan pendekatan pragmatis Indonesia dalam mendiversifikasi pemasok pertahanan, menyeimbangkan hubungan antara mitra Barat dan Timur, sekaligus memperkuat industri pertahanan lokal di bawah kerangka "Kekuatan Esensial Minimum" (MEF).

Akuisisi yang diusulkan terhadap tujuh fregat Tipe 053H buatan Tiongkok menandai pendekatan pragmatis Indonesia dalam memperluas armada angkatan lautnya di tengah meningkatnya tantangan keamanan maritim regional.

Meskipun kapal-kapal tersebut termasuk generasi lama yang dikembangkan oleh PLAN pada tahun 1970-an dan 1980-an, akuisisi yang diusulkan menunjukkan keinginan pemerintah untuk segera meningkatkan jumlah kapal guna mendukung kesadaran domain maritim dan kehadiran operasional di perairan kepulauannya yang luas.

Fregat Tipe 053H, termasuk varian terbaru seperti Tipe 053H2 dan Tipe 053H3, pernah menjadi tulang punggung armada fregat Angkatan Laut China sebelum digantikan oleh kelas yang lebih modern seperti Tipe 054A dan Tipe 054B.

Fregat ini, dengan bobot benaman sekitar 2.000 ton, dilengkapi dengan rudal antikapal, senjata angkatan laut, dan sistem pertahanan udara dasar, sehingga cocok untuk operasi patroli pantai, pelatihan peperangan permukaan, dan dukungan armada.

Jika diserahkan kepada Indonesia, kapal-kapal tersebut diharapkan akan menjalani proses perombakan sebagian, terutama pada aspek sistem propulsi, radar, dan sistem manajemen tempur untuk menyesuaikannya dengan standar operasi terkini dan memastikan tingkat kompatibilitas tertentu dengan infrastruktur digital TNI-AL yang semakin maju.

Namun, implikasi logistik dari pengintegrasian platform buatan Tiongkok ke dalam armada yang saat ini terdiri dari kapal-kapal buatan Barat, Turki, dan lokal tidak dapat diremehkan.

Inventaris TNI AL kini mencakup berbagai desain dan sistem — mulai dari korvet buatan Inggris, fregat kelas SIGMA buatan Belanda, fregat kelas ISTIF buatan Turki, hingga kapal serbaguna kelas PPA buatan Italia — masing-masing menggunakan arsitektur teknik, elektronik, dan persenjataan yang berbeda.

Pengenalan kapal Tipe 053H, yang menggunakan standar dan sistem propulsi unik Tiongkok, memerlukan ekosistem pemeliharaan khusus, program pelatihan tambahan, dan rantai pasokan suku cadang khusus, yang dapat meningkatkan biaya pemeliharaan jangka panjang.

Modernisasi Angkatan Laut dalam Kerangka Kekuatan Esensial Minimum

Kampanye modernisasi angkatan laut Indonesia, yang telah diintensifkan sejak awal 2020-an, berpusat pada doktrin Minimum Essential Force (MEF) , yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan pencegahan yang kuat dan memastikan kontrol maritim atas lebih dari 17.000 pulau di negara ini dan tiga jalur komunikasi laut utama.

Doktrin tersebut membayangkan suatu struktur kekuatan berlapis-lapis yang menyeimbangkan aset teknologi tinggi dengan platform dukungan yang lebih hemat biaya untuk memastikan kehadiran berkelanjutan dan cakupan pengawasan yang komprehensif di seluruh kepulauan Indonesia.

Akuisisi terkini seperti dua fregat kelas PPA buatan Italia, KRI Brawijaya (320) dan KRI Prabu Siliwangi (321) , menggambarkan investasi Indonesia dalam kapal perang generasi terbaru yang mampu melakukan operasi perang anti-udara, anti-kapal selam, dan perang permukaan.

Pada saat yang sama, kolaborasi dengan Turki membuahkan program fregat kelas Istif , sementara perusahaan galangan kapal lokal PT PAL terus mengembangkan Fregat Merah Putih sebagai inisiatif untuk memperkuat kemampuan galangan kapal lokal dan mengurangi ketergantungan pada pemasok eksternal.

Dalam konteks ini, partisipasi tujuh fregat Tipe 053H buatan Tiongkok berpotensi menjadi solusi sementara untuk memperkuat kemampuan patroli dan pelatihan tanpa mempengaruhi pendanaan program modernisasi utama.

Langkah ini juga akan membantu Indonesia mempertahankan kehadiran maritim berkelanjutan di wilayah berisiko rendah seperti Laut Jawa dan Selat Makassar, sembari memfokuskan aset modern seperti fregat dan korvet di wilayah yang lebih sensitif seperti Laut Natuna dan jalur timur dekat Laut Tiongkok Selatan.

Memperkuat Hubungan dengan Beijing dalam Dinamika Indo-Pasifik Baru

Dari perspektif strategis, transfer fregat Tipe 053H mencerminkan kebijakan akuisisi pragmatis Indonesia serta upaya berkelanjutan Beijing untuk memperluas ekspor pertahanan dan pengaruh maritimnya di Asia Tenggara.Produk pertahanan

Tiongkok telah lama berupaya memperkuat hubungan pertahanan dengan Indonesia melalui kombinasi penjualan aset militer, pelatihan bersama, dan kemitraan industri.

Dalam dua dekade terakhir, pemerintah telah memperoleh rudal antikapal C-705 dan C-802 untuk digunakan pada platform pertahanan pantai dan kapal perangnya, di samping sistem artileri roket dan kerja sama terbatas di bidang radar.

Pada tahun 2024, negosiasi juga dilaporkan mencakup transfer teknologi dalam sistem tak berawak serta otomatisasi pembuatan kapal, yang mencerminkan niat Beijing untuk memposisikan dirinya sebagai mitra utama dalam pembangunan maritim Indonesia.

Namun, perkembangan ini terjadi dalam lanskap geopolitik yang semakin kompleks dengan persaingan kekuatan besar di kawasan Indo-Pasifik.

Indonesia, meskipun mempertahankan kebijakan netralitas, kini menghadapi tekanan untuk menyeimbangkan hubungan antara kekuatan besar, terutama di tengah ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat atas Laut Tiongkok Selatan, Taiwan, dan masalah kebebasan navigasi.

Kepulauan Natuna, yang terletak di bagian selatan Laut Tiongkok Selatan, terus menjadi titik panas karena patroli Indonesia sering menjumpai keberadaan kapal penangkap ikan dan kapal penjaga pantai Tiongkok di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negara tersebut.

Akuisisi kapal buatan Tiongkok oleh Indonesia dengan demikian membawa pertimbangan diplomatik yang rumit — meskipun dapat meningkatkan kapasitas pertahanan maritim, hal itu juga menciptakan persepsi ketergantungan strategis terhadap Beijing di antara mitra regional seperti Australia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Pertimbangan Operasional dan Logistik

Dari perspektif operasional, kapal kelas Tipe 053H menawarkan kemampuan dasar tetapi telah terbukti efektif untuk tugas-tugas masa damai seperti pencarian dan penyelamatan (SAR), penegakan hukum maritim, dan pelatihan gabungan.

Ukuran kapal yang sederhana dan daya tahannya membuatnya cocok untuk tugas pertahanan pantai, pengawalan konvoi, dan operasi anti-pembajakan — peran yang tetap penting di perairan Indonesia yang luas.

Namun, keterbatasan dalam sistem peperangan anti-udara (AAW) dan peperangan anti-kapal selam (ASW) membatasi kemampuan tempur kapal di lingkungan dengan ancaman tinggi yang melibatkan musuh dengan kemampuan rudal jarak jauh dan kapal selam siluman.

Oleh karena itu, para analis melihat fregat ini lebih cocok sebagai aset pendukung atau "penyangga" yang dapat mengurangi tekanan operasional pada kapal-kapal modern bernilai tinggi.

Integrasi ini juga akan memungkinkan fregat modern untuk digunakan dalam misi terdepan di wilayah berisiko tinggi, sementara kapal Tipe 053H yang telah diperbarui dapat berfokus pada peran di perairan domestik.

Pendekatan ini sejalan dengan strategi maritim Indonesia yang dikenal sebagai "distributed lethality", yaitu mengembangkan ketahanan maritim melalui armada yang beragam untuk meningkatkan kehadiran regional dan kemampuan pencegahan.

Dari sudut pandang ekonomi, faktor biaya mungkin menjadi penentu utama kelayakan akuisisi ini.

Dibandingkan dengan pemesanan kapal baru, pembelian fregat Tipe 053H bekas diharapkan dapat memberikan penghematan yang signifikan, sehingga dana dapat dialihkan ke program pembangunan lokal atau sistem persenjataan berteknologi tinggi.

Jika perjanjian ini mencakup perbaikan, dukungan teknologi, dan paket pelatihan, ia juga dapat berfungsi sebagai platform pengembangan sumber daya manusia angkatan laut berbiaya rendah, terutama untuk pelatihan teknisi, perwira navigasi, dan perwira komando tingkat menengah.

Selain itu, akuisisi ini berpotensi membuka ruang bagi PT PAL dan industri lokal untuk memperkuat pengalaman dalam peningkatan dan pemeliharaan kapal asing, sehingga memperkuat kemampuan Indonesia dalam mengelola armada multi-asal.

Namun, tantangan teknisnya tetap besar.

Sistem propulsi asli kapal — mesin diesel buatan Tiongkok — sudah tua dan mungkin memerlukan penggantian menyeluruh untuk memastikan keandalan operasional tingkat tinggi.

Peralatan elektronik, termasuk radar kendali tembakan dan sistem komunikasi, juga perlu ditingkatkan untuk memastikan kompatibilitas dengan jaringan komando dan kendali Indonesia.

Tanpa peningkatan yang komprehensif, interoperabilitas kapal buatan Tiongkok dengan kapal Barat milik Indonesia yang menggunakan protokol komunikasi dan sensor standar NATO akan terbatas.

Oleh karena itu, setiap akuisisi akan memerlukan rencana modernisasi berlapis yang mencakup sistem propulsi, manajemen tempur, radar, dan integrasi senjata untuk menjadikannya kapal pendukung yang ekonomis dan sangat fungsional untuk misi patroli dan pelatihan.

Keseimbangan Maritim Indonesia di Kawasan yang Berubah

Implikasi yang lebih luas dari akuisisi fregat terletak pada simbolisme hubungan pertahanan yang berkembang antara Indonesia dan Tiongkok.

Sementara pemerintah berkomitmen pada otonomi strategis, kerja sama yang semakin mendalam dengan Beijing mencerminkan pendekatan jalur ganda — memanfaatkan banyak mitra pertahanan untuk memenuhi tujuan struktur kekuatan angkatan bersenjatanya.

Pada saat yang sama, potensi kesepakatan ini menyoroti peran Tiongkok sebagai pemasok utama kapal perang berbiaya rendah bagi negara-negara berkembang, sebagai bagian dari strategi Beijing untuk menyaingi dominasi ekspor pertahanan Barat melalui penawaran yang lebih fleksibel dan hemat biaya.

Jika rencana ini terealisasi, Indonesia akan bergabung dengan daftar negara-negara seperti Bangladesh, Nigeria, dan Myanmar yang telah mengintegrasikan fregat buatan Tiongkok ke dalam armada mereka sesuai dengan kebutuhan nasional masing-masing.

Bagi Tiongkok, transfer ini bukan sekadar transaksi komersial, tetapi alat strategis untuk membangun ketergantungan pertahanan jangka panjang serta memperluas pengaruhnya di kawasan maritim utama.

Bagi Indonesia, keputusan ini lebih praktis — meningkatkan kapasitas pertahanan maritim dengan biaya terjangkau sambil menjaga keseimbangan diplomatik antara kekuatan besar dunia.

Kesimpulannya, penilaian perolehan fregat Tipe 053H mencerminkan realitas strategis Indonesia sebagai negara kepulauan yang berusaha menyeimbangkan kemampuan, biaya, dan kedaulatan dalam lingkungan maritim Indo-Pasifik yang semakin bergejolak.

Apakah usulan ini akhirnya difinalisasi atau tetap menjadi kajian internal, hal ini menggarisbawahi komitmen Jakarta untuk mempercepat perluasan armada angkatan lautnya dan memperkuat kontrol perbatasan maritim di tengah meningkatnya ketegangan regional.

Jika disetujui, langkah ini akan memperkuat kehadiran angkatan laut Indonesia, meningkatkan kemampuan pelatihan dan patroli, serta memperkuat pencegahan jangka panjang negara ini — bahkan ketika menghadapi tantangan logistik dan interoperabilitas baru.

Pada akhirnya, evaluasi fregat Tipe 053H bukan sekadar upaya untuk mendapatkan kapal bekas, melainkan simbol kelanjutan transformasi maritim jangka panjang Indonesia — sebuah proses yang terus membentuk keseimbangan kekuatan laut di kawasan Asia Tenggara.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.