Tegas! Gubernur Bengkulu: Saatnya Desa Jadi Motor Ekonomi, Bukan Sekadar Objek Pembangunan!

Selasa, 21 Okt 2025, 22:05 WIB

BENGKULU – Desa kini tak lagi boleh dipandang sekadar wilayah pinggiran. Justru dari desa, fondasi pembangunan ekonomi nasional bisa diperkuat.

Dengan potensi sumber daya alam, tenaga kerja, dan kearifan lokal yang besar, desa memiliki peluang menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru.

Ket. Foto: Ilustrasi - Desa Wisata Sumber Urip, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. — Sumber: Antara.

Namun, kuncinya ada pada pemberdayaan — mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan ekonomi desa, hingga akses terhadap pembiayaan dan teknologi.

Ketika desa mampu mandiri dan produktif, efeknya akan berantai: mengurangi kesenjangan wilayah, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari akar rumput.

Gubernur Bengkulu Helmi Hasan menyebutkan desa harus menjadi pusat pembangunan ekonomi nasional, sehingga terwujud pemerataan dan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

"Pertumbuhan ekonomi nasional tidak akan tercapai tanpa kontribusi dari desa," kata Helmi pada Peringatan Hari Bhakti Pendamping Desa Tahun 2025 yang digelar di Balai Raya Semarak, Bengkulu, Selasa (21/10).

Helmi menyebut bahwa pembangunan desa tidak bisa dilepaskan dari sektor produktif, dan banyak sektor yang bisa dikembangkan desa untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi.

Banyak desa di Bengkulu, menurut dia, telah menonjolkan inovasi lokal di bidang pertanian, perikanan, dan pariwisata berbasis komunitas.

Kemudian, untuk menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi dan pembangunan desa, kata dia, tentu tidak lepas dari dukungan tenaga pendamping desa yang bekerja tanpa kenal waktu demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

"Banyak desa di Provinsi Bengkulu menunjukkan perkembangan positif dalam pembangunan wilayahnya. Hasil ini tidak terlepas dari kontribusi para pendamping desa yang telah memberikan waktu, tenaga, dan pikiran dalam mengawal pembangunan di desa," kata Helmi.

Gubernur menilai peran pendamping desa sangat penting sebagai katalisator antara pemerintah dan masyarakat, tidak hanya dalam pendampingan perencanaan dan pelaksanaan program, tetapi juga sebagai jembatan pengetahuan dan inovasi untuk mendorong kemandirian masyarakat.

Helmi juga menegaskan membangun dari desa bukan sekadar jargon, melainkan strategi pembangunan yang realistis, berorientasi jangka panjang, dan berkelanjutan.

"Membangun dari akar, kalau akarnya kuat, pohon besar yang bernama Indonesia ini akan tumbuh kokoh," kata dia

Lebih lanjut, ia menjelaskan sistem komando berjenjang dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten, hingga desa akan menjadi modal kuat bagi pendamping desa dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Helmi menegaskan komitmennya agar seluruh anggaran daerah benar-benar kembali kepada masyarakat.

"Setiap satu sen rupiah APBD harus bisa dinikmati oleh masyarakat. Untuk itu, Pemprov Bengkulu merancang program Bantu Rakyat, mulai dari peningkatan infrastruktur jalan, ambulans untuk desa-desa, BPJS gratis, kehadiran tim unit reaksi cepat, hingga makan bergizi gratis. Pemerintah tidak tuli, tidak bisu, pemerintah fokus membantu rakyatnya," ucapnya.

Terdapat 1.341 desa di Bumi Merah Putih yang menjadi bagian penting dalam upaya pemerataan ekonomi daerah.

Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah dan tenaga pendamping profesional dinilai menjadi kunci mempercepat pembangunan di seluruh wilayah provinsi.

Momen Peringatan Hari Bhakti Pendamping Desa Tahun 2025 di Bengkulu juga dihadiri Kepala Pusat Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Daerah Tertinggal (PPMD) Kemendes PDTT Hasman Ma'ani.

"Pendamping desa hadir sebagai bentuk dedikasi dan komitmen bahwa pembangunan desa merupakan bagian penting dari pemerataan pembangunan nasional," ujar Hasman.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.