Andalkan Utang, Kualitas Konsumsi Masyarakat Semakin Tidak Sehat

Rabu, 12 Agu 2026, 03:15 WIB

» Pendapatan masyarakat tidak tumbuh cukup cepat untuk mengimbangi kenaikan biaya hidup dan kebutuhan pembiayaan.

» Kenaikan harga dan biaya hidup tidak hanya mengurangi daya beli, tetapi mulai memengaruhi kemampuan mereka dalam memenuhi kewajiban pinjaman.

Ket. Foto: Aditya Hera Nurmoko Pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta - Kalau konsumsi tumbuh tetapi pada saat yang sama kemampuan rumah tangga membayar kewajibannya justru melemah, berarti ada persoalan pada fondasi daya beli. — Sumber: antara

JAKARTA - Kenaikan kredit bermasalah pada segmen rumah tangga sebagai pertanda bahwa konsumsi masyarakat belum sepenuhnya ditopang oleh peningkatan pendapatan yang kuat. Hal itu disampaikan 

Pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko menanggapi data pertumbuhan kredit dengan kolektibilitas 2 hingga 5 yang meningkat.

Data menunjukkan pertumbuhan kredit dengan kolektibilitas 2 atau dalam perhatian khusus, kolektibilitas 3 atau kurang lancar, kolektibilitas 4 atau diragukan dan terakhir kolektibilitas 5 atau macet secara nominal mencapai sekitar 10,3 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit yang masih lancar (performing loan) atau kolektibilitas 1 sebesar 5,6 persen.

Menurut Aditya, konsumsi memang masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, tetapi kualitas konsumsi menjadi persoalan ketika sebagian rumah tangga harus semakin mengandalkan utang untuk mempertahankan standar hidup.

“Kalau konsumsi tumbuh tetapi pada saat yang sama kemampuan rumah tangga membayar kewajibannya justru melemah, berarti ada persoalan pada fondasi daya beli. Pendapatan masyarakat tidak tumbuh cukup cepat untuk mengimbangi kenaikan biaya hidup dan kebutuhan pembiayaan,” kata Aditya yang baru saja dinyatakan lulus dalam sidang doktoral bidang ekonomi di Universitas Islam Indonesia (UII).

Tekanan tersebut jelas Aditya patut mendapat perhatian karena terjadi pada kelompok masyarakat yang berada di sekitar kelas menengah. Kelompok menengah itu memiliki peran penting dalam perekonomian karena proporsi pengeluarannya relatif besar, tetapi pada saat bersamaan tidak selalu memiliki bantalan keuangan yang cukup kuat ketika terjadi kenaikan harga, penurunan pendapatan, maupun ketidakpastian pekerjaan.

Jika tekanan terhadap kelompok tersebut berlangsung lama, dampaknya dapat bergerak ke dua arah sekaligus. Rumah tangga akan cenderung mengurangi konsumsi untuk menjaga kemampuan membayar cicilan, sementara perbankan dapat menjadi lebih berhati-hati menyalurkan kredit karena melihat meningkatnya risiko gagal bayar.

Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi menahan konsumsi dan ekspansi kredit secara bersamaan.

Karena itu, kebijakan untuk menjaga konsumsi tidak cukup hanya melalui stimulus yang mendorong masyarakat berbelanja.

“Hal yang jauh lebih penting adalah memperkuat sumber daya belinya, terutama melalui penciptaan lapangan kerja formal, peningkatan pendapatan riil, dan pengendalian biaya hidup. Konsumsi yang sehat harus berasal dari pendapatan yang sehat, bukan semakin bergantung pada utang rumah tangga,” ujarnya.

Pondasi Daya Beli

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengatakan penguatan konsumsi ke depan perlu diikuti dengan penguatan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kewajiban keuangan.

Tekanan tersebut terutama terlihat pada segmen rumah kecil dan menengah. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan/NPL rumah kecil meningkat dari 4,29 persen menjadi 6,32 persen pada 2026, sedangkan NPL rumah menengah naik dari 2,2 persen menjadi 3,23 persen.

Kondisi tersebut papar Faisal menjadi sinyal penting untuk memperkuat pondasi daya beli masyarakat, khususnya kelompok yang sedang menuju kelas menengah atau aspiring middle income. “Kondisi ini mengindikasikan bahwa kelompok aspiring middle income menghadapi tekanan yang cukup besar. Kenaikan harga dan biaya hidup tidak hanya mengurangi daya beli, tetapi mulai memengaruhi kemampuan mereka dalam memenuhi kewajiban pinjaman,” kata Faisal.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.