Wamendagri Beberkan Resep Bangkitkan Pariwisata Lewat Ekonomi Kreatif: Setiap Daerah Harus Punya Karakter Sendiri
Senin, 13 Okt 2025, 08:45 WIBJAKARTA - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif menjadi kunci kebangkitan sektor pariwisata nasional. Ia menilai setiap daerah di Indonesia harus memiliki diferensiasi dan karakter yang kuat agar mampu bersaing di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Dalam sambutannya di acara The Top Tourism Leaders Forum yang digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) Pantai Indah Kapuk 2, Tangerang, Minggu (12/10/2025), Bima menyoroti pentingnya peran kepala daerah dalam menggali potensi lokal. Menurutnya, semangat dan komitmen pemimpin daerah menjadi penentu utama dalam menghidupkan sektor wisata di wilayah masing-masing.
Bima menekankan bahwa city branding harus menjadi identitas yang membedakan satu daerah dengan daerah lainnya. Ia menegaskan, dengan total 514 kabupaten dan kota di Indonesia, seharusnya setiap wilayah memiliki ciri khas tersendiri yang mencerminkan karakter dan potensi lokal.
âBapak-Ibu yang sangat paham branding, tolong ajari, tolong tukar pikiran, tolong diskusi dengan para aparat, kepala dinas pariwisata, dan juga kepala daerah tentang city branding karena ini kaitannya dengan pariwisata kuat sekali. City branding ini adalah citra,â kata Bima di hadapan peserta forum.
Ia menegaskan bahwa citra daerah tidak boleh stagnan hanya karena terlalu lama menggunakan tagline yang sama atau bahkan meniru konsep dari daerah lain. Menurutnya, daerah yang ingin berkembang harus berani tampil beda dengan pendekatan kreatif dan otentik yang mencerminkan keunggulan lokal.
Dalam kesempatan itu, Bima membagikan kisah suksesnya saat membangun city branding Kota Bogor pada tahun 2018. Ia menuturkan pengalamannya mengubah kawasan Mulyaharja yang dulunya minim potensi menjadi destinasi wisata baru dengan melibatkan partisipasi warga.
âKita bekerja keras melibatkan warga, mengedukasi ibu-ibu. Kemudian mendidik para tour guide, mendidik komunitas supaya berkreasi di sana. Ini adalah salah satu dari desa atau kelurahan termiskin di Kota Bogor, dan saat ini dari titik ini, anak-anak muda, ibu-ibu, emak-emak, ini bisa hidup karena setiap weekend ramai. Mereka buat sistem sendiri,â ujar Bima.
Bima mengakui bahwa membangun ekosistem pariwisata tidak bisa dilakukan secara instan dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Tantangan kultural, struktural, hingga infrastruktur harus dihadapi dengan kerja keras dan komitmen jangka panjang dari berbagai pihak.
Ia juga menyoroti pengembangan sport tourism sebagai salah satu strategi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Contohnya, pembangunan jogging track sepanjang 4,3 kilometer di sekitar Istana dan Kebun Raya Bogor yang kini menjadi pusat aktivitas warga.
âJadi, sport tourism hari ini, sesungguhnya kalau kita tekuni betul, ini bisa membangun ekosistem yang luar biasa. Karena sport tourism ini bicara kesehatan, bicara kesejahteraan, bicara juga kolaborasi dengan Forkopimda, bicara efeknya bagi UMKM dan lain-lain,â ucapnya.
Selain itu, Bima turut menekankan pentingnya creative event seperti konser musik sebagai penggerak ekonomi lokal. Namun, ia menegaskan bahwa penyelenggaraan acara tersebut harus dibarengi dengan kesiapan dari sisi perizinan, keamanan, dan infrastruktur agar bisa berdampak optimal bagi masyarakat.
Ia berharap ke depan Indonesia bisa menjadi destinasi utama bagi berbagai pertunjukan seni berskala besar di Asia Tenggara. Menurutnya, hal itu akan memperkuat citra Indonesia sebagai negara kreatif yang mampu menggabungkan budaya, pariwisata, dan industri hiburan secara terpadu.
Lebih lanjut, Bima menilai bahwa membangun ekosistem pariwisata bukan hanya tugas pemerintah pusat, tetapi juga menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Ia mengingatkan masih banyak kepala daerah yang belum menyadari bahwa industri kreatif merupakan sektor strategis untuk pembangunan ekonomi lokal.
âJadi tugas dari insan pariwisata ini sebetulnya berat banget. Harus gaul membangun jejaring dan mengayakan perspektif,â tandasnya.
Dengan pendekatan yang berfokus pada diferensiasi dan kreativitas, Bima yakin sektor pariwisata Indonesia bisa menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi fondasi utama untuk menciptakan pariwisata yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Harta Rp700 Juta Ludes, ART di Makassar Bobol Brankas Majikan demi Beli Mobil dan Rumah
-
Sheila On 7 Bakal Manggung di Ajang Poliponi Bali Juli Nanti
-
Menpar: Pariwisata Indonesia Berada di Jalur Pertumbuhan Positif
-
Raja Ampat Diusulkan Jadi Kawasan Khusus Nasional, Ini Dampaknya untuk Pariwisata Indonesia
-
Masalah Putusan MK Nomor 123/2026 Tentang Pasal 14 UU Tipikor 1999/2001
-
Ketua Ombudsman Hery Susanto Ditangkap Kejagung
-
Kepala Daerah Wajib Catat! Ini 6 Kebijakan Sakti Wamendagri untuk Dongkrak Minat Baca
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.