• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Bocah Perempuan Dua Kali M...

Bocah Perempuan Dua Kali Mudah Rusak Mata daripada Laki-laki

Jumat, 10 Okt 2025, 13:18 WIB

JAKARTA – Dibanding laki-laki, bocah perempuan dinilai memiliki dua kali lebih banyak untuk mengalami gangguan penglimatan. Informasi ini disampaikan dokter spesialis Mata, Kianti Raisa Darusman. “Dari hasil penelitian, pelajar perempuan lebih banyak mengalami penurunan fungsi mata, keterbatasan aktivitas karena penglihatan, dan gangguan sosial akibat kondisi tersebut,” kata Kianti Riasa Darusman saat ditemui usai kegiatan uji publik inovasi pemeriksaan mata dan jiwa anak Indonesia di Jakarta, Kamis.

Menurutnya, hasil penelitian mendapati hal ini bisa disebabkan oleh kebiasaan anak perempuan yang lebih sering beraktivitas di dalam ruangan dibandingkan anak laki-laki. Maka, dokter menyarankan agar anak perempuan untuk bisa aktif beraktivitas luar ruangan, yang memiliki efek protektif terhadap mata minus dibandingkan banyak di dalam ruangan.

Ket. Foto: kesehatan mata — Sumber: ist

"Adapula data riset menunjukkan 63 persen anak-anak menggunakan gawai lebih dari dua jam per hari, sementara 55 persen memiliki aktivitas luar ruangan yang rendah. Faktor ini menjadi penyebab utama meningkatnya kasus rabun jauh pada anak-anak usia sekolah," ucapnya.

Selain itu temuan lapangan juga menunjukkan anak-anak perempuan lebih sering mengalami tekanan emosional terkait kondisi mata mereka. Bahkan ia menyebut sebanyak 57 persen anak berkacamata melaporkan gejala kecemasan dan 67 persen menunjukkan tanda-tanda depresi.

"Stigma sosial terhadap penggunaan kacamata masih kuat di kalangan pelajar perempuan. Banyak anak merasa malu memakai kacamata karena takut diejek teman. Ini berpengaruh terhadap kepercayaan diri dan kesehatan mental mereka,” katanya.

Oleh karena itu alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini menekankan perlunya pendekatan berbeda antara anak laki-laki dan perempuan dalam program pemeriksaan dan edukasi kesehatan mata agar intervensi bisa lebih efektif.

Kesehatan jiwa anak

Lebih jauh Dokter Spesialis Mata dari Yayasan Sentra Kolaborasi Kesehatan Nasional (YSKKN) ini mengungkapkan adanya keterkaitan antara gangguan penglihatan dan kesehatan jiwa anak-anak usia sekolah di Indonesia. “Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan gangguan penglihatan berisiko mengalami masalah emosional, seperti cemas, sedih, dan sulit fokus di sekolah,” kata Kianti.

Dia mendapatkan hasil survei terhadap lebih dari 1.200 pelajar Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Luar Biasa (SLB), termasuk di Jakarta. Ada sekitar 40 persen anak memiliki gangguan penglihatan. Sisanya, 70 persen juga menunjukkan gejala emosional. Menurut dia, anak-anak dengan penglihatan terganggu cenderung mudah frustrasi, kehilangan kepercayaan diri, dan kesulitan berinteraksi sosial di sekolah.

“Masalahnya sederhana, tapi dampaknya besar. Anak bisa dikira tidak fokus atau nakal, padahal sebenarnya ia tidak bisa melihat dengan jelas,” cetusnya dalam kegiatan yang juga diikuti mantan Menteri Kesehatan Nila Moelok itu. Selain itu ia menyebut penelitian juga menemukan hubungan dua arah antara penglihatan dan jiwa. Anak yang mengalami gangguan emosional juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan penglihatan.

“Hubungannya bukan satu arah. Penglihatan yang buruk bisa memengaruhi kondisi emosional, dan sebaliknya, stres atau kecemasan juga bisa memperburuk fungsi penglihatan,” jelasnya. Oleh karena itu alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini menilai pentingnya skrining terpadu yang tidak hanya menilai fungsi mata, tetapi juga aspek psikologis anak sehingga pendekatan holistik seperti ini perlu diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan dan kesehatan nasional, termasuk Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). "Kami berharap hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam memperluas layanan deteksi dini kesehatan mata dan jiwa anak di sekolah seluruh Indonesia," ujarnya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

Berita Terbaru

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

Atasi Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat, Wamen LH Diaz Hendropriyono Dorong Swasta Bangun Sekat Kanal

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.