Gempar! Eks Menteri Olahraga Tiongkok Divonis Mati, Skandal Korupsi Terbesar di Eranya!

Rabu, 10 Des 2025, 02:12 WIB

BEIJING – Tiongkok kembali menjatuhkan hukuman mati kepada mantan pejabat pemerintah yang tersangkut kasus korupsi. Hal itu menegaskan bahwa negara itu masih mengandalkan pendekatan ultra-keras untuk menekan penyalahgunaan kekuasaan.

Langkah ini mencerminkan strategi antikorupsi yang menarget kasus berprofil tinggi guna memberikan efek gentar bagi pejabat lain. Meski memberi sinyal tegas, pendekatan ini tidak otomatis menyelesaikan akar persoalan korupsi yang bersifat sistemik.

Ket. Foto: Hadiri Sidang Pengadilan - Mantan Kepala Administrasi Umum Olahraga Tiongkok yang setara dengan jabatan menteri olahraga Gou Zhongwen di Pengadilan Menengah Rakyat Yancheng, provinsi Jiangsu, Tiongkok ­bagian timur. — Sumber: ANTARA/HO-CCTV

Mantan Kepala Administrasi Umum Olahraga Tiongkok Gou Zhongwen, setara dengan menteri olahraga, dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan (suspended death sentence) dua tahun karena menerima suap dan menyalahgunakan kekuasaannya.

Menurut informasi yang dihimpun di Beijing, Senin (8/12), pengadilan menilai kejahatan Gou sangat serius. Suap yang diterimanya sangat besar, dampak sosialnya sangat parah, dan kerugian terhadap negara serta kepentingan publik pun sangat signifikan.

“Gou terbukti menerima suap lebih dari 236 juta RMB (sekitar 33,38 juta dollar AS atau setara 556,68 miliar rupiah) antara 2009-2024, dan menggunakan jabatan untuk keuntungan bisnis dan persetujuan proyek kelompok tertentu,” demikian pernyataan Pengadilan Menengah Rakyat Yancheng di Provinsi Jiangsu.

Gou (68) yang menjabat Kepala Administrasi Umum Olahraga Tiongkok pada 2016-2022 juga dicabut hak politiknya seumur hidup, dan seluruh aset pribadinya disita.

Secara terpisah, pengadilan menjatuhkan hukuman lima tahun penjara karena penyalahgunaan kekuasaan pada 2012-2013 saat menjabat wakil wali kota Beijing. Dia terbukti merugikan aset publik dan kepentingan negara.

Pengadilan menggabungkan kedua hukuman tersebut, menjatuhkan hukuman mati yang ditangguhkan dua tahun, dan memerintahkan semua keuntungan serta bunganya dikembalikan ke kas negara. Gou mendapat keringanan karena mengaku bersalah, menyesali perbuatannya, mengungkap suap yang belum diketahui, dan mengembalikan keuntungan haram.

Di Tiongkok, hukuman mati yang ditangguhkan biasanya diubah menjadi penjara seumur hidup jika tidak ada kejahatan baru selama dua tahun percobaan, dan dapat dikurangi jika berperilaku baik.

Meski begitu, pengadilan menyatakan Gou tidak berhak mendapat pengurangan hukuman lebih lanjut karena beratnya pelanggaran, sehingga ia akan menjalani sisa hidupnya di penjara jika hukuman seumur hidup dijalankan.

Jabatan Dicopot

Gou berasal dari Gansu dan bergabung dengan Partai Komunis Tiongkok pada 1976. Dia menjadi wakil wali kota Beijing pada 2008 dan kepala Administrasi Umum Olahraga 2016-2022.

Dia juga menjabat ketua eksekutif Komite Penyelenggara Olimpiade dan Paralimpiade Musim Dingin Beijing 2022, serta ketua Komite Olimpiade Tiongkok, dan wakil ketua Komite Urusan Etnis dan Agama CPPCC. Gou diselidiki sejak Mei 2024 sebelum dikeluarkan dari PKC dan dicopot dari jabatan publik. Sidang publik mulai digelar 20 Agustus 2025.

Pada 2017, saat menjabat kepala Administrasi Olahraga, Gou melakukan intervensi kebijakan terkait pemain U23 Liga Super Tiongkok, serta memecat kepala pelatih tim tenis meja nasional Liu Guoliang, memicu pemogokan pemain.

Menurut laporan lama, hingga sekitar 2007 tercatat ada sekitar 4.800 pejabat Tiongkok dijatuhi hukuman mati karena korupsi.Dari sekumpulan data vonis antara 1980-an hingga awal 2000-an, dari 103 pejabat setingkat wakil menteri atau lebih diuji pengadilan, enam di antaranya dijatuhi hukuman mati.

Meski demikian, hukuman belum juga membuat jera para koruptor. Pada 2024, otoritas pengadilan Tiongkok menyelesaikan sekitar 30.000 kasus kejahatan jabatan yang meliputi suap, penyelewengan, korupsi publik. Angak itu meningkat 22,3 persen dari tahun sebelumnya.

Diantara kasus tersebut, ada kasus high-profile yang berujung hukuman mati. Salah satunya: Li Jianping, mantan pejabat senior di wilayah ekonomi–teknologi di Mongolia Dalam, dieksekusi mati pada 17 Desember 2024 setelah vonis korupsi besar 3 miliar yuan (sekitar 412 juta dollar AS atau setara 6,87 triliun rupiah). mad/Ant/berbagai sumber/E-10

  • xi jinping
  • china yuan

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.