Kemenkes Soroti Masih Tingginya Angka Kematian Bayi dan Balita di Indonesia
Kamis, 09 Okt 2025, 01:15 WIBJAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti tingginya angka kematian bayi dan balita di Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara Asean. Berdasarkan data Kemenkes, angka kematian bayi mencapai 16 per 1.000 kelahiran hidup bayi, sementara kematian balita berada pada angka 19 per 1.000 kelahiran hidup.
Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, Lovely Daisy menyampaikan angka kematian paling banyak terjadi pada usia bayi baru lahir, yakni 0â28 hari. Ia menjelaskan faktor penyebabnya antara lain kondisi kesehatan ibu selama kehamilan, penyakit penyerta, hingga komplikasi saat persalinan.
âHak pertama seorang anak adalah hak untuk hidup, jika hak hidupnya terpenuhi hak-hak lain mengikuti. Namun bila hak hidup terpenuhi, tentu hak lainnya tidak bisa kita penuhi, tentunya hak lainnya tidak bisa kita penuhi juga,â kata Lovely Daisy kepada wartawan di Kantor Kementerian PPPA, Rabu (8/10).
Lebih lanjut, Lovely menegaskan bahwa upaya penurunan angka kematian bayi dan balita terus menjadi prioritas utama. Program penguatan pelayanan kesehatan ibu dan anak serta peningkatan kualitas gizi terus dilakukan oleh pemerintah.
âSaat ini angka kematian bayi kita masih 16 per 1.000 kelahiran hidup, artinya dari seribu bayi lahir hidup, 16 di antaranya tidak akan mencapai usia satu tahun. Untuk balita, ada 19 anak dari setiap seribu kelahiran hidup yang tidak akan sampai usia lima tahun,â ucap dia.
Sementara, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menegaskan bahwa setiap pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan kualitas hidup anak di Indonesia terjamin. Hal ini disampaikan Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Pribudiarta Nur Sitepu.
âKita semua sebenarnya punya tugas untuk memastikan kualitas hidup anak bisa terpenuhi dengan baik dan terlindungi dari kekerasan. Kalau terjadi misalnya anak stunting, anak kecacingan, atau anak kekurangan makanan, maka pertama kita lihat subsistem perlindungan anaknya,â ucap Pribudiarta Nur Sitepu. ils/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Momen Tak Terlupakan Diaspora: Warga Indonesia di Tokyo Dapat Tanda Tangan Presiden Prabowo
-
Persija Jakarta Resmi Kontrak Shayne Pattynama 2,5 Tahun
-
Ketua Dewan Pers Tegaskan AI Wajib Bayar Royalti atas Penggunaan Karya Jurnalistik
-
Libur Lebaran, Pelabuhan Perikanan Tetap Jalan
-
Ahli Gizi Ingatkan: Jangan Abaikan Serat Saat Puasa, Risiko Sembelit Mengintai
-
Pemusnahan barang bukti narkotika di BNN Pusat
-
LG Hadirkan Varian Mesin Cuci AI Dengan Kapasitas Besar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.