Gubernur Kaltim: Pertamina Jangan Menyusahkan Para Ibu Rumah Tangga

Senin, 06 Okt 2025, 19:40 WIB

SAMARINDA – PT Pertamina Patra Niaga diingatkan untuk tidak membuat susah para ibu rumah tangga karena kesulitan mencari gas melon tiga kilogram. “Jangan menyulitkan ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil,” tandas Gubernur Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud, Senin. Dia minta PT Pertamina Patra Niaga segera mengambil langkah cepat menutupi kelangkaan gas LPG 3 kilogram (kg) atau gas melon di sejumlah daerah dengan memastikan distribusi berjalan lancar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Rudy Mas'ud di Samarinda, Senin, mengatakan gas melon menjadi kebutuhan utama rumah tangga dan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan saat ini sulit diperoleh di beberapa wilayah, termasuk Samarinda dan Balikpapan. Dengan adanya kelangkaan, telah memunculkan antrean panjang dan kenaikan harga di tingkat pengecer yang melebihi harga eceran tertinggi (HET).

Ket. Foto: antrean gas melon — Sumber: ist

“Saya sudah minta langsung ke Pertamina. Saya ingin masyarakat, khususnya ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil, tidak kesulitan mendapatkan gas untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Rudy Mas'ud saat menerima Executive GM PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Isfahani beserta jajaran di kantornya. 

Ia menegaskan Kaltim sebagai salah satu daerah penghasil energi nasional, seharusnya tidak mengalami kendala serius dalam distribusi energi bersubsidi. Dirinya meminta Pertamina menambah alokasi LPG 3 kg di daerah yang mengalami kelangkaan dan meningkatkan pengawasan distribusi agar tepat sasaran.

“Kami berharap Pertamina dapat memastikan penyaluran gas subsidi benar-benar diterima masyarakat yang berhak. Pemprov Kaltim akan terus bersinergi untuk mengawal distribusi agar berjalan baik,” katanya, menambahkan. 

Sementara itu, Executive GM PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Isfahani menuturkan, Pertamina berkomitmen untuk menjaga ketersediaan energi di Kaltim, baik LPG maupun bahan bakar minyak. “Pertamina terus berupaya memastikan suplai energi aman dan program strategis dapat berjalan mendukung ketahanan energi di wilayah Kaltim,” ujar dia. 

Timika Kelangkaan BBM

Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga juga dikeluhkan warga Timika, Papua Tengah. Masyarakat di Kota Timika, Papua Tengah, mengalami dobel susah. Pertama, susah mencari BBM di SPBU. Kalaupun ada, antrean sangat panjang. Kedua, karena langka di SPBU, harga di eceran selangit. Ini semua karena pembatasan BBM oleh Pertamina.

PT Pertamina Patra Niaga Rayon II Papua Tengah membatasi penyaluran sejumlah jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) ke lima Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) di Kota Timika. Hal ini jelas memicu antrean panjang kendaraan bermotor dalam beberapa hari terakhir.

Sales Branch Manager (SBM) Pertamina Rayon II Papua Tengah Junaedi Kala di Timika, Senin, mengatakan kelangkaan BBM terutama jenis Pertamax terjadi karena stok menipis di depo Jober (joint bersama) di kawasan Pelabuhan Pomako, Distrik Mimika Timur.

"Terkait kelangkaan saat ini untuk produk Pertamax karena stok menipis di Jobber. Hal ini akibat dari keterlambatan kedatangan kapal pengangkut BBM Pertamax karena cuaca yang tidak mendukung," kata Junaedi.

Dengan kondisi seperti itu, Pertamina memutuskan membatasi penyaluran BBM jenis Pertamax ke lima SPBU di Kota Timika. "Semoga hari Selasa besok kapalnya sudah bisa sandar dan bongkar di Jober Pelabuhan Pomako," kata Junaedi.

Sehubungan dengan itu, Pertamina minta konsumen membeli BBM jenis Pertamax yang masih tersedia di berbagai Pertashop di Timika. Namun, kenyataanya mereka juga sudah kehabisan stok. Penyaluran BBM jenis Pertalite dan Biosolar di Timika akan ditambah oleh Pertamina mulai Senin pagi.

"Kami naikkan volume penyaluran ke setiap SPBU melebihi penyaluran normal harian agar menjaga kestabilan stok," katanya. Dalam beberapa hari terakhir, antrean kendaraan terlihat sangat padat di sejumlah SPBU di Kota Timika. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh para pedagang eceran untuk meraup keuntungan.

Di sejumlah kios pengecer BBM, harga Pertalite yang biasanya dijual 20.000 per botol air kemasan mengalami kenaikan signifikan bahkan hingga mencapai 50.000 per botol air kemasan. "Ini sudah terjadi beberapa hari, susah sekali mencari Pertalite di Timika. Kalaupun ada yang jual, bisa sampai 50.000 per botol," kata salah satu warga yang ditemui di Jalan Yos Sudarso Timika saat mengantre BBM di SPBU setempat, Senin.

Saat ini terdapat lima SPBU yang beroperasi di Timika yaitu SPBU Kilometer 9 Jalan Poros Timika-Mapurujaya, SPBU Nawaripi, SPBU Jalan Hasanuddin, SPBU Jalan Yos Sudarso, dan SPBU SP2.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.