Pemerintah Kabupaten Probolinggo Perkuat Mitigasi agar Karhutla Bromo Tak Berulang

Rabu, 12 Agu 2026, 12:41 WIB

PROBOLINGGO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo memperkuat mitigasi agar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo tak berulang karena penyebab kebakaran diduga akibat ulah manusia.

"Karhutla Bromo merupakan persoalan yang berpotensi berulang, sehingga membutuhkan penanganan yang tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan," kata Bupati Probolinggo, Mohammad Haris, dalam keterangannya, Rabu (12/8).

Ket. Foto: Bupati Probolinggo, Mohammad Haris, saat berbincang dengan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat meninjau penanganan karhutla di kawasan Gunung Bromo, Selasa (11/8/2026). — Sumber: ANTARA

Ia menekankan pentingnya memperkuat mitigasi dan langkah pencegahan agar risiko karhutla dapat ditekan pada masa mendatang dan Pemkab Probolinggo menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan bekerja sama dalam penanganan karhutla di kawasan Bromo.

"Kebakaran itu merupakan persoalan yang berulang sehingga membutuhkan penanganan komprehensif dan berkelanjutan," katanya.

Pemkab Probolinggo memastikan akan terus mendukung koordinasi lintas sektor dalam penanganan karhutla sekaligus mendorong penguatan mitigasi untuk menjaga kawasan Bromo dan masyarakat di sekitarnya.

"Kami juga melakukan penguatan edukasi kepada masyarakat dan menerapkan sistem peringatan dini (early warning system) untuk mencegah terjadinya kembali kebakaran hutan dan lahan di Bromo," ujarnya.

Menurutnya, upaya pencegahan kebakaran di kawasan Gunung Bromo tidak cukup hanya menyasar wisatawan, namun masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi, termasuk masyarakat Tengger juga perlu mendapatkan edukasi secara berkelanjutan.

"Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian kawasan Bromo, terlebih saat kondisi cuaca panas dan kering disertai angin kencang, potensi kebakaran menjadi semakin tinggi,” tuturnya.

Total luas kawasan yang terdampak karhutla Gunung Bromo di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) hingga Selasa (11/8) mencapai sekitar 889 hektare yang tersebar di empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Malang dan Pasuruan.

Pemerintah juga berencana melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi tersebut dilakukan BNPB dengan berkoordinasi bersama BMKG sebagai upaya membantu membasahi wilayah terdampak sehingga proses pemadaman lebih efektif sekaligus mencegah api berkembang ke kawasan lain.

Sebelumnya kasus karhutla di Gunung Bromo akibat flare terjadi pada 6 September 2023 di Bukit Teletubbies (Savana Lembah Watangan) akibat aktivitas foto prewedding tanpa izin yang menggunakan suar hingga menyebabkan 989 hektare kawasan TNBTS terbakar dan kasus tersebut sudah diproses hukum.

  • Pemkab Probolinggo
  • Karhutla Bromo

Redaktur: Bambang Wijanarko

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.