Prof. Brian Yuliarto: Di Balik Industri Kuat, Selalu Ada Kampus Hebat
Senin, 29 Sep 2025, 10:44 WIBNarasi Menteri Pendidikan, Riset, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto dalam kuliahnya di ITS, seakan menyalakan jalan baru pendidikan tinggi, dan menginspirasi dunia kampus.
âDi negara dengan ekonomi bagus, selalu ada industri kuat. Di belakang industri kuat, selalu ada kampus hebat," demikian pernyataan Prof. Brian.
Kalimat ini bukan sekadar pernyataan, melainkan cermin yang memaksa kita menatap wajah bangsa ini, dan bertanya: apakah kita cukup ambisius untuk menjadi hebat?
Mentalitas âJam Lima Soreâ.
âBagaimana mau mengejar target itu, jika mentalitas kita masih sebatas mentalitas jam lima sore?â Ini bukan sekadar sindiran, melainkan diagnosis atas penyakit kronis yang menggerogoti dunia akademik dan intelektual kita.
Ia membandingkan dengan Korea Selatan, di mana mahasiswa masih bergelut di laboratorium hingga jam sembilan malam, berdebat dengan dosen demi temuan baru. Sementara itu, di sini, apa yang kita lakukan? Banyak dari kita, termasuk anak muda, terjebak dalam zona nyaman: scrolling media sosial, bermain game online, atau terpaku di depan televisi.
Ini bukan soal menyalahkan hiburan. Hiburan adalah hak setiap individu. Namun, ini soal urgensi. Soal kegilaan untuk maju.
Bangsa yang besar, harus ditopang oleh kaum elite yang ambisius dan âgila kerjaâ. Siapa elite itu? Mahasiswa, dosen, dan guru besar. Mereka adalah motor penggerak inovasi, pendorong roda industri, dan penentu arah masa depan.
Namun, realitanya? Dunia kampus kerap terjebak dalam paradigma lama. Dosen sibuk mengejar kutipan di jurnal Scopus, menumpuk penelitian yang berakhir sebagai dokumen berdebu di perpustakaan. Mahasiswa, sebagian besar masih melihat kuliah sebagai formalitas meraih gelar, bukan ladang mengasah ambisi dan kreativitas.
Ini adalah mentalitas âjam lima soreâ: bekerja sekadarnya, pulang tepat waktu, menghindari tantangan besar.
Redefinisi dosen
Perlu definisi baru tentang dosen: bukan sekadar akademisi yang diukur dari jumlah publikasi, tetapi inovator yang mampu menghasilkan royalti dari penelitiannya. Ini adalah pergeseran paradigma yang radikal.
Penelitian harus âmembumiâ, relevan dengan kebutuhan industri, mampu menjawab permasalahan publik, dan menghasilkan dampak nyata ekonomi. Ketika riset laku, dosen dan kampus mendapat pemasukan, industri mendapat solusi, dan negara melaju menuju kemajuan. Ini adalah simbiosis mutualisme yang ideal.
Namun, mencapai titik ini tidaklah sederhana. Dosen tidak bisa bekerja sendirian. Di sinilah peran strategis Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pusat Penelitian menjadi krusial. Kantor mereka seharusnya bukan di dalam kampus, melainkan di luar: di kawasan industri, di ruang rapat Kadin, di lobi kementerian.
Mereka adalah duta besar kampus, yang bertugas menjemput peluang, menciptakan kolaborasi, dan memasarkan produk riset ke dunia nyata.
Pernyataan ini mengingatkan pandangan Prof. Michael Porter, pakar strategi bisnis dari Harvard, yang menegaskan bahwa inovasi tidak terjadi dalam isolasi. Dalam bukunya Competitive Advantage of Nations (1990), Porter menyoroti pentingnya klaster inovasiâkolaborasi erat antara universitas, industri, dan pemerintah.
Korea Selatan misalnya, Universitas seperti KAIST dan Seoul National University bekerja sama dengan raksasa industri seperti Samsung dan Hyundai, menghasilkan ekosistem inovasi yang mendorong ekonomi nasional.
Di Indonesia, kolaborasi semacam ini masih sporadis, terhambat oleh birokrasi, kurang keberanian, dan terjebak mentalitas âjam lima sore.â
Tantangan sistemik dan solusi struktural
Untuk mewujudkan visi tersebut, kita perlu mengatasi sejumlah tantangan sistemik.
Pertama, sistem insentif di kampus harus dirombak. Saat ini, dosen dinilai berdasarkan jumlah publikasi atau indeks kutipan, bukan dampak nyata penelitiannya. Sistem ini mendorong âproduksi jurnalâ demi angka, bukan solusi.
Kita perlu mengadopsi model seperti di Jerman, di mana Fraunhofer Society mengelola jaringan penelitian terapan yang langsung terhubung dengan industri. Dosen di sana didorong untuk menghasilkan paten dan produk yang marketable, bukan hanya makalah.
Kedua, peran Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pusat Penelitian harus didefinisikan ulang sebagai âpanglima perangâ di medan industri. Mereka harus dilatih untuk bernegosiasi, memahami kebutuhan pasar, dan membangun jaringan strategis. Ini bukan tugas mudah, mengingat budaya akademik kita cenderung introvert dan terpaku pada rutinitas kampus.
Ketiga, mahasiswa harus dididik untuk menjadi agen perubahan, bukan sekadar pengejar nilai. Kurikulum harus diarahkan pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kewirausahaan. Program magang di industri, proyek riset kolaboratif, dan inkubator startup di kampus bisa menjadi langkah awal.
Menuju âJam Sembilan Malamâ
Kemajuan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari kerja keras, ambisi, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Mentalitas âjam lima soreâ adalah jalan yang nyaman tapi buntu. Sebaliknya, jalan âjam sembilan malamâ penuh tantangan, namun di ujungnya ada tujuan besar: bangsa yang inovatif, industri yang kuat, dan ekonomi yang tangguh.
Sebagai dosen, harusnya merenung: apa peran saya dalam ekosistem ini? Apakah saya cukup âgilaâ untuk mendorong mahasiswa keluar dari zona nyaman mereka? Apakah riset saya relevan dengan kebutuhan masyarakat? Dan sebagai bangsa, kita perlu bertanya: apakah kita siap mengorbankan kenyamanan demi ambisi?
Seperti kata Thomas Edison, âGenius is one percent inspiration and ninety-nine percent perspiration.â Kemajuan tidak datang dari mimpi, tetapi dari keringat dan kegigihan.
Untuk mewujudkan visi besar, kita perlu langkah kolektif: dosen harus berinovasi, mahasiswa harus bermimpi besar, dan kampus harus menjadi jembatan menuju dunia nyata.
Pemerintah juga harus berperan dengan menciptakan kebijakan yang mendukung kolaborasi kampus-industri, seperti insentif pajak untuk perusahaan yang mendanai riset universitas.
Pandangan Prof. Brian bukan sekadar kritik, melainkan seruan untuk bergerak. Ia mengajak kita beralih dari mentalitas âjam lima soreâ menuju semangat âjam sembilan malamâ, semangat yang telah membawa Korea Selatan, dan banyak negara maju lainnya, ke puncak inovasi.
Pertanyaannya, maukah kita mengambil jalan terjal itu? Atau kita akan terus berjalan santai, puas dengan kenyamanan yang pada akhirnya hanya akan membawa kita pada stagnasi?
*) Dr. Eko Wahyuanto, Dosen Sekolah Tinggi Multimedia ST-MMTC Komdigi Yogyakarta.
- Menteri Pendidikan, Riset, dan Teknologi
Redaktur: Yebdi
Penulis: Tim Koran Jakarta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.