Geotermal Indonesia Kaya, Tapi Pemanfaatannya Bikin Geleng-Geleng: Sumber Energi Bersih yang Terlantar

Senin, 29 Sep 2025, 00:00 WIB

JAKARTA – Pemanfaatan energi panas bumi nasional jalan di tempat. Hingga kini, kapasitas terpasang dari pembangkit listrik tenaga geothermal baru sekitar 10 persen dari total energi panas bumi nasional sekitar 23,7 giga watt (GW).

Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Dony Maryadi Oekon menegaskan pemanfaatan energi panas bumi perlu dipacu sebagai sumber energi bersih masa depan Indonesia. Dia menyoroti cadangan geothermal Indonesia menjadi terbesar di dunia, yakni sekitar 40 persen dari total global.

Ket. Foto: Pengembangan EBT - Cadangan “Geothermal” RI sekitar 23.000 MW, Baru Dimanfaatkan 10% — Sumber: afp

“Memang reserve (cadangan) geotermal kita cukup tinggi. Dan ini memang bisa digunakan menjadi batch load PLN. Jadi, memang proses pengerjaannya butuh waktu. Tetapi, ngapain kita tunggu-tunggu. Jadi, sekarang kita jalankan saja. Dan ini baru kurang lebih sekitar 10,3 persen, yang baru terserap dari semua yang ada. Jadi, makanya ini kita tekan dengan ini. Dan ini juga energinya, energi yang bersih. Jadi memang ini harus kita genjot,” kata Dony Maryadi Oekon dikutip dari laman resmi DPR RI, Minggu (28/9).

Legislator Dapil Jawa Barat ini menegaskan bahwa Indonesia memiliki banyak gunung berapi aktif yang menjadi sumber panas bumi melimpah. Energi tersebut dapat menjadi base load bagi PLN, sekaligus mendukung transisi menuju energi ramah lingkungan.

Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari mengatakan, Indonesia memiliki cadangan geothermal sekitar 23.000 megawatt (MW) namun baru 10 persen yang dimanfaatkan. Padahal, pemanfaatan energi panas bumi ini berpotensi besar mendukung target pemerintah mencapai 100 persen bauran energi pada 2030, sebagaimana komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR, 15 Agustus lalu.

“Terutama di daerah-daerah yang memiliki resources dari geothermal ini supaya mereka mengetahui bahwa sebenarnya kalau dengan tata kelola yang baik, geothermal ini adalah salah satu alternatif renewable energy yang sangat mumpuni, sangat mungkin untuk bisa dikembangkan di Indonesia,” jelasnya.

Ratna menegaskan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang di Jawa Barat layak dijadikan role model dalam pengembangan energi terbarukan, khususnya geothermal.

Lebih lanjut, Legislator Dapil menekankan komitmen DPR RI dalam mendukung kebijakan energi bersih. Menurutnya, selain UU Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi, DPR telah menyelesaikan Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Energi Terbarukan (RUU EBT) yang tinggal menunggu pengesahan.

“Komitmen kami jelas. Kami akan berupaya untuk mendorong segera disahkannya Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Energi Terbarukan (RUU EBT). Karena itu, sudah selesai komplit dan hanya menunggu pengesahan saja. Dan kami juga akan mendukung segala bentuk support regulasi yang dibutuhkan untuk pengembangan ekosistem renewable energy yang ada di Indonesia,” pungkas Ratna.

Hilangkan Hambatan

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadaliadalam acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition, Rabu (17/9), menyebut geothermal menjadi energi masa depan yang selaras dengan tren global menuju industri dan energi yang ramah lingkungan. Masyarakat dunia khususnya generasi muda terangnya, semakin peduli terhadap isu energi bersih.

Namun, pengelolaan geothermal di Indonesia menghadapi beberapa tantangan utama.

"Disamping memang pembiayaannya cukup memberikan perhatian capex-nya. Kemudian juga adalah harus saya akui, ketika saya masuk jadi Menteri ESDM, peraturannya macam-macam. Dan salah satu investor itu tidak suka adalah aturan yang berbelit-belit. semakin berbelit aturan, semakin tidak disukai oleh investor," ungkapnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.