Cegah Keracunan, Zulhas Minta Semua Dapur MBG Miliki SLHS
Minggu, 28 Sep 2025, 17:45 WIBJakarta - Menteri Koordinator bidang Pangan Zulkifli Hasan mewajibkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pengelola dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki sertifikat laik higienis dan sanitasi (SLHS) untuk mencegah terulangnya insiden keracunan MBG.
âHarus atau wajib hukumnya. Setiap SPPG harus punya SLHS. Harus,â ucap Zulhas, sapaan akrab Zulkifli Hasan, dalam Konferensi Pers Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada Program Prioritas Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Minggu (29/8).
Zulhas menyampaikan bahwa sertifikat laik, higienis, dan sanitasi (SLHS) memang merupakan syarat dari SPPG.
Akan tetapi, setelah maraknya kejadian keracunan makan bergizi gratis, pemerintah pun memutuskan untuk mewajibkan SPPG mengurus sertifikasi tersebut.
âAkan dicek. Kalau tidak ada, ini (keracunan) akan kejadian lagi dan lagi,â kata Zulhas.
Ia kembali menegaskan bahwa keselamatan anak-anak penerima MBG merupakan prioritas utama, sehingga SPPG wajib memiliki sertifikasi tersebut.
Ia pun meminta kepada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk mengoptimalkan puskemas di seluruh tanah air agar secara aktif ikut memantau SPPG secara rutin.
âSemua langkah diambil secara terbuka agar masyarakat yakin bahwa makanan yang disajikan aman dan bergizi bagi seluruh anak Indonesia,â tutur Zulhas.
Badan Gizi Nasional (BGN) pada sesi jumpa pers di Jakarta, Jumat (26/9), mengumumkan sepanjang periode Januari hingga September 2025, tercatat 70 insiden keamanan pangan, termasuk insiden keracunan, dan 5.914 penerima MBG pun terdampak.
Dari 70 kasus itu, sembilan kasus dengan 1.307 korban ditemukan di wilayah I Sumatera, termasuk di Kabupaten Lebong, Bengkulu, dan Kota Bandar Lampung, Lampung.
Kemudian, di wilayah II Pulau Jawa, ada 41 kasus dengan 3.610 penerima MBG yang terdampak, dan di wilayah III di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara ada 20 kasus dengan 997 penerima MBG yang terdampak.
Dari 70 kasus keracunan itu, penyebab utamanya ada kandungan beberapa jenis bakteri yang ditemukan, yaitu e-coli pada air, nasi, tahu, dan ayam.
Kemudian, staphylococcus aureus pada tempe dan bakso, salmonella pada ayam, telur, dan sayur, bacillus cereus pada menu mie, dan coliform, PB, klebsiella, proteus dari air yang terkontaminasi.
- Program MBG
Redaktur: Andreas Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Anggota DPRD Banten Desak Program MBG Dievaluasi Menyeluruh karena Tak Sesuai Standar Kesehatan dan Gizi
-
Program MBG Punya Command Center Nasional, Launching Mei 2026
-
Kejutan Besar, 11 Debutan Indonesia Siap Guncang All England 2026, Siapa Saja Penghancur Raksasa?
-
BGN Perkuat Kerja Sama dengan ASEAN, Bagikan Pengalaman dan Praktik Terbaik MBG
-
Dua Gempa Beruntun Goyang Sumbar dan Sumut, BMKG: Tidak Picu Tsunami
-
Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Tegaskan Komitmen Reformasi Birokrasi Lewat Pembangunan Zona Integritas
-
BGN Tegaskan Program MBG Utamakan Ibu Hamil, Balita, dan Ibu Menyusui Bukan Hanya Siswa
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.