Percepatan Transisi Rendah Karbon pada Sektor Bangunan di Indonesia Melalui Pedoman Pengadaan Hijau
Jumat, 26 Sep 2025, 20:50 WIBJAKARTA - Sektor bangunan di Indonesia saat ini menyumbang sebesar 33% emisi gas rumah kaca yang tidak ramah lingkungan. Dari angka tersebut penggunaan pendingin ruangan sebagai salah satu penyumbang terbesar.
ASEAN Centre for Energy (ACE), Global Green Growth Institute (GGGI), dan HEAT International melalui Proyek Asia Low-Carbon Buildings Transition (ALCBT), bekerja sama dengan ASHRAE Indonesia Chapter, dengan bantuan dari International Climate Initiative (IKI), terus mempercepat transisi menuju bangunan rendah karbon di Asia Tenggara dan Indonesia melalui langkah-langkah efisiensi energi.
Pada rangkaian dialog yang diselenggarakan dalam Refrigeration & HVAC Indonesia Expo 2025 di Jakarta International Expo pada 24â26 September, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyampaikan komitmen pemerintah untuk mencapai target kinerja efisiensi sumber daya pada bangunan yang dikelola oleh pemerintah maupun sektor swasta.
âSektor bangunan merupakan salah satu kontributor terbesar emisi di Indonesia. Hal ini menjadi perhatian serius bagi Pemerintah dalam mendorong berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung upaya pengurangan emisi. Untuk mempercepat upaya ini, Pemerintah mendorong keterlibatan pemangku kepentingan melalui program peningkatan kapasitas serta mendukung pemerintah daerah dalam penerapan dan sertifikasi bangunan hijau,â ujar Wakil Menteri Pekerjaan Umum Ir. Diana Kusumastuti, M.T., melalui keterangannya pada hari Jumat (26/9).
Acara yang diselenggarakan bersama oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian PUPR ini menghadirkan 300 peserta. Mereka terdiri dari para pemangku kepentingan utama sektor bangunan, termasuk pemerintah, pemilik bangunan, lembaga pembiayaan, serta produsen pemanas, ventilasi, dan pendingin udara (HVAC), untuk membahas upaya dan kemajuan Indonesia menuju masa depan bangunan berkelanjutan dan rendah karbon.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Prof. Dr. Eng. Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa efisiensi energi merupakan langkah strategis dan hemat biaya untuk mempercepat transisi energi sekaligus mendukung target Net Zero Emission Indonesia.
âEfisiensi energi dapat berkontribusi menurunkan hingga 37% emisi nasional, sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui penghematan tagihan listrik dan penggunaan teknologi yang lebih cerdas,â ujarnya.
Ia menekankan peran penting Pedoman Pengadaan Hijau (Green Public Procurement/GPP) dalam mendorong adopsi AC hemat energi di Indonesia. Caranya dengan memasukkan kriteria efisiensi dalam kebijakan pengadaan, dan memastikan produk hemat energi tersedia di e-katalog.
âDengan memasukkan kriteria efisiensi dalam kebijakan pengadaan, dan memastikan produk hemat energi tersedia di e-katalog nasional, kita tidak hanya mengirim sinyal kuat ke pasar, tetapi juga membantu masyarakat memperoleh akses yang lebih mudah terhadap teknologi hijau,â tambahnya.
Konsumsi energi di sektor bangunan di ASEAN dan Indonesia terutama dipicu oleh penggunaan pendingin udara akibat iklim tropis dan tingkat kelembapan. Pada acara ini, ACE memperkenalkan GPP untuk pendingin udara hemat energi guna memperkuat permintaan pasar terhadap solusi pendinginan yang efisien di Indonesia.
Direktur Eksekutif ACE, Datoâ Ir. Ts. Razib Dawood, menyatakan GPP adalah inisiatif yang efektif untuk mendorong transisi rendah karbon di Asia Tenggara. Dengan memasukkan efisiensi dalam keputusan pengadaan barang dan jasa pemerintah terutama untuk pendingin udara yang menyumbang porsi terbesar konsumsi energi bangunanpemerintah dapat memberi teladan.
âPendekatan ini tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga memberi sinyal pasar untuk berinovasi, mendorong produsen dan pemasok di kawasan untuk memprioritaskan efisiensi dan keberlanjutan dalam produk mereka,â ujar dia.
Rowan Fraser, Perwakilan GGGI untuk Indonesia menuturkan proyek ALCBT bertujuan memanfaatkan momentum dari dialog ini untuk merumuskan rekomendasi kebijakan utama bagi Pemerintah Indonesia.
âMulai dari menilai teknologi pendinginan terbaik yang tersedia hingga mengidentifikasi kebijakan pendukung, upaya ini ditujukan untuk memperkuat efisiensi energi di sektor bangunan melalui pendekatan inovatif untuk menurunkan emisi,â kata
Hal lain yang tidak kalah penting adalah integrasi alat penilaian siklus hidup karbon dalam pengembangan kebijakan, desain bangunan, dan pemilihan peralatan. Melalui sesi peningkatan kapasitas mengenai Building Emissions Assessment Tool (BEAT) serta pelatihan refrigeran alami yang dipandu oleh HEAT International.
Program BEAT tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran sekaligus membangun kapasitas teknis pemangku kepentingan dalam mengukur, mengelola, dan mengurangi emisi sepanjang siklus hidup bangunan. Ke depan, ACE bersama Konsorsium ALCBT tetap berkomitmen mendukung Indonesia dan ASEAN dalam transisi menuju lingkungan binaan yang berkelanjutan, guna mencapai target iklim dan pembangunan berkelanjutan.
- emisi karbon
- Pedoman Pengadaan Hijau (Green Public Procurement/GPP)
- Asia Low-Carbon Buildings Transition (ALCBT)
- transisi rendah karbon
- sektor bangunan
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Kolaborasi Kurangi Emisi, Tanam 20.000 Bibit Mangrove di KBA Rammang Rammang Maros
-
Kebiasaan Buruk PLN Biarkan Listrik Mati Mendadak Banyak Mencelakakan Orang. Banyak Terjebak di Lift
-
Kejar Target NZE 2060, PGN Kebut Penurunan Emisi Karbon
-
Islandia Bidik Jadi Anggota UE, Referendum Digelar Agustus 2026
-
Mapala Banten Kritik Darurat Sampah lewat Bendera di TPA Bangkonol
-
Langkah Strategis! Bank Mandiri Siapkan Buyback Rp1,17 Triliun dengan Kalkulasi Matang
-
Transaksi Digital Hasilkan 0,14 Gram Emisi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.